What Is Love? || 05. Belum Siap

4.8K 431 39
                                        

"Makan malam aja ribetnya kayak mau lamaran."

Revika menatap Kakak termudanya ingin menegur namun kepalanya juga mengiyakan ucapan sang Kakak. Untuk sekedar makan malam dua keluarga, persiapan kedua ibu mereka terlalu berlebihan. Sama berlebihannnya saat menyiapkan pesta pernikahan milik Regan dan Clara. Padahal pengantin wanita sudah mengatakan ingin pesta sederhana. Namun makna sederhana bagi keluarga Wiratama ternyata berbeda.

Biasanya Farah dan Alina menyiapkan makanan sendiri namun kali ini memanggil koki untuk menyiapkan hidangan makan malam. Para pelayan juga sibuk kesana kemari menyiapkan meja makan hingga berubah seperti di restoran mewah atas arahan dari Farah juga Alina. Untuk sekedar makan malam, ini terlalu berlebihan bukan?

"Bang Galih belum pulang?" tanya Gava yang sudah menggiring adiknya berpindah ke ruang keluarga.

"Belum. Sama Kak Lena mungkin."

"Yang mau nikah mah beda."

Sekilas Revika melirik Kakaknya kemudian gadis itu mengambil remot yang terletak di meja kemudian menyalakan tv. Hari sudah mulai petang namun saudaranya yang lain belum juga pulang. Hanya Gava yang pulang tepat waktu, katanya pria itu tidak betah di kantor. Makanya tidak ada acara lembur atau apapun itu. Berbeda dengan Kakak-kakaknya yang lain, mereka seolah begitu terobsesi dengan uang.

"Nanti Kakak kalau mau nikah juga gitu."

Gava memandang adiknya lekat, sedangkan yang dipandang malah fokus melihat televisi. "Kakak nikah setelah kamu nikah ajalah dek."

Sontak saja Revika langsung menoleh. "Nggak bisa! Vika kan lebih muda, jadi Kakak dulu."

"Ya nggak pa-pa, cewek nikah muda kan udah biasa." setelah mengatakan hal itu, Gava merenungi ucapannya sendiri. Matanya menatap adiknya yang masih terlihat tidak terima. "Tapi jangan nikah terlalu muda juga, Kakak masih pengin jagain kamu. Sebelum hak milik kamu berpindah."

Senyum manis tercetak dibibir Revika. Gadis itu merangsek kedalam pelukan Kakaknya. Menyandarkan kepalanya pada dada sang Kakak. Tempat nyaman yang menjadi favoritnya. "Nggak kok Kak, Vika juga belum siap nikah."

Gava tersenyum mendengar itu. Tangannya mengusap lembut rambut adiknya. Dikecupnya puncak kepala Revika, menghirup sebentar aroma shampoo yang menguar dari rambut adiknya. "Tapi takdir nggak ada yang tahu sayang," ucapnya dalam hati. Karena sejatinya, dia tidak sanggup mengatakan hal itu. Rasa sayangnya terlalu besar pada sang adik, membuatnya belum bisa melepas adiknya untuk pria lain dalam waktu dekat.

🍁🍁🍁🍁

Usai acara makan malam, Revika membersihkan tubuhnya kemudian bersiap untuk tidur. Sepanjang acara dirinya hanya menyimak saja. Begitupun saudaranya yang lain. Bahkan Galih, orang yang bersangkutan pun lebih banyak diam. Entahlah, berada di depan orang lain membuat mereka semua tidak leluasa untuk bersenda gurau seperti biasa. Mungkin juga karena topik yang tengah terangkat juga penting, jadilah mereka mencoba untuk serius dalam menyimak.

Pernikahan Galih dan Elena sudah mulai dibicarakan. Wajar saja, pasangan itu sudah berpacaran cukup lama. Tidak baik jika terus menunda bukan? Revika pun merasa senang karena Kakaknya akan segera menikah.

Ting!

Bunyi notifikasi dari ponselnya membuat mata yang baru terpejam kembali terbuka. Tangannya menjulur ke nakas, mengambil ponselnya.

"Karin?" Ia bergumam pelan seraya membuka pesan yang dikirimkan sepupunya itu.

Besok mau ikut jalan nggak? Hari terakhir aku di jkt btw.

Pesan dari Karin ia baca samar, dahinya sedikit berkerut memikirkan jawaban yang akan ia berikan. Satu sisi ia merasa lelah karena terlalu banyak kegiatan dari beberapa hari lalu. Namun disisi lain ia menyayangkan perpisahannya dengan sang sepupu.

Okay. Kita ketemu di mana?

Alhasil itulah yang ia jawab. Jujur saja liburan panjang membuatnya lelah. Senang memang, tapi energinya seperti diserap habis. Padahal sebelum makan malam tadi, ia baru saja menolak ajakan Leeya untuk pergi besok. Kalau sampai Leeya tahu kalau besok dia pergi keluar, pasti temannya itu bakal ngambek.

Langsung di mall aja ya? Soalnya aku flight malam.

Revika membalas pesan tersebut dengan stiker, setelahnya ia mematikan ponsel dan bersiap untuk tidur. Ia harus menyimpan banyak energi. Entah kenapa dia selalu dipertemukan dengan orang-orang kelebihan energi seperti Karina dan Leeya.

Benar saja, saat bertemu dengan Karina, energinya seperti terserap habis. Bukan karena tidak nyaman, tapi karena pertemuan tak sengaja dengan Leeya yang siang itu juga tengah ke mall. Sudah bisa ditebak bukan berapa banyak kalimat yang keluar dari mulut Leeya saat menyampaikan kekesalannya. Sedangkan Karina bukannya merasa canggung, malah langsung klop dan menjadi kompor agar Leeya makin kesal.

"Harusnya kemarin kamu ikut liburan juga sih, seru banget padahal."

Leeya semakin cemberut. Teman Revika menyenggol bahu Vika dengan bahunya sendiri -masih dengan wajah masamnya. "Pokoknya kita harus liburan, kamu nggak boleh nolak!"

Revika menghela nafas pelan, ia menatap malas pada Karina yang tertawa kecil tanpa merasa bersalah. "Padahal kemarin aku udah ajakin kamu, tapi kamu yang nggak bisa karena mau kencan."

"Hehe..." Leeya merangkul lengan Revika manja, "yaudah si, kita kan emang belum pernah liburan bareng." Ucapnya dengan nada membujuk.

Mereka bertiga berjalan tak tentu arah, sesekali berhenti karena masih berdebat persoalan Revika yang menolak ajakan Leeya namun pergi dengan Karina. Entah kenapa Leeya berlakon layaknya korban perselingkuhan.

Karena lelah setelah banyak bicara, Karina dan Leeya sepakat untuk ke food court dulu, sedangkan Revika menurut saja saat kedua lengannya ditarik oleh dua orang yang menurutnya kelebihan energi ini. Akhir pekan menjadi hal wajar kalau mall ini dikunjungi banyak orang. Bagi Vika yang kurang suka keramaian, dua orang ini cukup membantu mengalihkan perhatian. Otaknya tidak mengirim sinyal bahaya karena fokus mendengar celotehan dua orang di sebelahnya.

"Matcha tuh enak tau!" Seru Leeya terdengar tidak terima karena baru saja diejek Karina soal selera minuman.

"Enak apaan? Kek rumput gitu." Balas Karina dengan wajah mengejek. "Gue suka latte, tapi kalo paitnya matcha tuh nggak dulu. Baunya juga rumput banget aduh." Lanjutnya masih dengan opini bahwa matcha itu tidak enak.

"Ishhh! Matcha enak kan Vika? Sehat juga."

Revika yang anteng saja sembari meminum original matcha yang baru dibelinya tadi dengan Leeya, sedangkan Karina memilih butterchot sea salt latte. "Enak, walaupun baunya kayak rumput." Jawabnya polos.

"Pfffttt," beruntung Karina tidak menyemburkan kopinya. Sepupunya yang belum tercemari otaknya ini memang terkadang bisa mengundang emosi orang hanya dengan jawaban polosnya.

"Ishhh! Iya deh rumput, rumput. At least ini sehat ya, ketimbang kopi mu itu."

"Kalo nggak sehat parah si, satu cup aja ratusan ribu. Punya ku mah murah meriah, cuma tujuh puluhan."

Memang dasarnya Karina ini anti mengalah, sedangkan Leeya gampang sekali dipancing emosinya. Jadi lah keduanya terus berdebat tak jelas. Mereka menghabiskan waktu berkeliling mall, menjelajahi berbagai toko yang diwarnai perdebatan Leeya dan Karina.

🍁🍁🍁🍁

To be continue

17  Agustus 2026

What Is Love ?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang