Tujuh (Flashback)

11 5 1
                                        

Flashback
.
.
.
.
.

"Woi, Bro. Cie, koordinator lapangan, sibuk banget nih."

Pram menepuk punggung seseorang yang sedang menyusun kursi plastik di bawah tenda. Laki-laki yang mengenakan kaos lengan panjang berwarna indranila itu tampak terkejut dan mengusap punggungnya.

"Astaga, Pram. Bisa nggak kamu jangan jahil sekali saja setiap jumpa aku. Kalau jantungku jatuh, bagaimana?"

"Santuy, Za. Jantungmu bisa kujual, lumayan kan. Sekalian nanti ginjal, hati, dan organ vital lainnya. Aku bisa jadi mahasiswa tajir melintir di kampus ini."

"Sadis kamu, Pram."

"Becanda doang, Za. Oh iya, name tag panitia ini siapa yang desain?"

"Hanna dong. Keren kan?"

Pram menganggukkan kepala. Name tag panitia Peksimika itu memang keren. Warna merahnya terlihat kontras dengan seragam yang dikenakan panitia.

"Kamu boleh jual lambung, ginjal, dan yang lainnya, Pram. Asal jangan jual jantung dan hatiku. Bagian yang itu hanya untuk Hanna seorang."

Pram menjitak kepala Reza. Teman satu jurusannya ini memang menyukai Hanna. Sampai-sampai Reza pernah meminta Pram untuk mencomblangkannya dengan Hanna. Namun, sebagai laki-laki sejati, Pram menyuruh Reza untuk memperjuangkan cintanya sendiri. Jadilah kini Reza berjuang setengah mati, mengikuti banyak kegiatan kampus yang juga ada Hanna di dalamnya agar bisa sekalian PDKT.

"Kamu udah makan siang kan, Pram? Lima menit lagi waktu istirahat akan berakhir."

"Sudah. Aku lagi nyari objek yang cocok ni, untuk lukisanku."

"Serius, Pram? Jadi kamu belum dapat objek? Gimana sih kamu, peserta lain udah pada stanby dengan kanvas dan kuasnya, sedangkan kamu masih nyari objek? Aku kira kamu udah mempersiapkannya dengan matang, Pram."

"Lama-lama kamu mirip Hanna, tahu nggak. Cerewet. Ayo, temani aku keliling nyari objek, mumpung lombaku belum dimulai."

Reza mengiyakan ajakan Pram setelah mengingatkan panitia lainnya tentang pembagian tugas di lapangan. Dia sedang ingin berbaik hati kepada temannya yang satu ini.

Peksimika merupakan singkatan dari Pekan Seni Mahasiswa Kampus dan tahun ini diselenggarakan di lapangan gedung rektorat. Kegiatan tahunan ini diadakan untuk menyeleksi mahasiswa yang unggul di bidang seni, guna diikutsertakan untuk mewakili kampus di Peksimida (Pekan Seni Mahasiswa tingkat Daerah) dan Peksiminas (Pekan Seni Mahasiswa tingkat Nasional). Ada beberapa cabang seni yang dilombakan seperti solo pop, solo dangdut, solo tari, baca puisi, monolog, film pendek, fotografi, melukis, desain poster, komik strip, tulis puisi, tulis cerpen, dan tulis naskah lakon.

Pram yang memiliki bakat di bidang seni lukis sejak bangku SMP, tentu tidak ingin ketinggalan dalam Pekan Seni Mahasiswa ini. Pram mendaftarkan dirinya sebagai peserta lomba melukis sehari sebelum pendaftaran ditutup. Sebenarnya, Pram sudah mencoba untuk ikut ajang ini sejak tahun pertama dia menjadi mahasiswa. Tapi dia selalu kalah. Kini, Pram mencoba kembali peruntungannya, berharap mampu memperoleh hasil yang terbaik.

"Pram, Ini kan Peksimika terakhir kamu. Kok nggak totalitas?" tanya Reza sambil berusaha menyamakan langkah kakinya dengan Pram.

"Bukannya nggak totalitas, Za. Aku nggak dapat inspirasi sama sekali. Beberapa hari ini ide di kepalaku buntu."

"Lagi banyak masalah ya di BEM?"

Pram hanya diam dan terus berjalan. Tentu saja dia memiliki banyak masalah. Bukankah hidup saja sudah masalah?

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 26, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Sedalam Angkasa (Berlanjut)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang