Coincidence

1.3K 226 14
                                        

Cahaya matahari pagi Tokyo menembus celah gorden, namun ketenangan di dalam kamar hotel itu segera terusir oleh aksi brutal Somi. Ia memercikkan sisa air dingin dari gelasnya tepat ke wajah Chae-young yang masih terbungkus selimut tebal.

​"Chae-young! Bangun! Katanya mau keliling kota sampai puas?" teriak Somi tepat di telinga sahabatnya.

​Chae-young menggeliat pelan tanpa membuka mata, suaranya parau khas orang baru bangun tidur. "Eungh... Apa atapnya bocor? Sedang hujan ya? Hotel bintang lima kok layanannya begini..." gumamnya melantur.

​"Bocor matamu! Cepat bangun atau aku siram satu galon air!" Somi berkacak pinggang, sudah siap dengan serangan berikutnya.

​"Iya, iya! Sabar sedikit, biarkan nyawaku terkumpul dulu!" Chae-young akhirnya menyerah, bangkit dengan rambut berantakan dan berjalan gontai menuju kamar mandi.

​Somi hanya bisa menghela napas panjang melihat punggung sahabatnya. "Sumpah ya, kamu mengajakku ke sini hanya untuk menontonmu tidur? Lebih baik kita di rumahmu saja kalau begitu! Jangan mengajak jalan-jalan kalau ujung-ujungnya membuatku emosi pagi-pagi!"

​Beberapa saat kemudian, Chae-young keluar dengan wajah yang sudah segar meski matanya masih sedikit sayu. "Maaf, Somi. Semalam aku kan tidur terlalu larut."

​Somi memanyunkan bibirnya, menirukan nada bicara Chae-young dengan gaya mengejek. "Maaf, Somi... semalam aku tidur terlalu larut..."

​Pertemuan Tak Terduga di Restoran Pagi
​Setengah jam kemudian, keduanya sudah duduk manis di sebuah restoran kecil yang menyajikan menu sarapan khas Jepang yang menenangkan. Aroma nasi hangat dan sup miso memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang nyaman hingga sebuah suara familiar memecah keheningan mereka.

​"Rose?"

​Chae-young mendongak perlahan. Sendok kayu yang hampir menyentuh bibirnya terhenti di udara. Di depannya berdiri seorang pria dengan pakaian kasual namun tetap terlihat rapi dan berkelas.

​"Jimin? Sedang apa kamu di sini?" tanya Chae-young, benar-benar terkejut hingga lupa menggunakan nama panggungnya.

​Jimin tersenyum kikuk, matanya menyipit membentuk garis bulan sabit yang khas. "Ada sedikit urusan pekerjaan di Tokyo. Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di restoran kecil seperti ini. Kamu sendiri?"

​"Sedang liburan singkat dengan temanku," jawab Chae-young, mencoba bersikap normal meski jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.

​Somi, yang sedari tadi merasa diabaikan, mulai berdehem keras sambil menepuk-nepuk udara di sekitarnya. "Duh, kenapa tiba-tiba ada nyamuk besar ya di sini? Rasanya aku mendadak jadi transparan," sindirnya terang-terangan.

​Chae-young tersadar dan segera memperkenalkan mereka. "Oh, maaf. Jimin, ini Somi, sahabatku dari Auckland. Somi, ini Jimin... teman sekolahku saat di Korea."

​Somi menyambut jabatan tangan Jimin dengan senyum yang sangat ramah, bahkan cenderung sedikit menggoda. "Kamu sendirian saja, Jimin? Tidak membawa teman laki-laki yang lain? Aku sedang ingin mencari kenalan, haha!"

​Jimin terkekeh, merasa terhibur dengan kejujuran Somi. "Sayangnya tidak. Aku datang bersama sekretarisku, tapi dia sudah kembali ke hotel duluan karena kurang enak badan."

​"Wah, sayang sekali," gumam Somi sambil melirik Chae-young. "Tapi lihat deh, kalian berdua sudah tidak kaku lagi ya? Sudah pakai bahasa santai, tidak seperti saat pertama kali bertemu."

​Wajah Chae-young mendadak bersemu merah. "Diamlah, Somi!" tegurnya pelan.

​Setelah berbincang singkat, Chae-young melirik jam tangannya. "Ya sudah kalau begitu, Jimin. Kami harus kembali ke hotel sekarang. Besok pagi sekali kami sudah harus berangkat ke bandara."

​"Iya, Jimin. Senang bertemu denganmu! Sampai jumpa di lain waktu," timpal Somi sambil melambai dengan gaya genitnya yang khas.

​Jimin mengangguk pelan, menatap keduanya dengan senyum yang sulit diartikan. "Iya, hati-hati di jalan."

​Pria itu terdiam di tempatnya berdiri, menatap punggung Chae-young yang perlahan menjauh dan menghilang di balik pintu otomatis restoran. Ia mengamati bagaimana Chae-young tampak lebih lepas dan percaya diri sekarang.

​"Dia benar-benar berubah..." gumam Jimin pelan.

​Tiba-tiba, mata Jimin membelalak. Ia menepuk jidatnya sendiri dengan keras hingga menimbulkan suara plak.

​"Bodoh! Aku lupa lagi meminta nomor telepon barunya! Astaga, Park Jimin!"

​Ia mengacak rambutnya frustrasi, berdiri mematung di tengah restoran sambil merutuki kecerobohannya untuk kesekian kalinya. Takdir sudah memberinya kesempatan emas di negara lain, namun ia justru membiarkannya lewat begitu saja tanpa mendapatkan satu digit pun nomor ponsel gadis itu.

 Takdir sudah memberinya kesempatan emas di negara lain, namun ia justru membiarkannya lewat begitu saja tanpa mendapatkan satu digit pun nomor ponsel gadis itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
ECHOES OF ROSEANNE [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang