Warning! 21+
Sehari sebelum pernikahannya, Jeffry Devano harus merelakan sang Kekasih pergi bersama lelaki lain. Demi menjaga nama baik kedua keluarga, Devan terpaksa menerima Alana untuk menjadi Pengantin Pengganti sang kekasih. Alana yang tidak la...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Seraya melepaskan penyatuan mereka, Devan lalu berguling dan menjatuhkan tubuhnya di samping sang istri yang sedang berbaring menatap langit-langit kamar. Napas mereka masih sama-sama memburu, seolah saling berebut oksigen untuk masuk ke dalam paru-paru.
Di detik selanjutnya, semua terasa hening. Devan memejamkan matanya, menikmati pelepasan mereka yang sangat luar biasa. Tubuh Alana rasanya seperti candu, membuat Devan ingin merasakannya lagi dan lagi.
Sebenarnya, sejak malam pertama tubuh mereka menyatu, Devan sangat menyukai itu, ia bahkan tidak bisa melupakannya. Meski Devan telah menghindar, meski ia mencoba mengelak, tapi bayangan ketelanjangan Alana sama sekali tidak bisa ia hilangkan. Tubuh polos gadis itu terus berputar-putar di dalam kepalanya.
"Mas."
Devan sedikit tersentak saat panggilan lembut Alana menggema, lalu dibukanya kedua mata itu secara perlahan.
"Aku kan udah nurutin semua kemauan Mas Devan."
Lantas ia menoleh, memandangi sang istri yang juga sedang memandanginya. Alana masih bertelanjang bulat, belum menutup tubuhnya dengan selimut.
"Berarti, sekarang saatnya Mas Devan untuk nurutin permintaan aku."
Sesuai kesepakatan mereka malam itu, Alana akan melayani Devan, dimana pun, dan kapan pun lelaki itu mau. Begitu juga dengan Devan yang harus menuruti semua permintaan Alana.
"Mas udah janji."
"Memang apa permintaan kamu?"
Alana sontak melebarkan matanya, tidak mengira dengan respon Devan yang tidak memprotesnya. Ia kira, lelaki itu akan langsung menolaknya mentah-mentah.
"Mas Devan beneran mau nurutin maunya aku?" ulang Alana tak percaya. Ada perasaan tak biasa saat mata mereka saling bertemu.
Devan hanya bergumam sembari menyetujui. "Memang apa?"
Tentu saja karena senang Alana dengan cepat memiringkan tubuhnya menghadap penuh ke arah lelaki itu, hingga kini tubuh telanjangnya bisa dengan leluasa Devan lihat. "Aku mau Mas Devan gak menghindar lagi dari aku," katanya, tanpa tahu kalau posisinya saat ini sudah mengganggu cara kerja otak Devan. "Kamu harus pulang ke rumah tepat waktu, gak boleh makan di luar. Harus terima setiap aku masakin."
Bibir Alana terus mengoceh, tapi bukan itu yang menjadi perhatian Devan. Mendadak pandangannya menjadi tidak fokus saat dirinya menangkap tubuh polos Alana yang menggoda di depan sana.
Oh, tidak! Sudah cukup!
"Gimana, Mas?"
Devan lalu berdehem kaku, memalingkan wajah seraya mengusap tengkuknya pelan. "Ehm ... kamu gak mau pake selimut dulu?" tanya Devan gugup, tenggorokannya pun mendadak ikut tercekat.
Alana yang bingung lantas menatap turun tubuh polosnya yang berkeringat. Kedua bahunya mengedik, seolah tidak berniat untuk menutupi itu. "Gerah," jawabnya.