VI. Sicilian Fantasy

222 16 42
                                    


Ia bisa mendengar seseorang bernyanyi.

La, lala....lalalalalala, lala la....

Lagu itu bergema tanpa akhir di telinganya, tapi hampir seperti bisikan lembut hembusan angin. Ia tak bisa mengetahui sudah berapa lama ia mendengarkan suara itu.

“....hah?”

Fugo mendongak ke atas.

Ia berada di sebuah ruangan, dengan deret rak buku yang dipenuhi buku tua.

Sebuah kelas.

Di Universita di Bologna.

Ada seorang profesor yang marah di depannya, sedang memberi kuliah.

“Apa yang kau pikirkan? Kau kira kau bisa lolos dengan mengabaikan kuliah dasar? Jangan lain-lain! Aku bicara denganmu!”

Fugo bertemu mata dengannya, dan si profesor mengangguk.

“Aku berharap lebih padamu, Fugo. Kau punya kebiasaan buruk bertindak seolah kau ada di sini hanya karena orangtuamu yang mewujudkannya. Tapi orangtuamu bukan kau, dan kau bukan orangtuamu. Kau bukan belajar untuk meningkatkan status orangtuamu, tapi untuk menemukan potensi dirimu.”

Pintu terbuka, dan asisten profesor masuk.

“Aku punya berita buruk, Fugo. Nenekmu pingsan. Kau harus mengunjunginya.”

Si profesor membantunya mendapatkan tiket untuk kereta ekspres, dan dia sudah tiba sebelum matahari terbenam.

“Oh...Panni kecilku. Aku merasa membaik setelah melihatmu di sini.”

Neneknya pulih seutuhnya. Fugo menjadi lega. Semua anggota keluarganya datang untuk menengoknya, dan mereka semua tampak senang melihat neneknya kembali pulih. Fugo sangat senang. Pada akhirnya mereka semua adalah keluarga. Mereka mencintai satu sama lain.

Liburan sekolah hampir tiba; universitas setuju untuk membiarkannya tinggal di rumah asalkan ia mengirimkan tugas akhir. Ia melakukannya, lalu pergi memancing bersama kedua kakaknya.

Saat mereka sampai di pelabuhan, mereka mendapati kapal memancing yang mereka pesan telah rusak, dan terjebak di pelabuhan. Ketika mereka sedang berpikir apa yang harus dilakukan, seorang kapten menawarkan mereka untuk naik bersama dengan kapalnya. Tetapi klien yang telah memesan kapal itu menolak.

“Kami memintamu untuk tidak membawa penumpang lain!”

“Ada banyak ruangan untuk semua orang.”

“Kubilang tidak ada! Lakukan seperti yang kusuruh!”

“Baiklah, kalau begitu kalian turun. Ketika kapal lain bermasalah, kita harus menolong. Aturan laut.”

“Apaaa?”

Si pelanggan yang kasar menyadari kerumunan telah berkumpul, lalu menyerah, bergumam kesal pada dirinya sendiri. Sang kapten memberi isyarat pada Fugo dan kakak-kakaknya untuk naik ke kapal.

“Anakku akan senang untuk membantu kalian. Bruno!”

“Ya, Ayah?”

Seorang lelaki yang tampak ceria muncul dari kabin.

Lala lela relalala la....

Nama anak laki-laki itu adalah Bruno Bucciarati. Ia kira-kira tiga tahun lebih tua dari Fugo.

“Kau anak kuliahan? Wow.”

“Bukan hal yang spesial.”

“Aku mencoba mendidik diriku dengan buku, tapi aku lumayan lambat.”

Purple Haze Feedback - Indonesian TranslationTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang