Warning! 21+
Sehari sebelum pernikahannya, Jeffry Devano harus merelakan sang Kekasih pergi bersama lelaki lain. Demi menjaga nama baik kedua keluarga, Devan terpaksa menerima Alana untuk menjadi Pengantin Pengganti sang kekasih. Alana yang tidak la...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mungkin di masa lampau, Alana pernah berbuat dosa yang begitu besar hingga kini ia harus menanggung itu semua dengan cara dihadapkan pada situasi yang mencekam.
Gadis itu seperti tidak bisa lagi merasakan di mana kakinya berpijak saat ini. Bumi seolah menghilang dari pandangannya, dan sunyi seakan mengelilingi dirinya. Alana nyaris membeku ketika ia menangkap tubuh tegap Jeffry Devano yang berdiri di depannya dengan wajah dingin.
Alana seperti sedang tertangkap basah berselingkuh. Ia ingin tenggelam saja, ingin lari dan pergi sejauh mungkin dari sana. Oh, seandainya Alana memiliki kantung Doraemon, ia akan mengeluarkan pintu kemana saja saat ini juga.
"Mas Devan?"
"Ngapain kamu di sini?" Devan bertanya, untuk yang kedua kali, yang sama-sama berhasil menyulut kegugupan di diri Alana.
"Oh ... i—itu." Gadis itu menjadi salah tingkah. Ia bergerak blingsatan menatap Devan yang masih menunjukan wajah dinginnya, lalu beralih menatap Bastian yang juga menunjukan wajah tidak suka.
Alana rasanya akan menjadi abu saat ini juga.
Begitu pun saat Devan menatap tidak suka ke arah Bastian. Tidak hanya itu, Bastian yang masih berdiri di samping Alana juga membalas tatapan Devan. Keduanya saling bersitatap seolah ada kilat petir di mata mereka yang saling beradu.
"Em ... aku cuma lagi ngobrol sebentar sama Bastian."
"Di tempat seperti ini?" Pertanyaan Devan semakin membuat Alana ketakutan.
"Eng ... iya, soalnya Bastian gak bisa ngobrol di tempat ramai."
Devan masih tidak bisa menerima alasan Alana itu. Ia lantas kembali melemparkan pertanyaan menyindir. "Kamu pikir ini tempat sepi?"
Di sekeliling mereka banyak orang yang berlalu lalang, dan ada banyak kendaraan yang berhenti di pinggir jalan. Devan benar, ini bukanlah tempat yang sepi.
"Tapi aku—"
"Gue yang salah," Bastian menyela, lalu mengulurkan tangannya ke arah Devan. "Gue Bastian Rangga, teman Alana."
Untuk sesaat Alana masih bisa bernapas lega karena Bastian tidak memperkenalkan dirinya sebagai mantan kekasih di depan Devan. Tapi semua itu tidak bertahan lama saat jabatan tangan Bastian tidak mendapatkan respon apa pun dari lelaki yang sudah berstatus sebagai suaminya itu.
Devan hanya menatap jabatan tangan Bastian tanpa minat. Alana yang merasa situasi ini mulai membuatnya sesak, segera menarik tangan Bastian dan menyengir kaku. "Dia ... Devan, suami aku," jelasnya. "Dan, Mas Devan ... ini Bastian." Mantan kekasih aku, tapi Alana tidak akan menyebutkan kalimat terakhirnya. Ia masih tahu diri untuk tidak menambah masalah.
Eh, tapi, apa masalahnya? Devan tidak mungkin cemburu kan?
Bastian sebenarnya sudah tahu kalau lelaki sombong di depannya itu adalah suami Alana. Tapi kenapa Alana harus memperjelas itu. Membuat hatinya sakit saja.