Pada akhirnya, salah satu doa yang pernah aku langitkan untukmu, Tuhan kabulkan hari ini. Kau berhasil menikah, menemukan pasangan yang baik untukmu, dan dijaga oleh manusia yang dipercaya oleh kedua orang tuamu, walau itu bukan aku. Aku yang diam-diam masih menjahit luka, terpaksa harus berhenti sejenak, tersenyum, lalu aku melihat undangan pernikahan yang tak bisa aku datangi itu dengan alasan; Aku tidak ingin melukai diriku lebih dari ini.
Ini jauh lebih sakit dari sebuah perpisahan, bayangkan denganmu dia hanya menyempurnakan dirinya sebagai manusia, dan sayangnya kau tak bisa bersama dengan seseorang yang sudah jauh lebih mekar dibanding bersamamu dulu.
Aku hanya bisa berdoa, “semoga itu perjalanan cinta terakhirmu, semoga itu pasangan yang bisa membawamu ke dunia yang kau impikan, semoga dia orang yang bisa membimbingmu dengan cinta tulusnya, semoga keluarga kecilmu dijaga oleh Tuhan”. Di dalam kamarku, aku hanya bisa tersenyum sambil meneteskan air mata, aku kembali menata rumahku dengan suasana yang baru, aku menyingkirkan segala macam kenangan yang bisa menyakitiku, dan tidak ada hal yang harus aku khawatirkan. Ku lanjutkan hidupku, aku tetap berangkat bekerja seperti biasanya, aku masih percaya cinta yang indah tengah menantiku di garis waktu.
Walau terlambat aku ucapkan; Selamat atas pernikahanmu.
—I.A