Sebuah Keputusan

3.8K 182 16
                                        

    Maaf ya teman-teman... kalau jadi bingung karena judulnya berubah. Dikarenakan ada satu dan lain hal, terkait naskah dengan judul yang lama, jadi akhirnya harus diganti, dan dilakukan penyuntingan ulang terhadap naskah ini.
Selamat Membaca...
____________________________
Seorang perempuan tampak  keluar rumah dengan mengenakan pakaian olahraga lengkap dan hijab olahraga dari brand lokal. Di luar, seorang pria sudah menunggu. 

"Nunggu lama, ya?" tanyanya sambil menyesuaikan tas kecil di pundaknya. 

"Nggak kok, aku juga baru datang," balas pria itu santai. 

"Yuk, kita jalan." 

Perempuan itu adalah Aishah Kartika, desainer interior berusia 38 tahun sekaligus CEO dari Garis Ruang, perusahaan yang dibangun ayahnya. Pagi itu, ia berencana menghadiri Grand Opening sebuah hotel yang menggunakan jasa desainnya. Karena lokasinya tak terlalu jauh, ia memutuskan pergi sambil lari pagi, kebiasaan yang rutin ia lakukan. 

"Asistennya siap, nih. Kamu gimana? Sudah beres pidatonya?" tanya pria yang menemaninya, Janu, sepupu sekaligus sahabatnya sejak kecil. 

"Siap nggak siap, sih," jawab Ai dengan ragu. "Aku masih mikir, emang perlu ya desainer interior pidato segala?" 

"Mungkin pihak hotel puas banget sama hasil kerja tim kamu," sahut Janu, tersenyum jahil. "Atau... kamu nervous karena pemiliknya mantan tunangan kamu?" 

"Nu, ember banget deh," Ai menukas, berusaha santai meski wajahnya memerah. 

Janu tertawa kecil. Sebagai sepupu sekaligus partner kerja, hubungan mereka sudah seperti saudara kandung. Setelah lulus kuliah, Janu bergabung di Garis Ruang untuk membantu Ai, dan sejak itu mereka tak hanya rekan kerja, tetapi juga tim solid yang saling mendukung. 

"Eh, ngomong-ngomong, istrimu kok nggak ikut?" tanya Ai, mencoba mengalihkan topik. 

"Lita sakit. Dia lagi diet seminggu ini, mungkin ada yang salah," jawab Janu, menghela napas. 

"Makanya jangan bikin istri insecure, Nu. Itu Lita pasti diet gara-gara suaminya suka lirik yang bening-bening," ujar Ai mengomel. 

Janu tertawa kecil, tetapi memilih tidak menanggapi lebih jauh. Mereka melanjutkan obrolan santai sambil berlari menuju hotel. Setibanya di sana, Ai langsung menuju toilet untuk bersiap-siap. Ia mengganti pakaian olahraga dengan dress abu misty tua berbahan katun silk, dipadukan jilbab bermotif abstrak modern. Penampilannya disempurnakan oleh aksesori minimalis dan sepatu custom-made lokal. 

Di acara itu, Ai memberikan pidato singkat yang menyoroti pentingnya kreativitas dalam desain interior. Meskipun canggung di awal, ia berhasil menyampaikan pesannya dengan percaya diri. Setelah pidato, ia bertemu dengan Budi, CEO hotel sekaligus mantan tunangannya. 

"Terima kasih sudah datang, Ai," sapa Budi. 

"Sama-sama," balas Ai singkat. 

Mereka bertukar basa-basi hingga seorang wanita menghampiri mereka—istri Budi, Seli. Setelah perkenalan singkat, Seli pamit untuk mengurus anak-anaknya. Janu, yang berdiri di samping Ai, segera berkomentar dengan nada menggoda. 

"Dia udah punya anak, tuh. Gimana kabar, mantan?" 

"Baik, lah. Menurut kamu?" balas Ai, tersenyum tipis. 

Setelah acara selesai, Ai berpamitan dan kembali ke toilet. Di sana, ia mendengar suara seorang pria yang sedang memarahi seorang wanita. 

"You're fired!" suara itu menggema di lorong. 

"No, it's not my fault!" balas suara wanita, terdengar memelas. Beberapa saat kemudian, wanita itu masuk ke toilet dengan wajah lelah. 

"Maaf, Mbak. Sabunnya habis," kata Ai, meminta tolong. 

Garis RuangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang