Hai, selamat malam semuanya. Malam ini Peta Kata kembali lagi menemanimu. Kali ini lebih cepat daripada biasanya. Semoga dapat menghibur ya.
Seperti biasa, silahkan vote dan komen banyak-banyak karena itu adalah 'vitamin' buatku supaya rajin nulis.
Selamat membaca, selamat menikmati.
^_^
Pagi terlalu dini membuka mata. Terlalu banyak hal yang harus dikaji. Aku tahu apa maunya hatiku. Apa tujuanku hidup di alam semesta ini. Aku sungguh teramat sangat tahu apa yang sedang aku perjuangkan saat ini.
Tapi, yang tidak aku tahu, kenapa semesta memertemukan aku dengan Aksa? Bukankah semesta sudah tahu kalau aku sedang menunggu siapa. Kenapa tega sekali membuatku menyakiti orang yang teramat baik.
Mungkin banyak perempuan di luar sana akan mengatakan aku ini perempuan yang paling bodoh di dunia, karena mengabaikan lelaki sebaik Aksa. Iya, aku tahu dia adalah lelaki yang paling sabar menghadapi keras kepalanya aku. Lelaki yang akan selalu bicara lembut saat aku-nya justru bicara dengan nada tinggi.
Namun anehnya semua kenyaman itu sama sekali tidak membuatku nyaman. Malah sikap baik Aksa itu menjadi beban tersendiri bagiku. Semalam saat Aksa menjemput di bandara, wajahnya terlihat sangat cemas bercampur rasa takut. Mungkin ia mengira aku akan memarahinya karena telah lancang menjemputku. Aku tidak akan setega itu untuk memarahi orang yang telah benar-benar peduli pada diriku. Walaupun sebenarnya aku juga bisa tega pada waktu yang lain.
Selama berada di Pulau Cinta, aku menjauhkan diri dari hape pemberian Aksa yang kusimpan dalam tas ransel. Alasannya, karena aku memang tidak terbiasa dengan benda persegi panjang itu. Aku hanya menggunakannya sekali saat baru tiba di Gorontalo, itu pun hanya untuk menelepon nenek bahwa aku telah sampai tujuan.
Dan untuk Aksa aku merasa tidak berkewajiban memberinya kabar walaupun aku sendiri sudah berjanji padanya. Aku tak mau memberikannya harapan kosong. Seharusnya dia memahaminya dan keluar dari hidupku. Lagipula aku yakin, Gibran pasti memberi kabar ke nenek tiap menitnya apa saja yang dilakukan oleh cucunya. Otomatis, kabar tersebut akan mengalir ke Seren dan Aksa. Jadi, untuk apalagi aku memberitahukan kabar.
Aksa itu seperti soal matematika yang aku sudah tahu apa jawabannya, tapi bingung bagaimana jalannya agar jawaban tersebut dimengerti dan bisa diterima olehnya. Dari awal aku sudah meminta padanya untuk menjauh, namun dia malah semakin memasuki duniaku tanpa bisa kucegah. Sebenarnya, aku tidak akan apa-apa bila dia berada di sekitarku seperti Seren. Asalkan dia hanya menganggapku teman tanpa menaruh perasaan apa pun di dalamnya. Sungguh, aku tidak akan mempermasalahkannya.
Namun rasa bersalah yang bersarang ini, membuatku merasa ada yang harus segera dijelaskan dan diselesaikan. Cukup sudah, semesta membingungkan walaupun sama sekali tidak pernah membingungkan duniaku. Bukankah sesuatu yang terombang-ambing harus dicari di mana tempatnya? Agar semuanya memiliki kepastian di mana seharusnya ia bertempat.
Aku menyibak selimut, lalu bangkit dari ranjang menuju kamar mandi. Iya, hari ini segalanya harus tuntas dan jelas. Aku tidak mau lagi ada rasa bersalah yang membanyangi dan selalu merasa menjadi orang jahat. Bagaimana pun nantinya arah berubah, tetap saja masa lalu tidak pernah berubah.
Sungguh, aku tak ingin bila Aksa menjadi kenangan yang menyesakkan. Dia tidak pantas mendapatkan itu. Biarkan Aksa menjadi kenangan baik yang bila diingat akan menyenangkan. Meskipun aku akan menjadi luka dalam ingatannya. Aku tahu selembut apa pun caranya untuk membuat Aksa mengerti untuk menjauhiku, pasti dia akan tersakiti. Aku berharap semoga dia dapat menyembuhkan dirinya sendiri. Semoga ada sosok lain yang dikirimkan semesta untuknya yang jauh lebih baik daripada diriku.

KAMU SEDANG MEMBACA
Peta Kata [Revisi]
Teen FictionAku membutuhkan peta untuk menemukanmu Aku membutuhkan kata untuk memahamimu Kamu membutuhkan peta untuk menemukanku Kamu membutuhkan kata untuk memahamiku (Mentari & Gibran)