"Wah. Gila lu ya!" kagum Akmal.
Tito menatap tajam ke arah Guntur. Ia menarik lengan Guntur secara paksa. Ia bangkit dari duduknya.
Sebelum pergi Tito menyerahkan uang lembaran merah kepada Akmal."urus Makana gue!" suruh Tito.
Tito keluar dari kantin. Banyak pasang mata yang melihat ke arah nya. Ia melihat ke arah meja Aurora, ia melirik Aurora yang tengah melihat ke arahnya. Tito langsung melanjutkan langkahnya.
Aurora menatap kepergian Tito dan Guntur. Sebenarnya ia kasihan pada Guntur, karena sepertinya Tito akan marah besar. Namun ia juga kesal dengan Guntur, bagai mana tidak ia pasti akan menjadi bahan gosipan para mahasiswa/i kampus samudra.
Aurora melanjutkan meminum jus nya. Ia menatap ke arah luar jendela, melihat pemandangan luar kampus samudra.
Keyla melirik Aurora."Ra? Lo tadi denger kan?" tanya Keyla.
Aurora menengok melihat ke arah Keyla."denger. Emang kenapa?" tanya balik Aurora. Sambil kembali menatap ke luar jendela.
"Lo angep itu beneran apa boongan?" tanya Clarissa.
Aurora diam ia tidak tertarik untuk menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu.
Keyla menatap Aurora yang masih betah dengan posisi nya."Ra! si Clarissa nanya. Kok Lo gak jawab?" kesal Keyla.
"Kalo beneran juga gue akan anggep itu boongan." jawab Aurora santai.
"Lo kenapa si Ra? Lo gak mau apa kenal sama cowok, setidaknya Lo anggep cowo itu ada! Apa Lo punya trauma sama yang namanya cowok ?" ucap Keyla.
Aurora tersentak dengan ucapan Keyla. Sebenarnya ia juga tidak ingin seperti ini, namun rasanya sangat sulit untuk membuka hati untuk lelaki."gue gak mau berteman dengan rasa sakit key. Gue gak mau kaya orang-orang, yang ditinggalin sama orang yang mereka sayang. Sebenernya gue juga gak mau kaya gini, tapi hati gue gak bisa ngelakuin itu semua. Atau mungkin belum ada yang bisa buka sifat gue ini key." lirih Aurora.
Aurora bangkit dari duduknya. Kepala ia berdenyut saat mendengarkan pertanyaan Keyla. Apa ia di punya trauma dengan lelaki?. "Gue mau ke toilet dulu. Kalo kalian mau duluan ke kelas duluan aja" pamit Aurora.
Keyla dan Clarissa hanya mengangguk. Mereka merasa bersalah sudah membahas masalah yang Aurora tidak suka.
Tito membawa Guntur ke atas ruftop. Ia menatap datar Guntur yang sedang duduk di kursi yang tersedia di sana.
Guntur hanya menundukkan kepalanya. Ia takut jika sudah di tatap seperti itu oleh Tito."to Lo marah?" tanya Guntur masih menundukkan kepalanya.
Tito duduk di sebelah Guntur. Sebenarnya ia tidak marah dengan Guntur, ia hanya tidak ingin menjadi pusat perhatian orang yang tadi ada di kantin."gue gak marah. cuman gue males aja jadi bahan omongan mahasiswa/i yang tadi denger ucapan lo." ucap Tito.
Guntur mendongkak. Ia menatap Tito dengan tatapan bingung."maksud Lo?" tanya Guntur.
"Yaa gue gak marah sama lo." ucap Tito santai. Ia menyenderkan kepalanya di senderan kursi sambil memejamkan matanya.
Guntur melotot dengan ucapan Tito. "WAH! Gila lo. Berarti tadi Lo narik gue cuman boongan?" kesal Tito.
"Menurut Lo?" tanya Tito.
"Dasar gada akhlak Lo!" murka Guntur.
Guntur beranjak dari duduknya. Ia akan kembali ke kantin karena makanan yang tadi Akmal pesankan belum ia makan.
Tito melirik ke arah Guntur yang keluar dari ruftop dengan kaki yang di hentakan karena kesal. Ia terkekeh melihat wajah Guntur yang memerah karena kesal.

KAMU SEDANG MEMBACA
AURORA
Random[Sebelum membaca follow akun autor terlebih dahulu] Baca aja!! Aurora Agnesia Afrida. Gadis cantik yang memiliki kepribadian yang berbeda pada wanita umumnya. Akan kah ada yang bisa merubah kepribadian nya tersebut? "Gue gak mau kaya orang-orang yan...