Prolog

1.1K 56 3
                                    

Ada dua sosok di Kuil Apollo.

Satu laki-laki, satu lagi perempuan.

Saat itu adalah malam, bulan baru.

Si perempuan berbaring menyamping, hampir tak terlihat karena cahaya bintang yang redup; sedangkan si laki-laki berdiri sambil menatap rendah pada si perempuan.

Perempuan itu mengerang, kesakitan.

“Panggil dia,” ujar si laki-laki, nada suaranya dingin.

Perempuan itu mengerang lagi.

“Panggil Fugo. Suruh dia ke sini. Teriaklah, dan memohon padanya agar dia datang untuk menolongmu.”

Suara laki-laki itu tidak menunjukkan sedikit pun belas kasihan. Hanya ada tanda permusuhan dan keinginan untuk membunuh dan kekejaman yang kelam.

Si perempuan hanya mengerang. Dia tidak bergerak. Tangan dan kakinya bengkok ke arah yang tidak seharusnya. Dia tidak bisa kabur sendiri.

“Jangan mencoba untuk melawanku,” kata si lelaki. Itu bukanlah gertakan, tetapi pernyataan fakta. “Manic Depression bisa mengontrolmu seutuhnya. Kau sudah tidak lagi memiliki kebebasan.”

Ia meluncurkan tangannya, mencengkeram tenggorokan si perempuan. Jari-jarinya menyusup masuk menembus kulit, masuk ke dalam daging.

Teriakan perempuan itu bergema di kegelapan.

***

Ini adalah kisah tentang orang-orang yang tak bisa mengambil tindakan.

Mereka tidak punya rencana untuk masa depan, tidak ada kenyamanan dalam ingatan mereka. Masa lalu dan masa depan bukanlah untuk mereka; mereka ada hanya di masa ini, berjuang tanpa ada gunanya.

Apakah mereka berjuang untuk mencari uang? Untuk melangkah ke depan? Untuk menyerah? Siapa yang tahu. Mereka tidak bisa memberitahumu. Dunia yang meninggalkan mereka pada takdir ini tidak bisa memberikan jawaban.

Mereka hanya tahu satu hal yang pasti ー tanah di bawah kaki mereka sedang hancur, dan mereka tidak bisa tetap diam.

Mereka tidak memiliki hari esok, tidak punya rumah. Bagaimana cara mereka menemukan harapan?

Apa yang bisa mereka perjuangkan, di dalam keputusasaan? Mari kita telaah salah satu dari mereka, lelaki yang sedang dalam kesulitan.

Nama lelaki itu adalah Pannacotta Fugo. Ada beberapa yang menyebutnya ‘pengkhianat’, orang mencelanya sebagai seseorang tanpa malu. Pilihannya akan memutuskan bagaimana takdir hidupnya akan berjalan.

Purple Haze Feedback - Indonesian TranslationTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang