ilheyzalley

Mana yang cukup untuk "sekadar tahu", dan mana yang memang perlu "dicari tahu"? – Part 12
          	
          	
          	https://www.wattpad.com/story/235581529?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details_button&wp_uname=ilheyzalley
          	
          	
          	Sebagai perempuan, kita tuh sebenarnya butuh banget pola pikir yang kaya gini nggak sih??
          	Kadang kita terlalu cepat bereaksi terhadap sesuatu yang sebenarnya belum tentu layak dijadikan bahan konflik. Misalnya, tiba-tiba ngambek tanpa alasan yang jelas, atau mencemburui hal-hal kecil yang sebenarnya nggak penting. Malah bikin capek huhuhu
          	
          	Nggak semua hal yang pada saatnya kita tahu bisa dijadikan senjata untuk berantem. Penting buat kita belajar memilah: mana yang cukup kita ketahui sebagai informasi, dan mana yang memang butuh dikonfrontasi atau diklarifikasi ke pasangan.

ilheyzalley

Mana yang cukup untuk "sekadar tahu", dan mana yang memang perlu "dicari tahu"? – Part 12
          
          
          https://www.wattpad.com/story/235581529?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details_button&wp_uname=ilheyzalley
          
          
          Sebagai perempuan, kita tuh sebenarnya butuh banget pola pikir yang kaya gini nggak sih??
          Kadang kita terlalu cepat bereaksi terhadap sesuatu yang sebenarnya belum tentu layak dijadikan bahan konflik. Misalnya, tiba-tiba ngambek tanpa alasan yang jelas, atau mencemburui hal-hal kecil yang sebenarnya nggak penting. Malah bikin capek huhuhu
          
          Nggak semua hal yang pada saatnya kita tahu bisa dijadikan senjata untuk berantem. Penting buat kita belajar memilah: mana yang cukup kita ketahui sebagai informasi, dan mana yang memang butuh dikonfrontasi atau diklarifikasi ke pasangan.

ilheyzalley

Nikah itu bukan sekadar mau dan cepat. Harusnya menikah itu kalau memang sudah siap, sudah nggak egois, dan sudah pada waktunya – Part 15
          
          ---
          
          https://www.wattpad.com/story/352750820?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details_button&wp_uname=ilheyzalley
          
          ---
          
          
          Jadi, berkaca diri. Kata Mbak Gendhis, "Nanti dulu. Kalau udah nggak egois sama diri sendiri—udah nggak pengen main jauh-jauh terus—baru deh siap nikah."
          
          Dari sudut pandangku, menikah berarti harus rela waktu main berkurang, atau bahkan nggak bisa main sama sekali. Harus rela uang jajan yang biasanya buat beli makeup atau skincare, dialihkan buat kebutuhan rumah tangga.
          
          I'm 23 now, but my freaking fams udah mulai nanya: "Mana calonnya? Kapan nikah?"
          Jujur, udah mulai kepressure

bnauree

halo kak, selamat pagi! i’m sorry for leaving mess on your wall, kalau tidak berkenan boleh sekalii dihapus, aku izin promosi sebentar ya kak, aku baru publish work baru, tropenya seputar disability dan mental issue yang dibalut sama slowburn romance remaja,
          
          https://www.wattpad.com/story/227057164?utm_source=ios&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details&wp_uname=bnauree
          
          terima kasih kak <3

ilheyzalley

"pernikahan itu bukan terjadi karena cinta untuk anak, pernikahan terjadi karena kalian membutuhkan satu sama lain secara pribadi -"
          
          "- dari sudut pandang anak yang selalu pulang ke rumah tempat orang tua setiap hari bertengkar, being together for the sake of raising a child is just 'not right'" - part 46
          
          https://www.wattpad.com/story/227091610?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details_button&wp_uname=ilheyzalley