Rose sedang menghisap rokoknya lalu menghembuskannya perlahan. Ada seseorang mengetuk pintu kamar hotelnya. Oh ya, jangan lupa, Rose bertetangga dengan Jennie itu karena disengaja. Dia meminta anak buahnya untuk mencari tahu tentang Jennie.
"Masuk"
Masuklah seorang namja berambut gondrong de dalam ruangannya.
"Ada informasi apa... Lorenzo?"
"Ini tentang pemilik perusahaan The Gentle Kim nona"
Rose menghentikan hisapannya. Dia membuang rokok itu keluar. "Katakan" ucap Rose dingin.
"S-sebenarnya... Tuan Kim... Dia..."
"Dia?"
"Dia adalah salah satu sahabat Tuan Park yang meninggalkannya dulu"
Rose mengeratkan kepalan tangannya. "Hubungi kantor pusat. Apakah dia menerima tawaran kita"
Loren mengangguk lalu menelfon kantor pusat.
Rose mengeraskan rahangnya menahan kekesalan. "Aku mendapatkanmu... Parasit"
"Nona"
Rose meliriknya.
"Belum ada konfirmasi. Tapi Tuan Kim sudah mengunjungi perusahaan."
Rose sedikit berfikir memutar kursi yang dia duduki lalu menatap kedinding sebelah.
Fikiran licik muncul di otaknya.
"Pergilah. Dan sewa beberapa fotografer"
Loren mengangguk lalu menunduk dan pergi.
"Baiklah, Let's the play... Begin"
Takk
Rose menjentikkan jarinya.
*****
"Demi apa kau satu hotel dengannya? Astaga... Kau beruntung sekali Jen" ucap Irene di seberang sana.
"Ya mana aku tahu? Mungkinkah ini yang dinamakan jodoh?" ucap Jennie lalu terkekeh.
Irene membuka kulkas lalu mengambil apel dari sana. "Hey? Fikirkan Kekasihmu" Irene menggigit apel itu namun tidak jadi karena giginya gilu disebabkan dinginnya apel itu.
"Kekasihku? Aku selalu memikirkannya setiap saat"
"Ya... Menurutmu... Nona Park itu Bagaimana?"
"Dia menawan. Entahlah, cantik dan tampan dalam waktu bersaman? Dan kau tahu? Tubuhnya beraroma maskulin yang memabukkan"
"Huaaa Jennie jangan membuatku iri"
"Hahaha, kau kurang beruntung. Eh? Ya nona Park? Kau ingin main kesini? Masuklah"
"Yak! Kalian bertemu? Jen-
Tut
"Jennie Kim! Yak! Jennie! Huaaaa eommaaa!" teriak Irene histeris. Sehisteris para Fansé yang liat Rosé deket sama Loren.
Sedangkan Jennie masih cekikikan didalam kamar hotelnya. Dia pergi ke balkon untuk melihat keindahan kota melbourne.
"Haaah segarnya..." gumam Jennie.
Tiba-tiba dia kembali mencium aroma maskulin itu. Dia berbalik dan melihat Rose sedang tersenyum padanya
"Hai, kita bertemu lagi"
"Eoh, H-hai nona Park. Kau... Sedang apa disana?"
"Kudengar tadi ada yang memanggil namaku" ucap Rose.
KAMU SEDANG MEMBACA
Can I Love You?
أدب الهواةTentang bagaimana cinta yang tulus merubah dendam dan ambisi seorang Roseanne. "Aku menikahimu bukan karena aku mengasihanimu apalagi mencintaimu, aku menikahimu karena kekuasaan dan karena aku membencimu" "aku sangat membencimu hingga sangat ingin...
