21. This Could Be an Ending or New Beginning

4K 453 68
                                        

        Lucas terbangun dengan pemandangan yang tak pernah ia sangka akan ia dapatkan. Sebelumnya, ia sudah pernah merasakan ini, namun, kali ini terasa berbeda.

Renjun dengan mata terpejam menyambut netranya pagi itu membuat Lucas bertanya-tanya, namun juga merasa lega. Renjun tidak tampak terluka sedikitpun.

Lucas tersenyum. Hatinya menghangat. Ia bangga pada pemuda di hadapannya ini. Pada sekretaris pilihan Soojung, pada bocah bertubuh mungil yang berani membentaknya bahkan pada hari pertama bekerja.

Renjun sudah melewati begitu banyak hal dengan kuat. Lucas ingin mengapresiasi pemuda mungil ini meski hanya dalam dadanya.

Renjun sedikit bergerak, kelopak matanya terbuka perlahan. Irisnya berlabuh pada pemuda jangkung yang kini tengah menatapnya dengan dalam. Wajah lelaki itu lebam, dan Renjun dapat melihat sudut bibirnya terkoyak.

“Renjun-ah,” panggil Lucas lirih.

Sssh,” balas Renjun. Ibu jarinya mengusap punggung tangan Lucas yang ia genggam. “It's okay, now. Sudah tidak apa-apa sekarang.”

Lucas terdiam. Matanya memanas, ia ingin menangis. Lucas berusaha menahannya sekuat tenaga tetapi tak bisa. Airmatanya mendesak keluar.

Kembali, seorang Wong Yukhei menangis di hadapan Huang Renjun. Pemuda manis itu tak hanya diam, ia memeluk Lucas erat. Dapat dirasakannya bahu lebar itu terguncang hebat.

Tunggu sebentar. Mengapa kemejanya basah?

Oh, Tuhan, Renjun lupa kebiasaan Lucas tiap kali lelaki bongsor itu menangis. Mulutnya yang terbuka, beserta airmata yang begitu deras. Jangan lupakan hidungnya yang basah dan lengket.

Renjun menghela nafasnya berat. Sedikit bersyukur karena pakaiannya sendiri pun sudah kotor.

Lucas kembali tenang setelah nyaris setengah jam Renjun mengusap-usap punggung lelaki kesayangannya itu. Ya, mau tak mau Lucas harus kembali tenang karena Renjun mengusap punggungnya sambil sesekali menepuknya terlalu keras.

“Maafkan aku,” bisik Lucas. Kening mereka kini saling menempel. Renjun memejamkan kedua kelopak matanya, tidak tahan melihat wajah terpuruk Lucas.

“Jangan meminta maaf, ini bukan salahmu.”

“Ini salahku. Mark dan dirimu harus terluka. Secara fisik, bahkan disekap. Aku yang bertanggung jawab atas hal ini.” Lucas mengusap pipi Renjun dengan sedikit terbata-bata.

Renjun menghela nafasnya lalu menjauhkan wajah mereka berdua. Ia menatap Lucas dengan tajam.

“Itu bukan salahmu. Dengar, jangan salahkan dirimu sendiri. Jangan pernah atau aku akan memukulmu. Aku dan Mark akan memukulmu,” balas Renjun sengit. Ia tak ingin mendengar lelaki itu merasa bersalah.

Lucas tertawa pelan, kemudian meringis. Ia belum bisa tertawa dengan bebas, sebenarnya. Beberapa bagian dari wajahnya pun terasa masih kaku.

Renjun menghela nafasnya. “Orangtuamu dalam perjalanan menuju kemari,” ucapnya sambil meraih buah persik yang cukup lembut dan mengupaskannya untuk Lucas.

“Kau memberitahu mereka?” Maniknya membuka, terkejut. Sudah lama Lucas tidak menemui mereka, namun tiba-tiba saja harus bertemu dengan kondisi seperti ini.

Bayangan omelan-omelan yang akan ia dapat membuat Lucas mulas. Apalagi ayahnya yang sangat bengis.

“Mereka berhak tahu,” jawab Renjun. Pemuda itu mencicipi buah persik itu, menimbang apakah bisa menyuapkan buah itu pada Lucas yang belum bisa mengunyah makanan keras.

Not Your Typical CEO [Lucas x Renjun]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang