CHAPTER TUJUH
Aku tahu, Yeonjun memang tidak menyukaiku.
Memang tidak secara gamblang, hanya saja dari bahasa tubuh, arti tatapan dan juga sikapnya, sudah terlihat jelas dia agak tidak menyukaiku. Jinny sadar betul untuk menjauh, membangun jarak dan berdoa agar mereka tidak disatukan atau .. celaka! Jinny tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini.
"Jinny, kemari." Satu pelatih mengangkat suara membuat gadis tersebut bangkit dan membungkuk. Pelatih itu masih terlihat muda, apalagi dengan rambut terpotong pendek dan senyuman tipis. "Aku memperhatikanmu sejak tadi, apakah kau melamun? Apa yang kau pikirkan?"
"Ti—tidak, Coach. Aku hanya .."
"Kalau kau sudah berada di sini maka pikiranmu juga harus berada di sini. Lupakan dan abaikan masalah di rumah atau di keluargamu, paham?" Pelatih muda itu menatap lurus. "Itu akan memudahkanmu untuk tetap bertahan."
Yah, Jinny tidak dapat menampik. Sepanjang waktu di sini, dia jadi bertanya-tanya; bagaimana dengan ibu? Bagaimana dengan adiknya? Bagaimana dengan Soodam serta keluarga Lee? Jika memang Jinny "didepak" dari sini, apakah dia masih boleh tinggal di sana padahal sudah membuat keputusan sebesar ini?"
"Kau akan mendapatkan mentor di awal minggu nanti."
"Oh, ya, terima kasih."
"Kau mengenal Choi Yeonjun?"
Jinny berkedip. Uh? Ada apa.. "Tentu, kami dari klub tadi dan sekolah yang sama. Dia pergi bersamaku juga sewaktu kemari." Agak canggung membicarakan sosok itu apalagi dengan kemungkinan Yeonjun dapat mendengar percakapan mereka.
"Menarik." Pelatih itu pun menepuk pelan bahu Jinny. "Aku yakin kau bisa bertahan sampai akhir."
.
.
Emy tengah merenggangkan otot lengannya sewaktu bunyi pengumuman terdengar. Bahkan matahari masih bersembunyi mereka cepat bergegas untuk bangun, mencuci wajah kemudian Emy mengguncang bahu Gillian dan Mary yang masih bergumul dalam selimut, sangat nyaman. "Kita harus ke aula!" pekiknya.
Jinny bergegas mengikat rambutnya tinggi, memasang satu perekat anti nyeri di lengannya dan cepat mengenakan sepatu. Ketika mereka keluar kamar, Jinny hampir terjungkal karena Yeonjun melewatinya secara mendadak. Pandangan mereka sempat beradu namun Yeonjun cepat melenggang menyusun yang lain. Bagaimana pun, mereka adalah saingan di sini. Jinny sudah paham betapa dingin dan cueknya sikap Yeonjun seakan menegaskan bahwa kita bukan teman, bukan rekan satu tim, bukan segala-galanya.
"Ayo, Jinny!"
Gadis itu pun mengangguk. Sungguh tiap kali mendatangi aula, Jinny terus merasa mulas dan gugup, campuk aduk. Apalagi dengan banyak peserta lain yang makin hari nampak semakin menunjukkan "taring" mereka dan membuat seluruh ruangan penuh aura persaingan. Jinny hanya berharap dia tidak perlu maju sekarang atau mendapatkan masalah. Tetap di bawah radar, tetap tenang dan tidak terlalu mencolok.
Dekat pintu masuk mereka berbaris kemudian dipasangkan satu kertas nomor di depan dada. Para gadis dibantu oleh pegawai perempuan sedangkan para pria dibantu pegawai laki-laki berbadan tegap. Jinny maju, mengikuti peserta lain masih dengan tubuh gemetaran dan bibir menekuk tegang.
"Dengar, kalian akan dipasangkan hari ini untuk tes selanjutnya," katanya ketika Jinny semakin maju. Samar-samar dia mendengar ada protesan di sekitarnya.
"Serius? Secepat .. ini? Aku pikir bukan sekarang."
"Apakah kami terdiri dari tim atau hanya berdua saja?"

KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Matches | txt x secret number
FanfictionBermimpi itu mahal. Jinny Park pikir dia akan debut dengan cepat kemudian mendapatkan penghasilan dari kerja kerasnya. Ternyata, jalan yang dia tempuh tidak semudah itu. Apalagi Lee Soodam, anak dari majikannya, berkali-kali menyeretnya dalam berbag...