Tidak memaksa untuk dijadikan prioritasnya namun tolong anggap keberadaan ku disini.
Start; selasa, 15 desember 2020
Finish; sabtu, 10 April 2021
Warning!!!
• ini cerita BxB
• cerita sendiri murni dari otak seorang pengangguran
• jangan plagiat loh...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Hallo, bagaimana istirahatnya?" Sapa Luhan yang sedang memakai seatbelt dengan senyum yang tak pernah luntur dari wajah cantiknya saat pertama kali melihat Sehun di kursi kemudi.
Sehun tidak menjawab sapaan Luhan, ia lebih memilih mengendarai mobilnya menuju tempat yang akan mereka kunjungi yaitu, pantai.
Luhan yang diperlakukan seperti itu oleh Sehun hanya menatap kekasihnya itu dengan ekspresi bertanyanya. Isi kepalanya banyak sekali pertanyaan yang harusnya ia tanyakan kepada kekasihnya ini namun sepertinya harus ia urungkan karena melihat wajah sang kekasih yang terlihat datar datar saja persis 4 tahun yang lalu saat mereka pertama kali bertemu di perpustakaan kampus.
Namun hatinya juga sakit saat melihat Sehun yang kembali menjadi sedingin es. Luhan berpikir apakah Sehun sedang marah kepadanya hingga kekasihnya itu mendiaminya selama di perjalanan. Namun kembali mengingat selama seminggu ini ia tidak bertemu dengan Sehun jadi ia merasa bahwa ia tidak melakukan kesalahan apa pun yang membuat sang kekasih jadi mendiaminya seperti ini.
Oh apakah sang kekasih marah terhadap Luhan karena sudah mengirimi banyak pesan singkat? Tapi itu kan bentuk kekhawatirannya terhadap Sehun.
Jadi, kali ini apa yang salah? Jika Sehun mengatakan bahwa Luhan berbuat salah kepada Sehun, Luhan akan dengan senang hati meminta maaf lebih dulu asal Sehun tidak mendiaminya seperti ini.
Ini membuat hatinya sangat sakit.
"Sehunie, aku udah pakai sweter terus juga coat karena kata kamu kita ingin pergi ke pantai kan. Aku nurut sama kamu, tapi kenapa kamu cuma pakai sweter aja?" Kata Luhan, dia berusaha lagi untuk mencairkan suasana.
Di tengah menunggu traffic light berubah kembali menjadi warna hijau, Sehun tiba tiba menatap Luhan tepat di kedua manik mata milik pria manis tersebut. Selalu, kedua manik mata itu selalu indah seperti biasa.
Sedangkan Luhan yang ditatap seperti itu segera menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan Sehun. Tatapan mata Sehun tidak seperti tatapan biasa saat pria tampan itu menatap matanya. Dan Luhan menjadi takut dengan tatapan itu.
Dan Sehun kembali melajukan mobilnya menuju tempat yang akan mereka kunjungi. Kebetulan mereka hampir sampai di tempat tersebut.
"Sehunie, jangan menatap ku dengan tatapan seperti itu. Aku takut" Kata Luhan dengan kepala yang ditundukkan sedangkan kedua tangannya bermain di ujung sweter yang dikenakannya.
Selesai memarkirkan mobilnya, Sehun segera menatap Luhan dengan lembut. Tangannya ia bawa untuk menggenggam tangan mungil milik sang kekasih. "Maafkan aku"
"Jangan minta maaf" Kata Luhan dengan suara yang lembut seperti sutra.
"Ayo kita turun" Ajak Sehun.
Sehun dan Luhan segera turun dari dalam mobil tersebut. Melangkahkan kaki mereka untuk lebih dekat kepada bibir pantai agar mereka lebih leluasa melihat matahari tenggelam untuk kedua kalinya dalam bulan ini.
Luhan tersenyum manis. "Kita udah 2 kali melihat sunset di bulan ini"
"Iyah. Bagaimana? Senang tidak?" Kata Sehun.
"Aku senang karena kembali datang ke sini bersama mu" Kata Luhan.
Sehun tersenyum sedikit memaksa, hatinya kembali sakit saat melihat wajah Luhan yang terlihat sangat senang. "Luhanie, aku ingin minta maaf kepada mu"
Senyum Luhan perlahan luntur karena lagi lagi Sehun mengatakan kata maaf kepadanya walaupun kekasihnya itu tidak mempunyai salah apa pun. "Aku bilang jangan minta maaf. Harusnya aku yang minta maaf karena selalu menyusahkan mu"
"Ayo kita akhiri ini" Kata Sehun.
Luhan mengerjapkan matanya, otaknya berusaha untuk mencerna setiap perkataan yang keluar dari mulut kekasihnya itu. "A-apa? Maksud kamu apa?"
"Kita putus" Kata Sehun setelah itu pergi meninggalkan Luhan yang saat ini tengah mengejarnya.
Luhan berusaha menggapai lengan Sehun. "Se-Sehun, kalo aku punya salah maafin aku ya. Aku gak mau putus, Sehun"
Sehun masih berusaha untuk menyingkirkan lengan Luhan yang berusaha untuk mengenggamnya.
Berjalan dengan terburu buru menuju mobilnya yang terparkir disana tanpa menolehkan kepalanya, tanpa mau menatap Luhan yang sedang duduk bersimpuh diiringi dengan isak tangis pilunya.
"Kamu jahat banget. Seminggu menghilang terus ngajak ketemu tapi tiba tiba minta putus. Maksud kamu apa, Sehun? Kalo aku punya salah maafin aku, aku gak mau putus dari kamu. Aku sayang banget sama kamu" Kata Luhan dengan isak tangis pilunya, kini kedua lututnya sudah bersimpuh di pasir pantai sana.
Luhan menangis kembali pada saat matanya melihat mobil Sehun yang sudah keluar dari parkiran sana. "Hikss... aku sayang banget sama kamu"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.