Denah kapsul waktu:
Dari pintu keluar darurat di samping rumah sakit, menghadap dengan posisi 45 derajat ke kiri, berjalan sejauh 20 langkah, Dibawah pohon rindang yang terikat kain merah disalah satu dahannya. Dibalik pagar tanaman asoka pendek. Tepat dibawah ikatan kain pada dahan pohon.
Layaknya anak kecil mencari peta harta karun Candra mengikuti instruksi yang tertulis dibuku harian citra, menghitung langkah demi langkah sebelum berhenti di samping sebuah pohon yang dimaksud.
Di bawah pohon rindang yang menghalangi sinar matahari. Di sela-sela sinar matahari yang menerobos dedaunan dan jatuh ketanah Candra menancapkan sekop tepat dibawah ikatan kain merah maron yang sudah lusuh dan pudar warnanya.
Ia berhenti menggali saat sekop membentur sesuatu yang keras, tangannya menyibak tanah yang menghalangi sebuah kaleng dan menarik benda itu keluar.
Kaleng biskuit bulat yang sudah seperti harta karun bagi Citra berisikan dua lembar surat terlipat rapi dalam masing-masing amplop putih. Satu surat dengan tulisan tangan citra dan satu lagi tulisan tangan asing yang pastinya milik pria ber inisial C yang dimaksud Citra dalam diarynya. Amplop pria itu berisikan sebuah foto keluarga dan secarik surat yang tak sempat dibaca citra sampai menghembuskan nafas terakhirnya.
Hai, Citra.
Sebelumnya aku belum pernah menuliskan sebuah surat untuk siapapun. Aku sedikit bingung bagaimana untuk memulainya.
Aku harap kamu tidak akan mengintip isi surat ini sebelum aku kembali.
Sebenarnya aku berbohong saat mengatakan aku akan mengejar mimpiku ke negeri seberang. Aku memang pergi ke luar negeri tapi untuk melanjutkan pengobatan. Penyakit yang aku derita tidak bisa disembuhkan dengan teknologi medis disini yang masih belum memadai.
Keadaan terburuk yang akan terjadi mungkin aku tidak akan pernah bisa kembali lagi ke sini dan membuka kotak kapsul waktu kita bersama.
Jika aku berhasil melawan penyakitku dan kembali dengan selamat. Aku berharap dapat mengganti isi surat ini sebelum kamu membukanya dihari perjanjian kita.
Tapi jika yang terjadi adalah yang sebaliknya. Maafkan aku karena telah egois menyatakan cinta padamu dan mengikatmu dengan sebuah janji yang tidak dapat aku tepati. Aku hanya takut begitu aku kembali kamu telah bersama dengan orang lain. Aku hanya ingin kamu tahu aku mencintaimu dengan tulus dan takut kehilangan dirimu.
Aku sengaja menyembunyikan identitas agar kamu tidak sedih mendengar kondisi tubuhku yang sangat buruk jika mengetahui dibangsal mana aku dirawat.
Nama yang kamu cari-cari adalah Catra. Satu kata dan sangat simple bukan? Nama dengan inisial yang sama dengan namamu, Citra.
Satu hal lagi yang ingin aku beritahukan. Aku memiliki seorang saudara kembar bernama Candra. Aku juga belum lama ini mengetahuinya. Kami terpisah sejak bayi akibat perceraian orang tuaku, yang membawa salah satu dari kami. Aku mengikuti ibuku dan dia mengikuti ayahku.
Jika aku tidak kembali dalam waktu lebih dari lima tahun. Kalau kamu merindukan aku, Kamu bisa menemui saudara kembarku dan jikalau dia masih belum memiliki kekasih sampaikanlah surat ini padanya.
Kudengar biasanya sepasang saudara kembar memiliki ikatan istimewa dihati mereka. Karena aku menyukaimu aku yakin dia juga akan menyukaimu. Aku harap dia bisa mewakili aku menjagamu.
Catra
Foto yang tersampir di surat tersebut adalah foto keluarga yang terdiri dari ayahnya dan seorang wanita yang tidak pernah dilihat candra, duduk berdampingan dengan tangan yang menggendong sepasang bayi laki-laki kembar.
Candra pergi menuju pelabuhan dan menyewa sebuah perahu walau sudah diperingati kalau perkiraan cuaca mengatakan hari ini akan turun hujan dan merupakan cuaca yang buruk untuk berlayar namun candra memaksa pergi dan akan memberikan pembayaran tiga kali lipat. Sang awak perahu menyetujui dengan syarat mereka akan segera kembali.
Di tengah perairan berwarna biru gelap Candra menaburkan kelopak bunga hydrangea biru dalam batinnya ia mengatakan, “Bunga ini bernama hydrangea berwarna biru yang melambangkan permintaan maaf dan penyesalan mendalam yang aku rasakan.”
Ditengah perjalanan pulang angin kencang disertai hujan deras mengombang ambing perahu yang mereka tumpangi. Tubuh Candra yang kehilangan keseimbangan tercebur kedalam air, awak perahu mengulurkan tangan mencoba menarik candra dan memintanya segera meraih tangannya, tapi Candra mengabaikan teriakan dan uluran tangan yang mencoba menolongnya. Tubuhnya semakin menjauh dari perahu terbawa arus ombak. Air laut mulai memenuhi rongga pernapasannya. Gelombang besar memburu menenggelamkan tubuh Candra yang telah menegak banyak air laut yang terasa asin dilidahnya. Perlahan mata Candra memejam kehilangan kesadaran.
Jika takdir tidak membiarkan kita bersatu dikehidupan ini aku harap dikehidupan berikutnya takdir akan membawa kita bertemu kembali.
Jika dikehidupan ini kamu yang banyak berkorban untukku maka dikehidupan mendatang biarkan aku yang mengejar dan mengemis cinta padamu.
Maaf karena menyia-nyiakan mata yang telah kamu berikan, tetapi wanita yang aku pilih untuk membentuk kenangan baru telah tiada didunia ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rainy Day (complete)
Short StorySetiapkali menatap tetesan air hujan yang terjatuh dari langit ingatanku melayang kembali pada pertemuan pertama kita. Sebenarnya dimana kamu berada? Jika aku mengikuti arus genangan air yang mengalir ini akankah aku menemukanmu?
