Menurut Andes, Enes memang tidak beruntung. Di saat semua anggota yang berhasil dimutasi mendapatkan negara baru yang relatif aman, lelaki itu justru dipindahkan ke negara yang level suramnya setara dengan negara tempat kerjanya saat ini.
"Udah dong betenya. Tripoli gue liat-liat not bad, kok." Andes masih berusaha menghibur Enes yang terlihat murung seharian.
Sehari setelah spoiler yang diberikan Cliff, surat perintah mutasi Enes dikeluarkan secara resmi. Dan seperti yang dikatakan Cliff, lelaki itu benar-benar akan dimutasi ke Libya, salah satu negara di Afrika Utara yang masuk ke dalam keanggotaan Liga Arab.
"Not bad your ass." Enes menatap lesu ke arahnya. "Daripada di sana gue kudu adaptasi lagi, mending nggak usah pindah sekalian. At least di sini ada lo bertiga, hidup gue jadi lumayan berwarna."
"Udah lah, Nes. Rencana Tuhan pasti terbaik." ucap Andes sok bijak. "Gue kalo dulu nggak desperate gara-gara jobless, belum tentu kita ketemu sekarang."
"Jobless cuma enam bulan doang, elah. Gue kalo jadi lo mending buka lapak di rumah."
Andes memutar mata malas mendengar kelakar lelaki berusia dua puluh empat tahun itu.
"Asal lo tau ya Nes, telinga gue udah capek dengerin nyinyiran dari manusia-manusia titisan lambe turah. Jadi, mending gue minggat yang jauh sekalian." lanjutnya setengah dongkol mengingat nasibnya sebelum menerima email ajaib yang membuatnya terdampar sampai sejauh ini.
"Hahaha, pret. Di sini juga lo ngeluh terus. Nggak usah ngelak! Lo minimal sekali dalam sehari ngabsen isi bonbin. Iya kan?"
Andes mendengus, tanpa berusaha menyanggah. Apa yang dikatakan Enes memang benar adanya.
"Lo tuh termasuk beruntung karena belom ngalamin hal-hal yang udah gue, Liri, sama Cliff alami. Kayak-"
"Udah nggak usah dibahas." giliran Andes yang cemberut. "Anggep aja gue begitu karena masih masa penyesuaian. Bener kok kata Liri, menyesuaikan diri tinggal di negara konflik nggak gampang."
"Iya, iya." Enes beranjak dari duduknya dan mengacak singkat rambut gadis yang sudah dianggap sebagai adiknya itu. "Gue mau ke minimarket, lo mau ikut atau nitip sesuatu gitu?"
Andes melirik jam dinding yang berada di ruangan mereka. Pukul tiga sore. "Boleh deh. Mumpung gabut."
Keduanya berjalan menyusuri trotoar berdebu yang beberapa bagiannya rusak itu dalam diam. Andes berkali-kali menabrak punggung Enes karena berjalan terlalu lambat. Entah mengapa dia selalu merasa cemas setiap kali melangkahkan kaki keluar dari wilayah KBRI.
"Aman, An, aman. Lo nggak usah parno gitu, ah. Daerah sini relatif aman dibanding lainnya."
Andes mengangguk dalam diam masih dengan mengekori langkah pria jangkung itu seperti anak kecil sampai mereka memasuki minimarket. Minimarket langganan mereka berada di pertokoan yang berada persis di samping kawasan perkantoran KBRI. Suasananya relatif sepi, hanya ada beberapa orang yang terlihat berlalu-lalang.
"Lepasin ujung baju gue, An. Dilihatin ibu-ibunya itu lho, malu!" bisik Enes merasa tak nyaman dengan tatapan wanita paruh baya yang merupakan warga lokal. Yah, interaksi antar lawan jenis non mahram memang menjadi perkara disini.
Intinya, Andes harus bisa jaga jarak aman dengan Enes. Meskipun interaksi mereka biasa saja dan wajar dilakukan di negara mereka, di sana bisa saja menjadi masalah.
Andes cuma nyengir sebelum berpencar dengan Enes. Gadis itu memilih mencari deretan sereal setelah mengingat persediaan sereal untuk sarapannya sudah menipis.
Setelah mengambil tiga kotak besar sereal favoritnya, Andes yang memang dikenal ceroboh menubruk seorang pria yang sedang berada di deretan susu.
"Ya Allah." Andes buru-buru berjongkok dan memungut serealnya. "Maaf, saya tidak sengaja!" serunya merasa bersalah.
"Tidak apa-apa." Pria itu membantu mengambilkan satu serealnya yang terlempar cukup jauh. "Lain kali hati-hati." ucapnya dengan nada deep husky yang seketika membuat putri bungsu keluarga Teinara itu jantungan.
Andes terpana sesaat dengan mata sejernih kristal milik pria itu sebelum tersadar karena deheman Enes.
"An, masih lama nggak? Kita dicariin bapake." Bapake sebutan untuk kasie yang menjadi atasan langsung mereka.
"Udah kok tinggal bayar." Andes buru-buru mengambil sereal yang berada di tangan pria itu, mengucapkan terima kasih alakadarnya, dan berjalan ke kasir. Di sana, Enes sudah menunggu dengan sekantong kecil belanjaan.
"Siapa, tuh?" Laki-laki jangkung asal Bandung itu menyeringai. "Sampe mupeng gitu liatnya. Malu-maluin."
"Bacot lo." Andes mengucapkan terima kasih pada petugas kasir dan menyeret lengan kemeja Enes yang belum sempat digulung. "Buruan balik, gue takut disemprot bapake."
"Takut disemprot bapake atau takut ketemu si mata langit?" goda Enes puas. Melihat ekspresi panik Andes adalah hobi barunya.
"Siapa lagi mata langit." Andes berusaha keras menutup mulutnya dan melepaskan cengkeramannya pada lengan kemeja Enes karena ditatap aneh oleh beberapa warga lokal yang kebetulan berpapasan dengan mereka.
"Ngeles lo. Ya warlok yang tadi lo liatin sampe mupeng lah. Matanya bagus banget, kayak langit pagi."
"Ngarang lo. Udah ah Nes, nggak usah godain gue terus atau.."
"Atau?" Enes menaikkan alis, terlihat menantang.
"Mau gue ingetin kalo bulan depan domisili li pindah di Tripoli?"
"Anjing lo."
Andes tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Enes yang mendadak keruh.

KAMU SEDANG MEMBACA
Last Chance (OPEN PO BATCH 2! 11-16 AGUSTUS 2021)
RomanceAndrea Teinara, FG jurusan HI asal Indonesia yang bekerja di KBRI di Damaskus. Selain bekerja, Andrea menghabiskan sebagian besar waktunya dengan gelisah, memangnya siapa yang tidak gelisah sekalinya dapat pekerjaan langsung ditempatkan di wilayah n...