"Lepas!!" Satu kata sarkas itu keluar dari mulut Renjun.
Ia mendorong Nakyung hingga jatuh terduduk di lantai. Beruntung, posisi handuknya menutup bagian bawah Nakyung meskipun atasnya terekspos bebas.
Kini Renjun menelan air liurnya kasar. Pemandangan di depan itu sungguh memanjakan mata. Dengan sigap, ia memalingkan wajahnya.
Gadis yang masih terduduk itu tersenyum kecil melihat Renjun dengan ekspresi datar yang tampak malu-malu dengan semburat merah dipipinya.
Manis sekali
Kalimat pendek itu semakin membuat Renjun bak kepiting rebus. Baru pertamakali ia menerima serangan bertubi-tubi seperti itu.
Nakyung dengan sigap memperbaiki handuknya kembali, ia lalu berdiri dan mendekati laki-laki yang masih mempertahankan posisinya itu.
"Namamu siapa?" Tanya Nakyung dengan telunjuk yang lancang memencet beberapakali pipi laki-laki itu.
"Bukan urusanmu gadis centil!" Balas Renjun
Bukannya tersinggung, lengkungan Nakyung semakin melebar.
"Oh ya? Kalo bukan urusanku lalu apa yang kau lakukan di kamarku ini?"
Telunjuk Nakyung berangsur-angsur turun hingga ke leher Renjun. Gerakan seduktif itu membuat laki-laki itu tak karuan. Matanya bahkan refleks tertutup.
"Hentikan!" Renjun mengambil tangan sang gadis, kemudian menggenggamnya erat.
Sekarang mereka saling bertatapan dengan tangan Nakyung dalam genggaman yang erat.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Nakyung semakin terpesona, ia kegirangan melihat tangannya digenggam meski terasa dingin.