CHAPTER EMPAT
"Hei! Kau! Teman Jinny!"
Soobin pun menoleh, mengeryitkan dahinya ketika satu gadis sudah terburu-buru mengejar langkahnya. Gadis itu menyeka keringatnya kemudian mengatur napasnya yang sembarangan. Soobin baru saja ingin keluar dari gerbang sekolah, hendak untuk buru-buru ke kafenya untuk bebenah apalagi masih banyak yang harus diangkut.
"Kau .. memanggiliku?" tunjuknya ke depan wajah.
"Tentu saja! Apakah kau tahu kemana Jinny? Dia pergi sejak pagi-pagi sekali. Bibi bilang, dia hendak ke rumah nenek tapi dia tidak pernah ke rumah neneknya di Gimcheon tanpa mengabariku atau bercerita denganku jauh-jauh hari jadi aku tebak kau pasti tahu ke mana dia sebenarny!"
Soobin mengerjap cepat. "Tapi, aku tidak tahu. Dia juga tidak menghubungiku."
Soodam mendengus samar. "Kau yakin? Tidak berbohong?"
"Untuk apa aku berbohong?"
Soobin masih mematung di tempatnya. Aneh juga, karena jika yang dikatakan sosok ini benar, Jinny berarti ... pergi ke kamp?! Soobin melebarkan matanya, terkejut. Padahal, dia pikir Jinny akan membutuhkan banyak waktu untuk itu. Tapi, tapi betulkah? "Kurasa, aku harus pergi .."
"Aku akan terus mendesakmu, aku pikir, Jinny pasti akan menghubungimu."
Pemuda itu menggaruk tengkuknya, nampak canggung. Dia pun membungkuk pamit dan berjalan ke dekat halte bus yang ada. Baru beberapa hari berada di sini, Soobin bahkan sudah tahu bagaimana sosok yang dipanggil Soodam itu nampaknya tidak akan gentar begitu saja. Jika memang dia segigih itu, pasti dia tidak akan melepaskan Soobin dengan cepat.
"Mungkin .. dia memang sepenasaran itu dengan Jinny?"
*
*
Dua jam setelahnya, mereka diizinkan untuk kembali ke kamar masing-masing. Masih dengan adrenalin yang mengalir dalam tubuhnya, Jinny terus menunduk seraya menangis tersedu-sedu. Emy terus menepuk-nepuk bahunya. "Kau menangis senang kan?"
Jinny mengangguk dan tersenyum. Dia menerima uluran tisu dari Emy untuk menyeka airmatanya. Jinny sejujurnya, agak merasa malu karena menangis lepas begitu saja. Tapi, dia seperti kembang api meledak-ledak. Bahkan hanya dengan mendengarkan musik, sudah membuatnya bersemangat kemudian berganti haru. Tuan Lee tidak akan mengerti bagaimana perkataannya menusuk justru membuat Jinny terus terus ingin membuktikan bahwa menjadi penari adalah yang terbaik untuknya.
"Kau sudah bisa berjalan?"
"Apakah wajahku terlihat berantakan?" tanya Jinny, setengah sesenggukan.
"Yah, kau seperti tomat sekarang."
Jinny tertawa dengan sisa tangisnya. Sesaat mereka hendak keluar dari aula, nampak jelas beberapa kerumunan memperhatikan sosok Jinny. Mungkin mereka terkejut dengan wajah baru yang begitu berani tampil di panggung dengan beberapa penari handal lain. Namun, Jinny sudah tidak mau peduli. Dia senang! Itu sudah cukup.
Emy berbisik, "Kau sangat keren. Aku bangga."
"Aku pikir, tadi itu bukan diriku."
Menuju lantai dua, Jinny pun mulai memperhatikan sekitarnya. Jika bisa, dia ingin berterimakasih ratusan kali kepada ibunya yang sudah membiarkan dia berada di sini. Seseorang mendekat sewaktu dia dan Emy hendak membuka pintu kamar mereka. Apakah penghuni lain?
"Hai, aku Gillian dan ini adikku, Mary. Kami akan berada di kamar ini."
"Hai, aku Jinny," sahut Jinny dan membungkuk. Emy pun memperkenalkan diri dan turut membungkuk.
"Kau menangis?"
"Dia hanya merasa senang."
Jinny menyeka airmatanya dan mempersilahkan mereka untuk masuk. Kamar itu, yang semula sudah hidup dengan adanya Emy kini tambah ramai. Jinny membiarkan keduanya untuk duduk dan membereskan barang-barang mereka. "Aku akan pergi keluar untuk berjalan santai, nanti malam kita akan ada jadwal lagi untuk team up. Kalian bisa menghubungiku kalau aku keluar terlalu lama."
"Apakah kau tidak mau ditemani?" sahut Mary. "Aku juga mau jalan-jalan."
"Kurasa kalian masih lelah setibanya di sini. Aku sendirian saja."
*
*
Bagaimana ya menjelaskannya? Jinny sudah terbiasa berlarut-larut dalam pusaran pikirannya. Kadang , dia merasa sudah berpikiran terlalu jauh sampai perlu menegur dirinya sendiri serta memotong, memangkas, dan mencincang beberapa pemikirannya yang mengular panjang tanpa ujung. Jadi, dia terbiasa untuk berlari kecil entah itu di sekitar rumah, dekat studio maupun dekat sekolah. Kalau bisa pun, sebenarnya, dia ingin berlari pulang saja daripada naik kendaraan umum atau bersama Soodam.
Ini terapi untuknya.
Ada taman di sekitar bangunan kamp, beberapa orang nampaknya habis membersihkan diri dan bersantai saja. Ada yang makan santai dan berbincang bersama yang lain, ada yang sekadar duduk-duduk di ayunan yang ada dan ada yang baru datang menggunakan bus besar lainnya. Jinny menjejalkan earphone kemudian mendengarkan musik keras-keras. Setelah melakukan peregangan singkat di sekitar tumit, bahu, pahanya, dan lehernya akhirnya dia mulai berlari kecil di jalan setapak berbatu. Dia berjalan melewati beberapa kerumunan orang dan mengikat rambutnya tinggi.
Aku akan debut.
Aku pasti debut.
Aku akan membayarkan mulut-mulut yang sudah merendahkanku.
Aku akan pindah dari kediaman Lee bersama Ibu dan Jeongin. Aku tidak akan membiarkan mereka ditindas dan direndahkan lagi.
Jinny terus memacu larinya, hingga tidak terasa dia sudah cukup jauh dari bangunan kamp. Tidak berhenti, dia terus bergerak dan membiarkan bagaimana napasnya memberat. Sesaat hendak berbalik lagi ke bangunan tadi, Jinny menyipitkan matanya dan terdiam. Yeonjun? Jinny ingin beranjak, hanya saja, dia menghentikan dirinya justru memperhatikan bagaimana Yeonjun mulai menyalakan musik dan mulai menari membelakanginya.
Tidak pernah ada membuat Jinny sekagum ini kepada seseorang yang dia kenali di studio kecuali pelatih tari mereka. Tapi Yeonjun? Dia mendapatkan bakat secara alami.
"Aduh." Karena keasyikan menonton di sela semak, Jinny tidak menyadari beberapa serangga hinggap di pakaiannya. Dia langsung mengusir mereka cepat, membuat seseorang yang tadi fokus sontak saja menolehkan wajahnya. Jinny bangkit dan mematung. "Uh, maaf."
"Mengapa? Apa yang kau lakukan?"
"Hanya .. jalan-jalan saja. Sampai jumpa!"
Jinny buru-buru pergi dari sana. Entah bagaimana bisa, tapi berada di dekat Yeonjun selalu membuatnya merinding dan merasa ciut. Mungkin dia memang punya aura mengerikan yang mengintimidasi juga? Jinny menggeleng kuat. Hubungan mereka tidak lebih daripada rekan dari studio yang sama, dan dia yakin, Yeonjun pun begitu. Jinny hanya berharap Yeonjun tidak memandangnya sebagai orang aneh yang senang menguntit. Jinny tidak habis pikir, bagaimana bisa Soodam tetap kukuh untuk mendekati pemuda yang jelas-jelas dapat membuat Jinny mati kutu hanya dengan sekali tatap. "Tipe ideal Soodam itu ... tidak biasa."
[]

KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Matches | txt x secret number
FanficBermimpi itu mahal. Jinny Park pikir dia akan debut dengan cepat kemudian mendapatkan penghasilan dari kerja kerasnya. Ternyata, jalan yang dia tempuh tidak semudah itu. Apalagi Lee Soodam, anak dari majikannya, berkali-kali menyeretnya dalam berbag...