10. Menguak Masa Lalu

152 17 4
                                        

▪︎♡▪︎
Ingatlah pasti akan ada suatu titik
Dimana kita akan merasa
Bahwa seseorang telah berlaku jahat
Namun ingatlah bahwa
Seseorang akan menjadi baik untuk orang yang baik
Dan menjadi jahat untuk orang yang jahat pula
▪︎♡▪︎

Selamat membaca


.


.


.


Setelah mengantar jaemin pulang, jeno memutuskan untuk pulang kerumah karena bundanya sedang pergi ke luar kota ke rumah pamannya yang sedang sakit, takutnya nanti jisung pulang dan tidak bisa membuka pintu karena kunci rumah ada bersama jeno.

Setelah sampai jeno membuka pagar rumahnya, namun pergerakannya terhenti ketika ia melihat seorang lelaki paruh baya duduk di teras rumahnya.
Sekelebat bayangan masa kecil yang menakutkan berputar di kepala jeno memenuhi saraf otaknya seperti film yang terus memperlihatkan adegan demi adegan.

Bukan hanya itu tubuhnya juga mulai mengeluarkan reaksi, tangan mendingin,  tatapan kosong, dan bibir kelu yang tidak dapat mengeluarkan sepatah kata pun.

Perlahan sosok itu mendekat ketika tidak mendapatkan respon atas kehadiran dirinya. Tatapan yang sarat akan rasa bersalah terasa begitu menjijikan untuk dilihat.

Sosok itu mencoba menyentuh tangan jeno, “jeno ini papa”

Namun sentuhan lembut itu tidak mendapatkan reaksi yang bagus, jeno langsung menepis dan bergerak mundur.

Donghae tertegun melihat reaksi anak sulungnya, “ apakah p‒papa seburuk itu di m‒matamu”

Kalimat yang seakan tertahan menandakan bahwa dia merasa begitu sakit hati akan respon anaknya.

Namun tidak tahukah bahwa bukan hanya ia yang merasa demikian.

Jeno menguatkan hatinya, “mengapa datang setelah pergi tanpa jejak, mengapa kembali setelah meninggalkan luka,dan mengapa kembali menemui orang yang telah lama kau buang” kata jeno menyuarakan isi hatinya.

Donghae berlutut di depan anaknya, “papa minta maaf” katanya sambil memegang lutut sang anak.

Jeno semakin muak melihatnya “berdiri, untuk apa kau berlutut di depan orang yang telah kau buang” kata jeno sambil mengepalkan tangannya.

Donghae mendongakkan kepalanya,     “ lalu kepada siapa lagi ayah minta maaf” katanya

“ternyata setelah sekian lama kau masih belum sadar akan kesalahanmu”

Donghae tertegun sepertinya ia telah salah mengatakan sesuatu yang dapat memancing amarah jeno.

“papa tidak tau lagi harus memohon seperti apalagi padamu” kata donghae kalimatnya terdengar seakan putus asa.

“kau menyakiti kami berkali-kali namun hanya meminta maaf satu kali, itu terdengar tidak adil”

“maafkan ayah jeno sungguh ayah minta maaf”

“lalu kemana kau selama lima belas tahun ini ?” tanya jeno penuh tekanan.

“kau tidak tulus meminta maaf padaku”

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 29, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

𝑲𝒂𝒎𝒖𝒍𝒂𝒉 𝑻𝒂𝒌𝒅𝒊𝒓𝒌𝒖 [𝑵𝒐𝒎𝒊𝒏]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang