Merindu & Manetap.

689 54 2
                                        

Malam itu, usai salat Isya, Ai duduk santai di ruang keluarga sambil menerima panggilan video dari mamanya. Wajah mamanya terlihat sedikit kesal di layar.

"Ai, kenapa kamu nggak menghubungi Mama selama sakit?" omel mamanya langsung.

"Kok Mama tahu Ai sakit?" tanya Ai, sedikit heran.

"Ya tahu lah! Papa kamu yang telepon Mama. Dia bilang supaya Mama nggak khawatir. Mana bisa, sayang!"

Ai tersenyum tipis. "Iya. Maaf ya, Ma."

"Terus, kapan kamu pulang? Apa Mama harus nyusulin ke sana?" tanya mamanya lagi, kali ini nadanya sedikit melembut.

"Beneran, Ma? Ai sih seneng kalau Papa sama Mama datang ke sini. Kita bisa umroh bareng."

"Nggak ada rencana tahun ini," jawab mamanya, cepat mengelak. "Jadi kapan kamu pulang?"

"Beberapa hari lagi, Ma. Tapi Ai harus urus kerjaan di Jakarta juga. Kontrak kerja sama di sini diperbesar jangkauannya, jadi nanti ada kemungkinan Ai mondar-mandir Jakarta-Jeddah setiap bulan."

Mamanya mengangguk. "Eh, Nak, asisten kamu, si Dira, masih betah, kan, kerja sama kamu?"

"Masih, Ma," jawab Ai santai. "Di sini juga ada Azura."

Mamanya terdiam sejenak. "Azura? Kayaknya Mama nggak asing sama nama itu... Tapi siapa ya?" tanyanya, lebih kepada dirinya sendiri.

Ai tertegun. Ia lupa kalau mamanya tahu sesuatu yang rahasia tentang Azura, sesuatu yang seharusnya tidak disebut-sebut lagi.

"Oh," Ai cepat-cepat menyadari kecerobohannya. "Dia rekan kerja Ai di sini, Ma. Teman baru," lanjutnya, mencoba menutupi kegugupan.

"Ow, gitu ya..."

"Ya sudah, besok Ai telepon lagi, ya. I love you, Ma. Assalamualaikum."

"I love you more. Waalaikum salam."

Sementara itu, di kamarnya, Dira sibuk berkirim pesan dengan suaminya, Hikam. Malam itu, seperti biasa, ia mencurahkan segala unek-uneknya tentang pekerjaan.

"Selesai proyek Saudi ini sepertinya aku mau resign aja, deh, Mas," tulis Dira.

"Kamu yakin? Dari semua pekerjaan sebelumnya, kerjaan ini yang paling bagus," balas Hikam.

"Iya sih. Tapi kerja sama Mbak Ai itu kayak naik roller coaster setiap hari. Sebentar naik, tiba-tiba turun kebanting. Emang nasib orang kecil kali ya, Mas!"

"Jangan begitu, Yang. Kalau ada salah paham, mending kamu tanya langsung. Kata kamu, Mbak Ai itu udah kayak teman atau malah sahabat."

"Kok kamu juga jadi nganggap aku kayak anak kecil, sih! Emangnya Mas Hikam nggak suka kalau aku bantu bisnis kamu? Jadi kamu nggak perlu dibantu perempuan lain yang bisa aja macam-macam sama kamu."

Hikam menahan napas, mencoba tetap tenang. "Dira, plis, jangan mulai lagi. Kita bahas ini saat kamu udah pulang, ya."

"Tuh kan, berarti emang ada apa-apa! Kok harus nunggu pulang, sih?"

Pesan itu dibiarkan tak terbalas oleh Hikam. Lima menit berlalu, membuat Dira semakin gelisah. Lalu ponselnya berbunyi, tanda ada pesan masuk.

"Dira... Aku suka cara kamu cemburu. Terima kasih sudah mencintaiku dengan cara itu. Aku sangat merindukanmu. Sampai jumpa di pelukanku lagi."

Setelah membaca pesan itu, status Hikam langsung berubah menjadi offline. Dira tersenyum kecil. Ia membalas singkat, "I love you..."

Pukul 19.05. Dira sadar sudah waktunya menyiapkan obat dan makan malam untuk Ai. Saat keluar ke dapur, ia mendapati Pak Mo sudah menyiapkan semuanya.

Garis RuangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang