[ Taennie local fan fiction. PG - 15 myb? idk, rate can change according to the story ]
Mengutip dari perkataan Nathan, katanya, mantan itu manis di ingatan.
Dan seorang Taehyung Dhananjaya kini percaya akan hal itu.
Mantannya, masih sangat pekat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Silau adalah yang Jennie lihat saat ini. Wajar saja, matahari kini sudah mulai menampakkan sinarnya. Ia kemudian mulai mengerjapkan mata untuk mencoba beradaptasi dengan sinar yang menyergap netra.
Saat netra kucingnya sudah terbuka sempurna, ia menyadari kalau ini bukanlah kamarnya. Jennie mendengus, ternyata yang semalam bukanlah mimpi belaka. Ia benar-benar terjebak dirumah Taehyung.
Entah apa yang Jennie pikirkan tadi malam sampai ia berada diposisi sulit seperti ini.
Ya, posisi sulit.
Posisi sulit untuk mengatur degup jantung dan juga perasaan yang mati-matian coba ia hilangkan.
Bagaimana bisa perasaan berbunga ini kembali hadir? Jennie bahkan tidak mengerti.
Ia pikir dirinya sudah mati rasa.
Mungkin?
Tapi kini semua rasa yang mati, kini mulai merekah kembali.
Hanya karena pelukan? Hanya karena untaian kata manis yang diucapkan oleh lelaki ini? Mustahil rasanya. Namun, itu benar adanya.
Jennie, berhasil luluh kembali.
Terlalu asik dengan lamunannya, Jennie sampai tidak menyadari dering telfon yang sedari tadi berbunyi. Hingga sampai dering terakhir, Jennie baru meraih kembali sadarnya dan berusaha melepas pelukan Taehyung untuk mengangkat panggilan tersebut. Ia kira, panggilan itu berasal dari ponselnya. Namun ternyata, itu ponsel Taehyung. Dan nama yang tertera disana sudah cukup membuat bunga dihati Jennie layu kembali.
nayeon is calling...
Gemetar. Tangan Jennie gemetar, jantungnya berdegup cukup kencang. Ia kemudian mengatur napasnya, sungguh, situasi ini membuatnya tercekik. Rasanya ia kesulitan untuk bernapas dengan normal.