Akhirnya saya bisa tau siapa nama perempuan itu, Nadhira namanya. Bertemu di bus kota dan jam istirahat di kantin kantor. Berbincang dengan perasaan yang sangat-sangat bahagia. Pertemuan kemarin membuat saya bersemangat kembali untuk mendekatinya hari ini.
----------
Tidak terasa pagi telah datang, diiringi ayam yang berkokok dengan suaranya yang khas. Terbangun dari tidur yang sangat pulas, karena bertemu dengan Nadhira yang membuat tidur saya menjadi nyenyak malam ini. Saya melirik kearah jam, ternyata saat itu jam 05.00 WIB. Saya kesiangan 30 menit, karena lupa setting alarm semalam.
Saya loncat dari tempat tidur, lalu berlari kearah kamar mandi. Bernyanyi di kamar mandi dengan suara yang tidak ada bagusnya sama sekali.
"Byarrrrrr."
"Byurrrrrr."
"Suaraaaa... dengarkan lah aku."
"Apa kabarnya pujaan hatiku."
"Aku disini menunggunya."
"Masih berharap di dalam hatinya."
Mandi dengan memakai sabun, shampo, dan tidak lupa menggosok gigi.
Setelah mandi selesai, saya memakai baju dengan terburu-buru. Pagi ini saya tidak sempat membuat bekal untuk makan siang nanti karena bangun kesiangan. Memakai parfum agar menarik perhatian Nadhira nantinya. Dan berharap bertemu kembali pagi ini di bus kota ataupun di kantor.
Mengambil tas kerja serta memakai sepatu, tidak lupa mengunci pintu. Berjalan melangkah menuju depan gang untuk menunggu bus kota disana. Melipir sejenak ke salah satu minimarket yang ada di sebrang jalan. Membeli 2 buah roti untuk sarapan dan bekal makan siang nantinya.
Menyebrang kembali, menunggu bus kota di halte tempat dimana saya selalu menunggu. Pagi ini ditemani awan mendung dengan hembusan anginnya yang lumayan kencang. Bus kota sudah terlihat dari kejauhan, saya melambaikan tangan agar bus berhenti tepat di halte tempat saya menunggu.
Bus berhenti tepat di depan saya. Dan saya menaiki bus dengan semangat, tapi hati-hati. Takut kejadian malu kemarin terulang lagi.
"Hati-hati naiknya, nanti jatuh lagi kayak kemarin," ucap kernek bus yang kemarin.
"Hehe... iyaa Bang, saya hati-hati kok," jawab saya sambil tertawa.
Ternyata saya menaiki bus yang sama seperti hari kemarin. Saya masuk ke dalam bus dan berjalan mencari tempat kosong. Sopir bus melihat saya dari kaca yang ada diatasnya.
"Hari ini engga jatuh lagi Bang?" tanya sopir dengan maksud meledek sembari menginjak pedal gas dan bus berjalan.
Melihat dari depan sampai belakang mencari keberadaan Nadhira di dalam bus. Ternyata pagi ini saya tidak menaiki bus yang sama. Sepertinya Nadhira berangkat lebih dulu dibanding saya.
"Kok bisa yaa, semalam lupa setting alarm segala," ucap saya dalam hati.
Duduk paling belakang, ditemani kernek bus yang sedang bergelantungan di pintu. Bertugas menawarkan kepada setiap orang yang menunggu di pinggir jalan untuk menaiki bus dengan nada khas nya.
"Pagi ini, Abang liat perempuan yang kemarin saya bayarin ongkos nya?" tanya saya kepada kernek bus.
"Kalo pagi ini saya belum ngeliat dia," jawab kernek bus.
"Kirain, Abang sudah melihat dia di terminal atau dijalan," ucap saya.
Mengambil 1 roti yang sempat saya beli di minimarket dari dalam tas. Lumayan untuk mengisi perut saya agar tidak keroncongan. Membuka bungkus, kemudian membelah roti dengan tangan, lalu memakannya secara perlahan.
"Mau roti Bang?" tanya saya sambil menyodorkan roti kepada kernek bus.
"Jelasssss mau dongg, kalo emang dikasih mah," ucap kernek dengan nada senang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mencintai Dalam Diam.
Novela JuvenilAnanta adalah seorang laki-laki yang sedang merasakan indahnya jatuh cinta. Merasakan indahnya dicintai. Merasakan hal yang sebelumnya belum pernah ia rasakan. Bicara cinta bagi Ananta adalah hal yang biasa saja, bahkan sia-sia. Tetapi setelah ia me...
