*
BEGIN
Kurasa mimpi saja tidak cukup.
"Apa maksudmu?" tanya Park Jinhee dengan gusar. Tidak pernah sekalipun gadis itu merasa tenang jika sudah ada yang membawa-bawa nama Tuan Lee. "Tapi aku kan tidak membuat kesalahan apapun kali ini. Apa maksudnya dia ingin bertemu?"
"Aku juga tidak tahu, Noona! Temui saja sana!"
Jinhee memberenggut seraya mengikat tinggi rambutnya. Berharap saja ini tidak berjalan lama bahkan menguras habis waktunya, karena Jinny—sapaan akrab Jinhee—masih punya setumpuk jadwal termasuk bertemu guru tarinya di One Thousand Studio. Mengulur-ngulur waktu adalah hal merugikan untuknya sekarang. Jinny pun menaiki undakan tangga rumahnya tersebut. Bukan, ini sebenarnya adalah rumah majikannya. Dari luar rumah ini bagaikan istana besar, sampai di bagian terbelakang, ada pintu khusus, undakan tangga dan di sanalah Jinny tinggal dengan ibu serta satu adik laki-lakinya.
Ayah Jinny? Ke laut! Dia sudah tidak mau peduli dengan mereka dan sibuk mabuk-mabukan serta berjudi. Kadang dia menagih uang jika Jinny berpapasan dengannya di belokansekolah. Namun, tidak penting untuk mengurusinya. Kalau saja ayahnya dapat lebih beranggung jawab, jelas nasibnya akan berbeda. Jinny tidak pernah tahu rasanya punya rumah selain di kediaman Lee. Dia hampir mengira bahwa nasibnya tidak berbeda dari tikus got yang tinggal sembunyi-sembunyi di rumah ini.
Setelah mencuci tangannya kemudian gadis itu menarik napas panjang. Dia berjalan keluar dari area dapur yang menghubungkan ke ruang tengah dan tidak begitu jauh, di sanalah kamar utama bersebelahan dengan ruang kerja Tuan Lee. Hanya ada beberapa kemungkinan jika Tuan besar itu memanggilnya; Jinny membangkang, Jinny membuat kehebohan, dan dia yang tidak senang dengan apapun yang Jinny dapatkan.
"Tuan ..."
"Kemarilah," katanya dengan tegas. Di balik meja cokelat besar, sosok itu menatapnya lurus. Kadang, Jinny punya impian besar untuk pergi dari rumah majikannya tersebut. Ibu bahkan sudah tua! Ibu tidak pantas bekerja dan bergantung kepada keluarga kaya mengesalkan ini! Tapi apa daya, Jinny saja masih berada di penjara bernama sekolah. Tidak banyak yang dapat ia lakukan sekarang selain bersabar.
"Duduk."
"Baik."
Tuan Lee menatapnya lurus kemudian menunjuk layar iPad miliknya, membuat Jinny turun memperhatikan benda tersebut. "Uh? Sudah lihat? Kau menang lagi! Menang lagi! Aku bilang ... astaga, aku tidak habis pikir denganmu! Apakah kau begitu gila pujian atau kau ingin merasa sok keren? Mengapa kau tidak biarkan ... putriku menang!" pekiknya geram. "Aku sudah mengatakan berulang kali untuk kontrol egomu sendiri! Kau mau .. kau mau tidak bersekolah lagi?"
"Tapi .. aku. Maksudku, maaf," katanya dengan pandangan menunduk. "Maafkan aku."
"Dengar itu? Kau tidak pernah mau mengoreksi diri dan selalu serakah," ujarnya sengit. Tuan Lee membuang pandangannya dengan decihan singkat. Jinny menaikkan sedikit wajahnya. Rasanya sepahit ini, selalu sepahit ini padahal, apa salahnya untuk menunjukkan bakatnya di acara sekolah? Mengapa dia harus selalu mengalah kepada Soodam? Tiap kali Jinny ingin mempertanyakan semua itu. Justru segalanya bermuara pada satu jawaban; karena kau bukan siapa-siapa. Karena kau hanya Park Jinhee, anak kumuh, miskin dan mengais rezeki hanya dari mengemis di bawah kaki Tuan Lee. Memang, istri Nyonya Eunbi tidak pernah membahas apapun. Cenderung tidak peduli dengan hal berbau akademis maupun prestasi semacamnya. Dia pun tidak melakukan banyak hal, justru dari sikap tenang dan cueknya itu, Jinny kadang merasa gusar.

KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Matches | txt x secret number
FanficBermimpi itu mahal. Jinny Park pikir dia akan debut dengan cepat kemudian mendapatkan penghasilan dari kerja kerasnya. Ternyata, jalan yang dia tempuh tidak semudah itu. Apalagi Lee Soodam, anak dari majikannya, berkali-kali menyeretnya dalam berbag...