[Memburu ke Laut Selatan]
Rose tidak menyia-nyiakan waktu. Berbekal uang tunai dan koneksi Kedutaan yang ia paksa, Rose berhasil menyewa perahu motor cepat dan seorang kapten lokal yang tahu seluk-beluk Laut Sulu—area yang terkenal berbahaya.
"Grid Island," tegas Rose, menunjukkan koordinat kasar di peta yang ia dapat dari deskripsi Jimin di masa lalu. "Kita harus sampai di sana secepatnya."
Jungkook terlihat pucat. "Sajangnim, ini berbahaya. Kita harus tunggu tim keamanan."
"Kita sudah terlambat setahun, Jungkook. Aku tidak akan menunggu sedetik pun lagi," potong Rose tajam.
Pelayaran itu brutal. Perahu mereka melaju membelah ombak selama hampir dua hari. Rose menahan mual, tetapi matanya tidak pernah lepas dari cakrawala. Ia hanya berpegangan pada harapan: korek api Zippo itu.
[Pulau Terpencil]
Akhirnya, mereka tiba di sebuah pulau kecil yang sunyi. Pantai berpasir putih diselingi vegetasi liar. Rose melompat dari perahu tanpa menunggu.
"Sajangnim! Jangan lari!" teriak Jungkook.
Rose mengabaikannya. Ia mencari tanda-tanda kehidupan, mengikuti insting. Tak jauh dari pantai, di balik semak belukar, ia menemukan sebuah gubuk kecil yang terbuat dari bangkai kapal dan daun kering.
Jantung Rose berdebar kencang, memukul rusuknya. Ia mendorong pintu gubuk yang reyot itu.
Di dalam, di atas tumpukan jerami, terbaring seorang pria.
Pria itu kurus, janggutnya tumbuh lebat dan acak-acakan, pakaiannya robek-robek. Ada bekas luka samar di pelipisnya. Sekilas, ia terlihat seperti penduduk pulau yang sakit.
Tetapi Rose tahu. Detail pada tulang pipinya, bentuk telinganya—itu adalah Park Jimin.
Rose mendekat, air mata langsung membanjiri wajahnya. Setelah setahun hidup dalam duka, wujud nyata Jimin yang hidup di depannya terasa seperti ilusi.
Pria itu tersentak kaget ketika Rose mendekat. Ia bangkit, matanya kosong dan penuh kebingungan.
"J-Jimin... ini aku. Rose," bisik Rose, mencoba meraih wajahnya.
Jimin mundur, menatap Rose tanpa ada sedikit pun kilau pengakuan. Ia bahkan tidak mengenali bahasa yang Rose gunakan.
"Siapa?" tanyanya, menggunakan bahasa campuran lokal, nadanya waspada.
Rasa sakit yang Rose rasakan setahun lalu kembali, namun kini bercampur dengan keputusasaan.
"Ini tunanganmu! Aku Roseanne! Kau ingat? Ikan Mesum?" Rose terisak.
Jimin menyentuh kepalanya yang terluka, wajahnya menunjukkan kebingungan yang parah. Amnesia.
Jungkook, yang baru tiba, tertegun melihat kondisi Jimin.
Rose meraih tangan Jimin dan dengan paksa meletakkan korek api Zippo itu di telapak tangannya.
"Lihat! Ini! Kau ingat hadiah ulang tahunmu? Lihat ukirannya! PJM! Ikan Mesum" Rose berteriak.
Jimin menatap korek api perak yang berkarat itu. Tangannya yang kasar memegang logam dingin tersebut. Ia menatap inisialnya, lalu menatap Rose.
Tiba-tiba, mata Jimin membesar. Rasa sakit dan ingatan berkelebat di wajahnya.
"Lele..." bisiknya, suaranya sangat serak. "Aku... Ikan Lele... Roseanne..."
Air mata Rose tumpah. Ia langsung memeluknya erat, membiarkan Jimin yang lemah dan linglung bersandar padanya.
"Ya, ini aku, Jim. Aku datang menjemputmu. Kita pulang."
Pencarian berakhir. Sekarang, perjalanan untuk memulihkan ingatan Jimin dimulai.
Rose bergerak cepat. Dengan bantuan koneksi kedutaan yang ia hubungi dari pulau terpencil itu, Rose berhasil mengamankan evakuasi medis darurat yang sangat rahasia. Prioritas utama Rose adalah menstabilkan kondisi Jimin, yang mengalami malnutrisi dan luka di kepala.
Selama perjalanan kembali, Jimin sebagian besar diam dan kebingungan. Ia akan berpegangan pada Rose, tetapi tatapan matanya kosong. Satu-satunya reaksi emosinya adalah ketika ia melihat korek api Zippo itu.
"Roseanne..." gumam Jimin, itulah kata-kata yang paling sering ia ucapkan.
Rose menjaganya tanpa lelah. "Aku di sini, Jim. Kita akan segera pulang, ke rumah kita."
[Setibanya di seoul]
Dua hari kemudian, Rose tiba di rumahnya di Seoul di pagi buta. Rose, Jimin (yang kini bersih namun lemah), dan Jungkook langsung disambut oleh Bunda Rose, Ayah, dan Chanyeol yang menunggu dengan cemas.
Bunda Rose melihat putrinya, lalu beralih ke pria lemah di sampingnya. Beliau terhuyung mundur, lalu menjerit kecil dan langsung memeluk Jimin dengan tangisan histeris.
"Jimin! Ya Tuhan!"
Chanyeol maju, matanya menyipit melihat kondisi Jimin, lalu ia memeluk adiknya. "Rose! Kamu berhasil!"
Rose hanya mengangguk, kelelahan. "Tolong, Bang, bawa dia masuk. Panggil dokter pribadi Ayah. Dia butuh privasi."
Dokter segera datang. Setelah pemeriksaan yang teperinci, hasilnya mengonfirmasi ketakutan Rose.
"Park Jimin mengalami trauma fisik dan psikologis yang parah, ditambah malnutrisi. Luka di kepalanya kemungkinan besar menyebabkan amnesia retrograd," jelas dokter. "Ia mungkin ingat hal-hal fundamental, tetapi ingatan tentang identitas dirinya, hubungan, dan peristiwa sebelum kecelakaan akan hilang. Kita harus sabar."
Kabar kepulangan Jimin segera disampaikan kepada kedua orang tuanya. Reaksi mereka luar biasa—campuran sukacita, tangis lega, dan kesedihan melihat kondisi mental putra mereka.
Rose kini memiliki misi baru: tidak hanya menyembuhkan Jimin secara fisik, tetapi juga membangun kembali ingatan dan cinta mereka dari awal.
KAMU SEDANG MEMBACA
HEALING WITH YOU | JIROSÉ [END]
Teen Fiction"Takdirku bukan untuk memilikimu. Tapi untuk mencintaimu dengan bahagia" Start : 28 Oct 2020 End : 8 Dec 2020 Revisi : 2025
![HEALING WITH YOU | JIROSÉ [END]](https://img.wattpad.com/cover/243090635-64-k780980.jpg)