[Kembali ke Kursi CEO]
Setelah pertemuan singkatnya dengan Johnny, Rose memutuskan untuk tidak lagi mengurung diri. Ia kembali ke kantornya di Company P, meskipun hanya untuk menyibukkan diri.
Rose duduk di kursi CEO-nya. Tumpukan berkas setinggi gunung di mejanya membuatnya pusing. Setahun penuh pekerjaan terbengkalai. Ia hanya bisa mengandalkan Jungkook, sekretarisnya yang setia (dan sahabat Jimin), untuk menjaga perusahaan agar tidak bangkrut.
Rose meraih foto di mejanya-foto pertunangannya dengan Jimin. Ia tersenyum tipis, lalu menghela napas. Kenangan itu masih terasa menyakitkan.
Tiba-tiba, Jungkook masuk dengan ekspresi bingung.
"Sajangnim, ada paket ini," kata Jungkook, meletakkan kotak kecil yang terbungkus kertas cokelat di meja Rose.
"Paket apa? Dari mana?" tanya Rose.
"Itu dia. Alamatnya aneh. Cap posnya dari... sebuah pulau kecil di Filipina Selatan. Itu area yang tidak jauh dari lokasi hilangnya pesawat Pak Jimin, Sajangnim," bisik Jungkook, matanya penuh keraguan.
Rose menatap kotak itu. Peti jenazah pun tidak pernah kembali. Kenapa sekarang ada paket dari sana?
Rose merasakan jantungnya berdebar kencang, perasaan yang sudah lama hilang-bukan duka, melainkan harapan yang membakar.
"Jungkook," suara Rose tercekat, tetapi matanya kini bersinar dengan tujuan yang jelas. "Paket ini baru sampai. Artinya, seseorang mengirimnya baru-baru ini. Korek ini tidak mengapung. Korek ini... pasti ada yang menyimpannya."
Rose mengambil ponselnya. "Siapkan penerbangan pertama ke Manila. Hubungi koneksi kita di Kedutaan. Dan jangan beritahu siapa pun, termasuk Bunda dan Abang Chanyeol."
Jungkook menatap Rose, melihat kembalinya Sajangnim Rose yang kuat.
"Apakah Sajangnim berpikir..."
"Aku tidak berpikir," potong Rose tajam. "Aku tahu. Jimin mungkin masih hidup."
Rose bertindak cepat, kembali ke mode CEO yang efisien dan kejam, tetapi kali ini, didorong oleh emosi yang tulus.
"Jungkook, penerbangan ke Manila lusa. Kau bilang pada Ayah dan Bunda aku ada urusan mendadak dengan klien baru di Singapura. Tidak ada yang boleh tahu soal korek api ini," perintah Rose, menyembunyikan Zippo itu di balik safe pribadinya.
Jungkook menunduk. "Lalu, bagaimana dengan saudaramu?"
Rose memejamkan mata. "Chanyeol? Katakan padanya bahwa ini adalah negosiasi rahasia Company P yang tidak boleh diketahui media. Dia akan mengerti."
Rose menghubungi Jennie dan Jisoo. Ia meminta mereka untuk memastikan tidak ada media atau mata-mata yang mengikuti, karena Rose tahu, Vernon masih mengawasinya. Ia tidak butuh Somi, karena Somi pasti akan panik dan menyebarkan berita.
Malam itu, Rose hanya membawa satu tas kecil berisi dokumen palsu dan barang-barang penting. Sebelum tidur, ia menatap cincin pertunangannya.
Di dalam pesawat jet pribadi menuju Manila, Rose dan Jungkook fokus pada korek api itu.
"H-4. G-I," ulang Jungkook, menulis kode itu di kertas. "H-4 bisa jadi Hangar 4, Hotel 4, atau bahkan..."
"Bukan," sela Rose, matanya terpaku pada ukiran inisial P.J.M. "H-4. Itu kode internal di private safe Jimin. H-4 adalah lokasi dokumen paling rahasia yang ia simpan. Tapi kenapa dia mengukirnya di korek api yang sudah lama?"
"Mungkin untuk menandakan bahwa lokasi H-4 itu penting untuk kita temukan sekarang, Sajangnim," ujar Jungkook.
"Tentu saja penting! Tapi G-I? G-I bukan nama folder atau perusahaan." Rose memijat pelipisnya.
Rose membalik-balikkan korek api itu. Tiba-tiba, ia teringat sebuah game konyol yang sering mereka mainkan saat SMA-game kode lokasi tersembunyi.
"G-I. Grid Island," bisik Rose. "Saat kita merencanakan liburan konyol di pulau terpencil, Jimin selalu menyebut daerah Grid yang paling terpencil sebagai G-I. Pulau itu ada di Laut Sulu, dekat perbatasan Malaysia dan Filipina. Itu adalah area yang belum pernah disisir tuntas oleh tim pencarian, karena terlalu terisolasi."
Jungkook membulatkan mata. "Jadi, Pak Jimin mungkin berhasil mencapai pulau terpencil dan mengirimkan pesan ini?"
"Atau, setidaknya, seseorang di pulau itu menemukan korek api ini dan tahu bagaimana cara mengirimkannya," kata Rose. "Kita harus melacak pengirim paket ini dulu."
Setibanya di Manila, Rose dan Jungkook segera menggunakan koneksi Company P untuk melacak kantor pos kecil yang tertera pada cap. Mereka menemukan sebuah kantor pos kecil yang lusuh.
Rose masuk, aura CEO-nya langsung memenuhi ruangan sempit itu. Jungkook di belakangnya, berfungsi sebagai penerjemah dan pengawal.
"Saya ingin tahu siapa yang mengirim paket ini dua minggu lalu," tuntut Rose, meletakkan cap pos itu di meja.
Petugas pos itu terlihat takut. Ia hanya seorang wanita tua yang bekerja paruh waktu.
"A-ada banyak orang yang mengirim paket, Señora," jawabnya dalam bahasa lokal.
Rose meraih tangan petugas itu dan menunjukkan foto Jimin di ponselnya. Wajah Jimin yang tampan dan familiar.
"Apakah orang yang mengirim paket ini terlihat seperti dia?" tanya Rose.
Petugas itu menggeleng. "Bukan. Orang yang mengirim... dia penduduk lokal. Seorang nelayan. Kulitnya gelap, tangannya kasar. Dia terlihat ketakutan dan dia hanya membawa satu benda."
"Apa yang dia katakan?" desak Rose.
Wanita tua itu mencondongkan tubuh, berbisik. "Dia bilang, dia menemukan benda itu... di dalam bangkai perahu kecil yang hanyut dari selatan. Dia juga bilang... dia disuruh mengirimnya ke alamat ini, dan dia dibayar dengan satu koin perak tua yang berkilau."
Rose dan Jungkook saling pandang. Bangkai perahu kecil. Seseorang pasti berhasil bertahan hidup di kecelakaan itu dan membuat jalan keluar.
"Koin perak?" tanya Rose.
"Iya. Koin yang sama yang sering dibawa oleh orang asing yang berlayar ke selatan," jawab petugas itu.
Rose tahu apa artinya koin perak tua itu. Itu adalah koin keberuntungan yang selalu dibawa Jimin saat ia berlayar.
Rose meninggalkan sejumlah besar uang tunai di meja, dan bergegas keluar, menarik tangan Jungkook.
"Jungkook, kita ganti rencana. Kita tidak perlu mencari pengirimnya lagi. Kita harus mencari tahu bangkai perahu itu datang dari mana," kata Rose, matanya berapi-api.
"Dari mana, Sajangnim?"
Rose tersenyum tipis, senyum yang menunjukkan kombinasi kecerdasan dan nekadnya.
"Laut Sulu. Ke Grid Island."
KAMU SEDANG MEMBACA
HEALING WITH YOU | JIROSÉ [END]
Teen Fiction"Takdirku bukan untuk memilikimu. Tapi untuk mencintaimu dengan bahagia" Start : 28 Oct 2020 End : 8 Dec 2020 Revisi : 2025
![HEALING WITH YOU | JIROSÉ [END]](https://img.wattpad.com/cover/243090635-64-k780980.jpg)