Part 3 - Udang di balik batu

108 49 4
                                    


"Kalian aja ya yang mesen, menunya samain, aku sama Jeje cari tempat kosong" ucap Dania. Mereka duduk di bagian kantin paling pojok dekat parkiran karena memang disitu jarang ada yang menempati.

"DANN"

"Hwaa..." gimana nggak kaget, si Regan tiba - tiba menarik kursi Dania hingga ia hampir terjengkang ke belakang.

"Ihh... Regaaan" ia menyubiti Regan tak henti - henti.

"Eh aduh duh udah sakit woi, merah semua badan gue" ucap Regan sambil nengindari cubitan Dania.

"Dan, Je, kita gabung meja ya" ucap Rafi sambil membawa nampan berisi makanan.

"Iya fi gaapa" ucap Jeje.

"Gak gak, kecuali Regan, sono lo jauh - jauh, kaga usah gabung sini, hush"

"Sensi amat lu lagi pms yak" ucap Abim tersenyum miring.

Alya dan Iren pun datang. Mereka semua makan dalam keheningan, tidak ada yang membuka pembicaraan sedikitpun.

"Balik dulu ya, gua ada tugas belum selesai" ucap Wildan.

"Oke brou"

Tidak lama kemudian, mereka juga balik ke kelas masing - masing. Mereka memang beda kelas, mereka saling kenal karena bergabung dalam organisasi yang sama yaitu osis. Yang sekelas hanya Dania, Alya, Iren, Jeje, dan Regan.

Banyak yang tidak menyangka jika Regan terpilih menjadi ketua osis. Dari tingkah lakunya ia tidak cocok untuk dijadikan ketua, tetapi di sisi lain ia adalah sosok yang berwibawa dan bertanggung jawab.

Regan adalah teman Dania sejak masih sekolah dasar. Jarak rumah mereka hanya terpaut beberapa rumah saja.

Entah kenapa, tidak ada angin dan tidak hujan, Regan tiba - tiba mengajak Dania pulang bareng.

"Dania, nanti pulang bareng gue yak"

"Widih, tumben baik lo" ucap Dania tersenyum senang.

"Yoda ntar tungguin di gerbang depan aja" kata Regan.

"Siap bosque"


____

"Gais, gua pulang duluan, udah dijemput" seru Alya.

"Tumben lo ga bawa motor?" tanya Iren.

"Iya anu motor ku lagi berobat ke bengkel" ucap Alya terburu - buru.

"Hati - hati Al"

Sesuai perkataan Regan, Dania pun menunggu duduk di kursi gerbang depan sambil mengayunkan kakinya. Lalu ada notifikasi line masuk.

Regan
Dan, tunggu ya, gua mau ke ruang guru bentar

Dania
Okedeh, jangan lama - lama, ntar gua lumutan

Regan
Bodo amat wlee

Sudah sekitar setengah jam ia menunggu akhirnya Regan datang juga.

"Naik cepet, mendung langitnya, keburu hujan" ucap Regan.

"Yee, yang lama juga siapa"

Benar saja, masih setengah perjalanan, mereka terjebak hujan. Akhirnya mereka berteduh dulu di kafe. Regan pergi memesan makanan karena kebetulan ia juga agak lapar. Ia memesankan Dania kentang goreng dan matcha.

Regan meyodorkan makanan milik Dania.

"Lah gua kan ngga mesen, lagian uang gua juga abis"

"Udah makan aja"

"Jadi ini ceritanya lo nraktir gua gitu??"

"Iyaa Dania cantik"

"Hehe makasi ya Gan, tau aja kesukaan gue"

Mereka berdua sibuk dengan ponsel masing - masing sambil makan.

Dania
Mah, Dania pulang agak telat ya, ini aku kejebak hujan, masih neduh di kafe sama Regan
15.20

Mama
Ya Dan, hati - hati
15.21


Kemudian Regan pun angkat bicara.

"Dan, gue mau ngomong sesuatu" ucap Regan dengan tampang serius.

"Kenapa Gan?" tanya Dania mulai penasaran.

"Jadi sebenernya..

Drrrtt drrttt
Ponsel Regan bergetar.

Dania yang kepo mulai penasaran karena ketika Regan berbicara serius, entah kenapa hawanya sedikit berbeda gitu.

"Halo iya Wil, oh okesipp" Regan menutup telfonnya.

"Siapa? Wildan?" tanya Dania.

"Iya, jadi sebenernya...

Drrtt drrtt

"Anying ni hp ganggu banget si" ucap Regan kesal. Ternyata getar kali ini bukan telfon melainkan alarm. Ia pun mematikannya.

"Jadi kan sekolah lagi ikut olimpiade biologi tingkat kota gitu, nah elu ditunjuk sama Pak Tjondro buat ikut, nanti lu pasangan bertiga ama Wildan Rafi, gimana mau kan?" jelas Regan panjang lebar.

"Ih elu mah nganterin gua ada maunya, au ah males" ketus Dania.

"Hehehe... Eh tapi serius yang gua bilang tadi, coba lo pertimbangin dulu deh, lumayan kan bisa nambah sertif buat SNMPTN" ucap Regan.

"Hmm..."

"Loh Wildan, kok lo di sini? Kan arah rumah lo ngga ke sini njir" ucap Regan.

"Gue lagi mau ke kantor bokap, terus hujan, jadi mampir deh ke sini. Tadi dari jauh gue lihat kok kayak kenal, eh ternyata emang bener hahaha" ucap Wildan terkekeh.

"Berarti lo nelfon gua tadi, lo udah di sini?" tanya Regan.

"Yes maybe"

"Gan, lo udah bilang ke Dania?" tanya Wildan.

"Bilang apaan? Oh yang tadi?" tanya Dania sambil melirik Regan yang sedang menganggukan kepala.

"Gue sih gass, ntar tinggal atur belajar barengnya aja" kata Wildan sambil menatap Dania yang masih bimbang untuk ikut olimpiade atau tidak.

"Belum tau Wil, bingung gue mau ikut tapi males juga" ucap Dania dengan senyum miringnya.

Wildan menganggukan kepala sambil meng-oh-kan apa yang dibilang Dania.

"Kalo misal lo ngga ikut terus diganti siapa njir?" Wildan menoleh ke Regan, seolah - olah ia tau akan segalanya.

"Ya mana gue tau, kan gue cuma menyampaikan info anjir"

"Gan, balik yuk, hujannya udah lumayan reda" ajak Dania. Hawa dingin membuat ia mengantuk dan segera ingin menempel di tempat tidur.

"Yaudah hayuk, lo mau di sini apa ikut cabut?" Regan menanyai Wildan.

"Ikut balik aja dah, cus"

Mereka memutuskan untuk balik ke rumah meskipun gerimis.






Jangan lupa vote dan komen 😉

Selamat membaca
Terimakasih ❤

Cold but GoldTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang