"Mbak, tadi saya lihat teman kamu yang dulu sering main ke rumah waktu kita di Amerika," kata Pak Mo tiba-tiba, memecah keheningan di perjalanan pulang.
"Pasti teman Mbak Ai cewek, ya, Pak? Makanya Pak Mo ingat," ledek Dira sambil terkikik.
"Kamu ini, ya, suka banget ngomong asal tebak," balas Pak Mo, pura-pura kesal.
"Temanku yang mana, ya, Pak? Deket nggak sama aku?" tanya Ai sambil mengernyitkan dahi, mencoba mengingat.
"Seingat saya sih, deket banget, Mbak," jawab Pak Mo yakin.
"Itu loh, Mbak, yang dulu bantu Mbak Ai sampai bisa berhenti merokok. Padahal Bapak sudah angkat tangan soal itu," tambah Pak Mo.
"Oh, iya, aku inget," sahut Pak Toha sambil menepuk dahinya. "Tapi lupa namanya," lanjutnya.
"Mbak Ai dulu sempat merokok?" tanya Dira, matanya membulat tak percaya.
"Bahkan masa remaja saya di Indonesia nggak selalu baik, apalagi saat di Amerika," jawab Ai santai, seolah tak ingin memperpanjang pembicaraan.
"Siapa ya, Ai? Namanya di ujung lidah, tapi lupa," gumam Pak Toha, masih mencoba mengingat.
"Eh, Dir, kamu jadi mampir ke supermarket?" potong Ai, mengalihkan pembicaraan.
"Jadi, Mbak. Mau belanja bahan buat menu sarapan Mbak Ai besok," jawab Dira.
"Ok. Sudah konsen lagi, habis video call-an?" ledek Ai sambil tersenyum kecil. Dira hanya tertawa malu.
Tak lama kemudian, mereka sampai di sebuah supermarket yang tak jauh dari rumah. Ai dan Dira turun untuk berbelanja.
"Dir, kamu belanja aja, saya mau ke toilet. Oh iya, sekalian carikan dark cocoa powder, ya," pinta Ai sambil menyerahkan daftar kecil ke Dira.
"Ok, Mbak," jawab Dira sigap.
"Oh, iya, yang sugar free, ya," tambah Ai, memastikan.
"Siap," balas Dira dengan senyum kecil sebelum melangkah masuk.
Sementara itu, Ai menuju toilet, mencoba menetralisir perasaannya yang tiba-tiba terasa tak nyaman. Kata-kata Pak Mo terus terngiang-ngiang di kepalanya. Sebuah nama mulai muncul dari ingatan lamanya, nama yang selama ini ia coba lupakan.
Di toilet, Ai menatap cermin. Wajahnya terlihat lebih tenang dari apa yang dirasakan hatinya. Tapi di balik ketenangan itu, sebuah kenangan mengalir deras. Teman yang pernah mengajarinya banyak hal, yang membantu dia menemukan sisi dirinya yang selama ini tersembunyi. Teman yang bukan hanya membangun mimpi bersamanya, tapi juga menjadi alasan kenapa Ai harus pergi—untuk melanjutkan perjalanan menemukan dirinya sendiri.
Ai menghela napas panjang. "Harusnya kita bisa tetap berteman," gumamnya pelan. "Tanpa harus ada rasa yang membuat semua jadi rumit."
Lamunannya terhenti ketika telepon dari Dira masuk. Ai segera merapikan diri dan kembali ke mobil, menyembunyikan jejak perasaannya di balik senyum tipis.
"Sudah dapat semuanya?" tanya Ai ketika Dira kembali.
"Sudah, Mbak. Termasuk dark cocoa-nya," jawab Dira sambil menyodorkan kantong belanja.
"Bagus," balas Ai singkat. Mobil pun melaju meninggalkan supermarket, tapi pikiran Ai masih tertinggal di sana—di antara bayangan kenangan lama yang tiba-tiba hadir tanpa diundang.
***
Usai shalat Isya, Dira melanjutkan dengan beberapa salat sunnah yang telah lama menjadi rutinitasnya. Ia menunaikan salat tasbih empat rakaat dua salam dengan khusyuk, lalu disambung dengan salat witir sebelas rakaat, enam kali salam. Setelah menyelesaikan ibadah malam itu, ia merasa damai dan tenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Ruang
RomanceAisha Kartika, CEO perusahaan interior Garis Ruang, memimpin proyek pembangunan hotel di Jeddah, Saudi Arabia, di mana lukisan Azura, sahabat sekaligus cinta yang pernah ia tinggalkan, menjadi bagian dari desainnya. Pertemuan ini menggugah kembali p...
