Lautan Darah

2 0 0
                                        

Candra bersusah payah memberi penjelasan bahwa dia dan Citra tidak memiliki hubungan apapun. Citra yang secara sepihak mengakui dirinya sebagai kekasih Candra merupakan fans fanatiknya.

Berhasil membujuk rayu sang pujaan hati, Candra mengajak renata berjalan bersama disebuah taman. Namun entah angin apa yang membuatnya lagi-lagi kembali bertemu dengan Citra, wanita yang menyebabkan pertengkaran antara Candra dan Renata beberapa hari ini. Candra mengusap wajahnya kasar saat menemukan Citra tengah duduk disalah satu bangku taman sendirian tengah menatap dirinya dengan mata berbinar.

Wajah Citra berubah muram segelap langit yang tiba-tiba berubah mendung saat pandangannya beralih pada Renata yang sedang menggandeng lengan Candra dengan manja.

“Kita pulang aja yuk! Kayaknya mau hujan.” Ajak Candra untuk menghindari masalah yang tidak perlu jika harus berhadapan dengan sang fans fanatik gila itu lagi.

Terlambat untuk melarikan diri langkah mereka berdua telah dicegat oleh Citra.

“Kamu beneran sudah lupa ucapan kamu tiga tahun lalu ke aku?” Tanya Citra yang tampak kecewa didepan mereka berdua membuat pacar Candra yang seorang cemburuan kembali terprovokasi dan mulai meragukan penjelasan Candra yang sudah membujuknya sejak beberapa hari lalu.

“Selesaiin masalah kalian berdua dulu baru kamu cari aku lagi.” Renata kembali pergi meninggalkannya dengan wajah sebal yang dapat dibayangkan kali ini akan jauh lebih sulit lagi untuk menenangkan perasaan pujaan hatinya tersebut.

“Kamu beneran gak ingat aku?” Citra kembali menghadang candra yang akan mengejar kekasihnya.

“Aku gak kenal kamu. Jadi please jangan muncul dihadapan aku lagi!” Tekan Candra.

Dengan air mata yang tergenang dipelupuk mata Citra berkata, “Tiga tahun lalu ditaman rumah sakit. Perjanjian kita! Kotak kapsul waktu! Kamu gak ingat sama sekali? Satupun?” Teriakannya terdengar bersamaan dengan suara guntur yang memekakan telinga.

Candra tak mengubris ucapan aneh Citra, berpikir bahwa wanita itu sudah terlalu banyak berkhayal yang membuat otaknya menghasilkan halusinasi yang terasa seolah nyata. Ia lalu berlari ke jalan raya dibawah guyuran hujan yang membasahi bumi dengan aliran air yang mengaburkan pandangan matanya, Candra mencoba mengejar Renata yang sedang menghentikan taksi bersama dengan citra yang masih bergelayut berusaha menahan tangannya di pinggir jalan. “Dengarin penjelasan aku dulu ya?” Ucap Citra dengan tubuh gemetar kedinginan.

“Lepasin gak!” Ucap Candra yang sudah jengah menghadapi tingkah laku Citra. Berhadapan dengan wanita itu memang selalu menguji batas kesabaran Candra.

Citra menggelengkan kepala. “Gak masalah kalau kamu gak ingat. Aku bakal ceritain satu-satu semuanya dari awal.”

Candra mendorong Citra dengan sedikit tenaga takut wanita itu akan berpura-pura pingsan lagi dan memperkeru keadaan. Berlari menjauhi Citra yang terduduk di atas tanah Candra buru-buru mengejar Renata yang telah memasuki taksi. Naasnya ia tak melihat kendaraan yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi kearahnya.

Semua berlalu begitu cepat bersamaan dengan suara decitan mobil yang menabrak tubuh Candra. Darah mengalir dari kepalanya larut bersama hujan yang mengalir turun dari langit membentuk genangan darah dijalan beraspal, beberapa orang mulai berkerumun mengelilingi, tubuhnya yang terkapar lemah kini berada dipelukan Citra, tangan putih citra berlumuran darah merah. Gadis itu menjerit meminta pertolongan pada sekeliling orang yang menatap ngeri kondisinya yang mengenaskan. Sebelum matanya yang terasa semakin buram terpejam.

Rainy Day (complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang