Chapter 6

1.6K 135 8
                                    

"Sasuke! Ikut kami ke Konoha!"

Tiada angin tiada hujan, tiba-tiba Sasuke sudah duduk di atas sebuah burung yang terbuat dari jutsu tinta. Di depannya, seorang yang ia kenali sebagai Sai, berkonsentrasi agar mereka bisa terbang lebih cepat. Lalu di sebelah kanannya ada Pakkun yang masih saja diam, padahal anjing itu paling ngotot menariknya untuk mengikuti mereka. Ada apa sebenarnya? Segala jenis spekulasi berputar dalam tempurung kepala. Akan tetapi, diamnya Pakkun tak menjawab apa-apa. Bukannya penjelasan, yang Sasuke dapat malah kegelisahan makin merajalela.

"Ada apa sebenarnya?". Lagi, satu pertanyaan melingkupi hening malam itu. Sasuke sudah tidak kuat jika keduanya tetap membisu. Maaf saja, Sasuke bukan tipikal orang yang sabar menunggu. Ia bisa nekat lompat, jika hal itu memang perlu. "Katakan! Atau aku akan lompat sekarang!"

Kecepatan terbang dari burung itu meningkat. Sasuke makin taksabar. Pakkun telah berubah jadi teman yang menjengkelkan.

"Uzumaki Naruto...", Sai buka suara. Meski wajahnya masih terlihat fokus ke depan. Satu tangannya membuat segel dan burung itu terbang makin cepat. "Dia menggila di rumah sakit dengan menggendong seorang bocah dalam keadaan sekarat –

Menma...

– kalau kau mengerti diamlah dan biar aku berkonsentrasi agar kita cepat sampai di Konoha."

.

.

.


Ada sendu menggantung di sekeliling ruang. Jejak-jejak derap langkah senyap. Tersisa hanya uap dari tertahannya nafas walau sejenak. Kehadiran itu begitu mengguncang. Tiada satu pun berani berucap. Membuat objek pengalih perhatian mereka hampir menyerukan vibrasi kedua. Sebelum kembali ditelan dalam sebentuk suara salah satu dari mereka.

"Sasuke...."

Gema lirih itu menjadi awal dari sekelebat bayang. Mungkin bagi pemilik nama, suara rendah bernada putus asa adalah yang paling ia hindarkan. Namun bukan itu tujuan dirinya memperlihatkan rupa. Ada yang lebih penting dari sekedar reuni bersama 'teman' lama.

Sakura lekas tersadar. Jemarinya segera bersarang di kedua bahu pemuda yang paling ia rindukan. Wanita merah muda itu menahan perasaan yang menyentak keluar. Sebisa mungkin agar tak menimbulkan kekacauan karena air matanya tertumpah ruah.

"Sakura... bagaimana keadaan putraku!"

Kali kedua seruan itu berkumandang. Sakura mengumpulkan tenaga agar bibirnya mau diajak kerja sama. Mengungkapkan kejanggalan pada pasien yang baru saja ia selamatkan. Otaknya memroses ucapan Sasuke dengan kecepatan tak terkira. "Dia... baik-baik saja", namun hanya itu yang mampu Sakura beri sebagai jawaban.

Sasuke mengusir berjuta pikiran negatif. Berganti menjadi sebentuk syukur kepada Tuhan atas karunia yang ia bagi. Menma sudah jauh dari kritis. "Boleh aku melihatnya?"

Jelaga itu meminta, memaksa Sakura menganggukkan kepala. Si wanita tidak tega membiarkan sepenggal harap sirna. Dan ia biarkan Sasuke masuk ke sana. Guna melihat sang putra yang masih belum membuka mata.

.

.

.

Sepeninggal Sasuke, Kakashi buka suara. Ada banyak tanya yang ingin ia ajukan pada mantan muridnya. Perihal kondisi Menma meski sekarang bocah itu baik-baik saja. Ia masih belum lega, apalagi mengingat Pakkun pernah berkata tentang segel yang ada di bahu kanannya. "Sakura, apa tidak ada hal aneh terjadi?"

Menutup mata sejenak, mengembalikan pada ekspresi semula. Dia, Sakura, berkata, "Aku tidak tahu ini berbahaya atau tidak, tanda di bahunya bersinar sebelum aku sempat melakukan pertolongan pertama. Tapi berkat itu, bisa dipastikan kondisinya baik-baik saja, yang tersisa saat ini hanya luka luar saja. Itu pun sudah mengecil, tidak seperti saat pertama kali dibawa ke sini. Memangnya kenapa, guru?"

LUKA |EndTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang