Saya sempat ditampar oleh perempuan karena menganggap bahwa itu Aletta. Cukup memberikan kesan dan menjadi sebuah pengalaman bagi saya. Tapi, itu tidak menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah, mengapa sampai malam ini kamu belum membalas pesan dari saya. Nadhira oh Nadhira.
----------
Setelah selesai berfoto dengan cosplay. Saya dan Aletta terus menyusuri jalan. Tangan kanan saya merangkul bahu Aletta. Sedangkan tangan kiri Aletta merangkul pinggang saya. Sampai akhirnya berhenti tepat di depan Gedung Merdeka.
Melihat keindahan Kota Bandung malam hari yang dihiasi lampu-lampu jalan. Saya mengambil handphone dan mengabadikan semuanya lewat foto. Menurut saya foto itu hebat, bisa mengingatkan kembali kenangan yang terjadi di dalamnya. Maka dari itu saya tidak akan melewatkan salahsatu kenangan malam ini di Bandung bersama Aletta. Mengambil foto gedung gedung bersejarah yang ada di Kota Bandung, sampai foto selfie saya bersama Aletta di depan Gedung Merdeka.
Sedang asik berfoto selfie manja, saya mendengar suara yang tidak asing.
"Krukkkk."
"Krukkkk."
Pandangan saya langsung tertuju pada satu titik, yaitu perut Aletta. Dan kemudian pandangan saya perlahan naik melihat wajah nya.
Aletta hanya melemparkan senyum.
Saya tersenyum. "Kamu lapar kah?" tanya saya.
Aletta mengangguk. "Hehehe.... iyaaa." diiringi dengan senyum.
"Yaudah ayuk kita cari makan," ajak saya.
"Yukkk boleeeeh," ucap Aletta penuh semangat karna sudah tidak bisa menahan rasa laparnya.
Saya berkata, "Tapi kita cari makan di deket Alun-Alun aja yaa."
Aletta mengangguk. "He'eh."
Saya dan Aletta berjalan kembali menuju Alun-Alun. Berjalan melewati para cosplay untuk yang kedua kalinya. Tiba-tiba tangan kanan Aletta merangkul pinggang saya. Dan kepala nya bersandar di lengan saya. Layaknya orang yang sedang berpacaran.
Akhirnya saya dan Aletta sampai disuatu jalan yang berada tepat di samping terowongan populer. Jalan yang tidak terlalu besar, tetapi banyak orang yang berjualan makanan disana. Selama menyusuri jalan, tangan Aletta masih merangkul pinggang saya. Dan kepala nya masih bersandar di lengan saya.
Melihat banyak sekali berbagai macam makanan disepanjang jalan. Mulai dari makanan berat maupun makanan ringan atau cemilan. Seperti ayam bakar, pecel lele, sate, soto, mie ayam, bakso, sosis bakar, bakso bakar, dan masih banyak yang lainnya.
"Kamu mau makan apa?" tanya saya.
"Aku engga mau makan nasi Taa," ucap Aletta pelan.
Saya bertanya, "Terus kamu mau makan apa?"
"Gimana kalo kita makan bakso cuanki yang ada di ujung jalan?" jawab Aletta yang malah balik bertanya.
"Kamu pernah makan disana?" tanya saya.
Aletta hanya mengangguk.
Saya menyetujui saran dari Aletta. "Boleeeh."
Berjalan santai menuju tukang bakso cuanki yang disarankan Aletta.
Aletta menunjuk. "Itu tempatnya."
Melihat dari kejauhan ada gerobak pikul bakso cuanki, dan Abang penjualnya sedang melayani pembeli yang cukup ramai mengantri di bawah tenda biru sederhana nya.
Langkah demi langkah menghampiri gerobak pikul dan tenda biru sederhana itu.
Aletta memesan. "Dua yaa Mang, makan disini." ucap Aletta yang berdiri tepat di samping Abang tukang bakso cuanki.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mencintai Dalam Diam.
Novela JuvenilAnanta adalah seorang laki-laki yang sedang merasakan indahnya jatuh cinta. Merasakan indahnya dicintai. Merasakan hal yang sebelumnya belum pernah ia rasakan. Bicara cinta bagi Ananta adalah hal yang biasa saja, bahkan sia-sia. Tetapi setelah ia me...
