Fourth Mission : bagian 1

102 7 0
                                    

Meninggalkan misi pertamanya, Tsuki kembali kekamar yang sudah di desain sedemikian rupa sebagai tempat tinggalnya. Tak ada furniture apapun disini karena sejak awal adaah ruang kosong. Hanya ada satu jendela besar yang terbubung dengan balkon dan menjadi pemandangan satu-satunya bisa ia lihat. Bangunan ini hanya terdiri dari sepuluh lantai.

Di lantai satu ada pemimpin mereka yang masih misteri dan dilantai bawah orang-orang seperti Shin yang memegang kendali beberapa agent dan sisanya di huni pegawai kantoran biasa.

Tsuki mengambi sesuatu dari laci nakas dan sebuah benda panjang pipih, ia kemudian memantik dan membakar ujung sipanjang kecil di mulutnya. Di era ini, hanya ada sedikit pengguna nikotin dari masa lalu karena sebagian benda dijaman ini berubah menjadi mode elektrik.

Mengambil tarikan satu kali yang cukup panjang, ia menghembuskan asar rokok tersebut hingga membumbung tinggi keudara oleh angin. Kemilau cahaya begitu membuat matanya terpesona, bahkan setelah sekian lama tak ikut andil, dunia tetap bisa berjalan dan terus maju tanpa dirinya. Suatu saat nanti keberadaannya juga pasti akan menghilang tanpa penuh arti untuk dunia.

Angin malam menerpa wajah tampan miliknya dan menggoyangkan helaian rambut yang tak tertata rapi. Tanpa disadari waktu sudah menujukkan pukul sebelas malam. Dan ia sudah menghabiskan tiga batang rokok terhitung dengan yang ada dimulutnya kini.

Tsuki mencoba untuk tidur dan rasanya sangat sulit, ia berjalan mengambil susu dari kulkas yang sudah disiapkan Shin. Jujur ia ingin bertemu dengan Aoi lagi, tapi Ryuu melarang dan mengancamnya.

Glu. Glug. Glug. 

Susu yang ia panaskan sendiri mengalir begitu erotis dan menciptakan kesan seksi saat buah adam di lehernya bergerak naik turun. Hanya tinggal sedikit lagi dan ia berhasil menghabiskan, namun pintu kamarnya di ketuk keras.

Bunyi gedoran pintu itu bahkan mungkin sanggup jika harus membangunkan satu rt, untungnya hanya sedikit penghuni dilantai yang sama dengannya.

"Siapa malam-malam begini?" pikir Tsuki tanpa curiga. Ia lalu berjalan membukakan pintu, ia dikejutkan dengan tubuh besar limbung dan hampir saja jatuh jika ia tak menangkapnya.

Semerbak wangi pohon pinus yang habis tersiram hujan memenuhi indera penciumannya. Bulu kuduk Tsuki meremang. Feromon Ryuu bak hutan hujan tropis tempat yang ia sukai. Tapi ini juga berarti Ryuu sehabis melakukan sex dengan pasangannya mungkin, terbukti dari bau cairan khas yang masih menempel.

"Kau menyusahkan." Kesal Tsuki tetap membawa Ryuu ke kasurnya yang ukuran sedang.

Tubuh Tsuki yang memang sejak awal sudah kuat dengan mudah menaruh pria besar itu ditempat tidur. Jangan harap akan ada kejadian seperti didalam novel-novel romantic kalian baca. Ia kemudian berbalik berniat menghabiskan sisa susu, mubazir jika di buang. Baru selangkah ia berjalan, tanpa sengaja tangan besar Ryuu menarik tangan dan membawa tubuhnya ikut jatuh kedalam pelukan.

"A-Apa yang kau lakukan..??!!" Tsuki dipaksa untuk mendekat, Ia sedikit menahan dengan kedua tangan agar wajah dan dada Ryuu tak bersentuhan.

Aku pasti akan gila jika seperti ini. Teriaknya dalam hati.

Sepertinya pemuda itu juga mabuk dalam perjalanan kemari. Bukannya semakin lepas, tangan besar milik Ryuu justru mendekapnya begitu erat. Tak ada kesempatan baginya melarikan diri dalam posisi seperti ini. Jika omega lain yang jadi Tsuki, sudah dipastikan inheat akan segera tiba.

"Izumi..." Gumam Ryuu sedikit mendekatkan bibirnya kekening Tsuki. Demi apapun, hati Tsuki terasa diremukkan menggunakan handsteel. Ia tak peduli lagi apakah orang didepannya ini akan bangun atau tidak, tapi dengan sekuat tenaga dirinya mendorong dada besar itu jauh. Dan berhasil.

Omega's AgentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang