Jantung Horas serasa diremas saat tanpa sengaja mata sejernih safir itu melihat pemandangan itu. Gadis yang belakangan ini mencuri perhatiannya, sedang berada dalam pelukan laki-laki jangkung berkemeja baby blue yang diketahuinya sebagai rekan kerja gadis itu.
Ada apa denganku? Horas terpaku menatap kedua insan berbeda jenis itu memasuki jeep yang bersiap mengangkut mereka entah kemana. Laki-laki muda itu terus memperhatikan kendaraan roda empat itu sampai menghilang dari pandangan saat memasuki kabut yang diciptakan oleh kepulan asap sisa kebakaran.
Mungkinkah mereka sepasang kekasih? Horas bertanya-tanya dalam hati. Menghela napas, dia hendak berbalik arah saat seseorang memukul bahunya, mengejutkannya.
"Ya Allah Dahmein! Kami sudah mencarimu kemana-mana! Ternyata kau disini!"
Horas mengerjap. Pandangannya terasa kosong. Dilihatnya lima orang yang kini menatapnya dengan sorot kekhawatiran yang jelas.
"Kau tak apa?" salah seorang di antaranya melangkah maju mendekatinya. "Apa ada yang terluka?"
Horas menggeleng dan tersenyum tipis. "Tidak. Bagaimana dengan apinya?"
Orang-orang itu, adalah rekan-rekan sesama pemilik toko yang berada di deret pertokoan itu. Mereka semua terlihat begitu menyedihkan dengan tubuh dan pakaian kotor seperti terpapar jelaga.
"Apinya sudah mulai memadam. Pasukan KBRI membantu kita memadamkan apinya." jelas pria muda berkaus garis-garis.
"Tapi, jangan senang dulu." Pria paruh baya yang sebelumnya menggedor toko kaset Horas menyela, "Kudengar akan ada penyerangan sore ini. Kita harus bersiap."
Lagi. Horas menghela napas lelah. Kapan semua ini akan berakhir?
Semuanya terdiam. Tenggelam di dalam pikiran masing-masing. Begitu pun Horas. Pikiran laki-laki itu justru kembali mengulang memori beberapa menit yang lalu.
Pria tua bersorban yang sejak tadi diam mulai angkat bicara. "Tunggu apa lagi? Lekas pulang! Jangan sampai terpisah dengan keluarga kalian!"
Kelimanya bubar. Menyisakan Horas seorang diri. Tatapannya kembali kosong. Berbagai skenario irrelevant mulai mengganggu isi benaknya. Laki-laki itu bahkan tidak sama sekali memikirkan apa yang ditakutkan oleh orang-orang itu.
Horas kembali tersadar dari lamunannya saat pria tua yang sebelumnya membubarkan massa kembali meneriakinya dari kejauhan. "Dahmein, pulanglah!"
Putra sulung Dahmein itu lantas berjalan cepat ke arah toko kasetnya. Tak ingin mengambil resiko, laki-laki itu segera mengunci tokonya. Belajar dari pengalaman, dia tak ingin kecolongan karena biasanya pasca penyerangan rawan terjadi penjarahan. Setelah memastikan aman, Horas memasuki mobilnya yang terparkir di trotoar depan toko.
Meski rumahnya hanya berjarak beberapa ratus meter dari sana, Horas lebih suka membawa mobil ketimbang berjalan kaki. Alasannya karena laki-laki itu harus bolak-balik ke proyek rumah sakit Taha yang lokasinya berada di pinggiran kota.
Aku harus menemukan cara untuk pergi dari sini bersama keluargaku. Begitu tekad Horas saat jemarinya memutar kunci kontak menyalakan mesin, menginjak pedal gas perlahan sebelum melajukan SUV miliknya menjauhi deret pertokoan yang kini terlihat gelap dan berkabut.Benar saja, seluruh anggota keluarganya yang tersisa berkumpul di luar rumah. Horas memarkirkan mobilnya di trotoar seberang gerbang rumahnya dan lekas mendekati kelima orang itu.
"Horas! Akhirnya kau pulang juga!" sahut seorang wanita paruh baya berhijab hijau lumut. "Ibu mengkhawatirkanmu, Nak!" dipeluknya tubuh tinggi nan tegap putera sulungnya itu.
"Aku tidak apa-apa, bu." Horas balas memeluk wanita yang telah berjasa melahirkannya itu erat. "Kalian semua aman, bukan?"
"Ya, tapi berita penyerangan itu membuat kami gelisah." sahut seorang laki-laki berparas serupa dengannya namun beriris cokelat gelap, nyaris hitam.
"Apapun yang terjadi, kita jangan sampai terpisah." timpal Ruqayyah, ibu Horas.
"Ya Allah kapan semua ini berakhir." pekik Ilda yang kini sedang dipeluk oleh seorang wanita berhijab krem. Wanita itu adalah istri kakak laki-lakinya, kakak iparnya.
"Tenangkan dirimu, Ilda." sahut wanita berhijab krem itu. Dia adalah Mera Dahmein, perempuan maroko yang dipersunting oleh adik lelaki Horas, Dzenan Dahmein.
"Mana bisa sabar! Aku lelah hidup dalam ketakutan seperti ini terus!" racau Ilda, gadis remaja itu mulai meraung karena merasa frustasi dengan semuanya.
"Istighfar, Ilda." Dzenan, kakak sekaligus suami Mera menimpali. "Kau harus bersyukur karena kau masih memiliki kami. Di luar sana banyak yang tidak seberuntung dirimu."
Ilda menutup bibirnya rapat-rapat. Apa yang dikatakan kakak keduanya memang benar. Meski ayahnya tiada sembilan tahun yang lalu, setidaknya dia masih memiliki ibu dan ketiga kakak laki-lakinya. Ah, ditambah kehadiran Mera dan si kecil Alec.
"Kita akan mengungsi." Yosafat, putera ketiga keluarga Dahmein yang berparas mirip Horas itu memecah keheningan. "Kita akan berangkat dengan dua mobil. Kak Dzenan, Kak Mera, dan Alec bersamaku sementara ibu dan Ilda bersama Kak Horas. Bagaimana?"
Tidak ada yang membantah. Pemuda berusia dua puluh tahun itu berucap, "Aku akan mengambil mobil. Kalian tunggu disini." sebelum berlari memasuki gerbang.
Sementara Horas, laki-laki itu kembali terdiam memandang dinding berbatu kediaman Dahmein dengan pandangan kosong. Seharusnya rasa sakit sudah menjadi teman akrabnya. Terlalu lama menderita menempa Horas menjadi sosok yang tahan banting, namun, entah mengapa rasa sakit yang satu ini terasa asing baginya?

KAMU SEDANG MEMBACA
Last Chance (OPEN PO BATCH 2! 11-16 AGUSTUS 2021)
RomanceAndrea Teinara, FG jurusan HI asal Indonesia yang bekerja di KBRI di Damaskus. Selain bekerja, Andrea menghabiskan sebagian besar waktunya dengan gelisah, memangnya siapa yang tidak gelisah sekalinya dapat pekerjaan langsung ditempatkan di wilayah n...