Empat

55 24 70
                                        

“Hanna, lihat!”
.
.
.
Demi melihat Pram yang berseru di sebelahnya, Hanna ikut mendongakkan kepala, menatap langit yang dipenuhi awan kelabu.

“Cepat sekali awan-awan itu berubah mendung, Pram. Padahal saat kita turun dari bus tadi, langit cerah masih terbentang di atas sana.”

“Itu artinya kamu tidak memperhatikan langit dengan baik, Na. Ayo, kita bergegas menuju halte.”

Pram dan Hanna meninggalkan gedung perpustakaan kota. Mereka berjalan menuju halte bersamaan dengan rintik hujan yang mulai berjatuhan. Sesekali mereka juga berlari-lari kecil di bawah gerimis yang semakin menderas. 

Dari kejauhan, Pram melihat sebuah bus biru yang bergerak di ujung pertigaan.

“Yah, kita telat, Na. Busnya udah berangkat.”

“Eh, iya ya, Pram? Kok tadi aku nggak lihat bus itu berhenti di halte ini, ya?”

Pram mengangkat bahu dan memilih duduk di bangku panjang, menunggu bus selanjutnya.

“Sini, Na. Duduk di sini. Kalau kamu berdiri di tepi halte seperti itu, nanti pakaian kamu basah.”
Pram mengajak Hanna untuk ikut duduk di bangku panjang. Namun, yang diajak justru masih asyik menatap langit.

“Nanti kamu masuk angin loh, Na.”

Hanna menoleh ke arah Pram, tersenyum lebar.

“Eh, maksud aku, pakaian kita udah basah sejak tadi. Kalau kamu berdiri di situ, nanti jilbab dan baju kamu tambah basah karena tempiasnya. Peluang kamu untuk masuk angin lebih besar daripada aku.”

Hanna tertawa dan menuruti Pram untuk duduk di bangku panjang.

“Kamu kayak nggak tahu aku aja, Pram.”

“Kamu, Hanna Sakhilla, si perempuan hujan. Seorang Pluviophile tingkat tinggi. Aku sudah tahu itu sejak kita SMA, Na. Apalagi yang tidak aku ketahui? Kebiasaan buruk? Aku tahu semuanya.”

Hanna kembali tertawa usai mendengar jawaban Pram.

“Kamu juga suka hujan kan, Pram?”

“Kalau kamu suka hujan, tidak ada alasan bagimu untuk takut basah karena rinainya, apalagi karena tempias. Lihatlah, Pram! Bulir-bulir air ini selalu terlihat menyenangkan.”

Hanna sudah beranjak dari duduknya, kembali berdiri di tepi halte dengan telapak tangan yang menengadah, menampung air hujan.

“Na, kamu tahu nggak? Di luar sana, justru ada orang yang tidak suka hujan, bahkan membencinya.”

Hanna kaget. Dia menghentikan kegiatannya dan kembali duduk di sebelah Pram, memandangi Pram dengan ekspresi tidak percaya dan tatapan meminta penjelasan.

Pram menjelaskan tentang kejadian dua minggu yang lalu kepada Hanna. Ingatannya menerawang tentang pertemuannya dengan seorang perempuan di kereta api. Perempuan yang membenci hujan.

“Aku baru tahu kalau ada orang yang tidak menyukai hujan, Pram. Kasihan sekali, tidak merasakan kesenangan dari rinai-rinai hujan, yang ada malah perasaan tidak suka. Gimana ya keadaannya saat musim hujan tiba?”

Pram terdiam. Ikut memikirkan pertanyaan Hanna barusan.

Bagaimana keadaan perempuan itu? Musim hujan di wilayah mereka baru saja memasuki minggu kedua. Itu artinya, masih panjang waktu yang harus dilewati untuk beralih ke musim kemarau. Bagaimana perempuan itu akan melewati masa sulitnya?

“Pram, kamu kecewa, ya?” tanya Hanna memecah keheningan, membuyarkan Pram yang sibuk menerka dalam kepalanya.

“Kecewa dengan apa, Na?”

Sedalam Angkasa (Berlanjut)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang