Keempat penyusup itu sedang bersembunyi dibalik mobil diparkiran depan gedung. Cessa memakai gaun hitam dan Lila memilih warna biru. Sekarang dia berada paling belakang, menunggu intruksi.
Berbeda dengan Lila yang memakai high heels, Cessa hanya memilih flat shoes, karena intuisinya mengatakan mereka akan terlibat pertarungan.
"Kita menyusup, mengidentifikasi lalu dan bawa dia pergi. Kecepatan ganda," jelas Diego melebih-lebihkan. Cessa mengangguk walau sebenarnya tidak mengerti perkataan Diego.
"Apa maksudnya?" tanya Lila membuat Cessa tersenyum, sudah mewakili pertanyaanya. Five menoleh kebelakang, mengawasi Cessa sekilas lalu memandang Lila lagi, "Cari pria tua itu dan cepat kabur."
Gadis itu mengangguk, kali ini benar-benar paham. Diego berbalik memasang raut wajah tidak terima, "Itu yang kukatakan."
Sepertinya Lila sedang diperebutkan oleh dua bersaudara. "Ikuti aku," Diego berjalan membungkuk kesamping mobil didepan mereka.
Bukannya mendengarkan perintah, Lila malah menatap Five, "Kau duluan." Dan pemuda berseragam sekolah itu malah memberinya tatapan tajam. Hingga Lila merasa sedikit kesal, "Aku tak boleh sopan?"
Kenapa juga Cessa berada dibarisan belakang. Dan sekarang harus mendengar perdebatan mereka, padahal perutnya keroncongan meminta makan.
"Oke, Diego yang bodoh mungkin percaya omong kosongmu. Tapi aku tidak mempercayaimu," sambungnya sengit.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Cessa, tapi mereka tidak peduli. Sudahlah. Gadis itu hanya mendengus. Dia lelah berbicara, tapi tidak ditanggapi.
Lila menatapnya malas, "Kau kurang beriman." Cessa terkekeh pelan mendengarkannya.
"Tai kucing."
Astaga.
Cessa memutar kedua bola matanya malas. Membiarkan mereka berdebat.
Akhirnya Lila berjalan lebih dulu dan Five menelusupkan tangan kebelakang, menggapai tangan Cessa, dan mengenggamnya erat.
Dia berjalan membungkuk menuju sisi mobil didepan dengan Cessa yang tersentak, tapi tetap mengatupkan bibir dan mengikut.
Mereka lolos masuk kedalam gedung. Five melepaskan genggamannya. Dia mengambil minuman yang disusul oleh gadis berambut hitam itu, ikut melakukan hal yang sama. Sedangkan tangan kirinya, mencomot kue coklat.
Merasa ada yang mengamati, Cessa menengadah dan melihat Five yang menatapnya sedang memasukkan kue kedalam mulut, "Sepertinya kau memaksa datang hanya untuk makanan."
Seulas senyum terpatri diwajah Cessa, sembari mengunyah dia menjawab, "Lima puluh persen, lima puluh persen. Aku datang untuk keduanya."
Cessa menyeruput minuman berwarna gelap dan tersedak. Memeletkan lidah, bergidik saat merasakan rasa pahit, asam dan aneh memenuhi lidahnya.
Five menoleh, lantas merebut gelas milik Cessa, "Itu alkohol, bodoh." Dia memberikan soda sebagai pengganti. Sementara Cessa masih merasa aneh dengan indra pengecapnya, buru-buru meneguk soda sampai habis agar rasa alkohol tadi menghilang.
Setelah merasa cukup baik. Cessa menoleh dengan mata memicing melihat Five yang tampak santai menyesap alkohol, sembari bergidik tidak suka membayangkan rasa aneh yang memenuhi lidahnya.
Dia memilih mengabaikan Five, lalu tersenyum lebar menatap berbagai macam bentuk kue dengan rasa berbeda.
"Aku tidak melihat ayah," celetuk Diego dengan pandangan yang menyapu sekeliling.
Five memandang gadis itu sekilas dan menggelengkan kepala, "Terus awasi Majestic 12."
Lagi-lagi Cessa mencomot kue berwarna lain. Kembali merasa diperhatikan, dia menoleh, mendapati Lila yang sejak tadi terus mengamatinya. Aneh. Dia hanya tersenyum dan mengangkat makanan tersebut, "Rasa strawberry. Kesukaanku."

KAMU SEDANG MEMBACA
𝐂𝐨𝐟𝐟𝐞 𝐁𝐫𝐞𝐚𝐭𝐡 - Five Hargreeves
Fanfic[HIATUS] "𝐁𝐞𝐜𝐚𝐮𝐬𝐞 𝐲𝐨𝐮'𝐫𝐞 𝐭𝐡𝐞 𝐛𝐞𝐬𝐭 𝐬𝐮𝐫𝐩𝐫𝐢𝐬𝐞 𝐨𝐟 𝐦𝐲 𝐥𝐢𝐟𝐞." Terkadang hal yang tiba-tiba terjadi sangat menjengkelkan. Seorang remaja berseragam akademi elite jatuh dari langit mengaku punya kekuatan teleportasi yang...