CHAPTER TIGA
Sesampainya di sana, Yeonjun berbalik kepada Jinny dan membantu mengangkat tas besar Jinny dari bagasi bus. "Terima kasih," jawab gadis itu dengan terkejut. Yeonjun mengangguk dan mengangkat tas hitam tersebut dengan mudah, sedangkan Jinny mengikutinya dari belakang. Banyak orang asing di sini jadi dia tidak tahu bagaimana bisa cepat akrab. Dari penampilan maupun cara bicara satu sama lain, sepertinya mereka pun orang berpengalaman dan sudah lama berjibaku dalam dunia tari. Mungkin ini kamp audisi mereka yang kesekian? Jinny hampir tertinggal di belakang karena terus melamun.
"Kita dapat kamar di lantai tiga, setelahnya berkumpul di aula," ujar Yeonjun.
"Ki—kita?" Jinny hampir terjungkal di anak tangga sesaat Yeonjun memberitahunya. Pria itu, mendadak membalikkan tubuh sampai Jinny melebarkan mata terkejut. Sekamar?! Benarkah?! Jinny merasa pipinya terbakar tanpa terduga. "Maksudku ... aku dan kau kan ... tetap saja ..."
"Tentu saja tidak, hanya sebelahan. Kau akan dapatkan teman sekamarmu sendiri."
"Oh, syukurlah."
Keduanya menaiki anak tangga lagi. Sesampainya di lantai tiga, satu orang wanita bergegasmendekati mereka, menanyakan nomor pendaftaran seraya menyerahkan kunci. "Kalian yang pertama datang. Bagaimana perjalananya?" tanyanya hangat.
"Baik, tidak ada masalah."
Si wanita tersenyum dan mengangguk, kemudian dia membiarkan Yeonjun maupun Jinny untuk melewati lorong. Jinny berjalan mengekori Yeonjun yang masih gagah untuk membawa barang-barang mereka, padahal Jinny merasa napasnya sudah ada di ujung hidung. Gadis itu tidak menyangka bahwa begitu banyak peserta sampai satu gedung penginapan berlantai tujuh ini sepertinya disewa khusus.
"Sampai. Ini kamarmu, kan?" Yeonjun melonggok kecil untuk melihat kunci di tangan Jinny. "Masuklah, nanti kita bertemu di aula."
"Hmm, terima kasih."
Yeonjun mengangguk singkat dan berjalan ke kamar sebelah. Dilihatnya, Yeonjun mulai merogoh kuncinya lantas mendorong pintu kayu tersebut. Pikiran Jinny masih berada di rumahnya, dengan Soodam yang mungkin bertanya-tanya ke mana gerangan dia untuk beberapa hari ini. Jinny pun khawatir dengan ibu dan Jeongin serta bagaimana jika Tuan Lee justru tahu dia berada di sini. Soobin? Jinny harap apapun yang lelaki itu rencanakan akan terlaksana dengan baik. Obrolan teman-temannya, urusan sekolah, studio tari yang sudah seperti rumah, ruang kerja Tuan Lee bahkan kamar Sooda segalanya sudah mengabur—perlahan.
*
*
Selama delapan belas tahun Jinny hidup, sebenarnya dia tidak pernah jauh dari rumah. Lingkunngannya terbatas, kadang sekali dua kali menginap di rumah teman, bersama dengan Soodam pula, selebihnya dia bertahan di rumah. Jadwalnya monoton dari hari ke hari; rumah-sekolah-studio tari. Kadang, dia pergi ke perpustakaan kota dengan Jeongin, kadang mampir ke kafe mungil kalau sedang punya uang. Jinny sadar, ini pertama kalinya dia membuat keputusan untuk pergi dari rumah. Atau, lari dari rumah?
"Hai."
Jinny terkesiap, menolehkan wajahnya untuk mendapati seseorang mendorng pintu. Nampak gadis berambut pendek yang sudah membungkuk. "Hai," sapa Jinny dengan senyuman.
"Kau juga di kamar ini?"
"Begitulah," katanya seraya mendekat. Jinny cepat mengulurkan tangannya. "Namaku Jinny Park. Siapa namamu?"
"Emy. Aku dari Australia, tapi aku sudah lama tinggal di sini dan bibiku menikah dengan orang Korea juga jadi yah .."
"..logat bicaramu bagus."

KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Matches | txt x secret number
Fiksi PenggemarBermimpi itu mahal. Jinny Park pikir dia akan debut dengan cepat kemudian mendapatkan penghasilan dari kerja kerasnya. Ternyata, jalan yang dia tempuh tidak semudah itu. Apalagi Lee Soodam, anak dari majikannya, berkali-kali menyeretnya dalam berbag...