Wajah Hanum terasa panas begitu ia selesai mengucapkan pertanyaan yang sudah dilatih dan diulang-ulang dalam benaknya sejak seminggu lalu. Dia menunduk, berusaha menghindari kontak mata dengan Sinta.
Sudah beberapa bulan berlalu sejak Hanum bertemu Sinta. Mereka bertukar kontak dan setuju untuk bertemu lagi di luar jam kerja masing-masing, sekadar makan siang atau makan malam bersama. Untungnya tidak ada larangan untuk itu dari tempat kerja Sinta. Bahkan, menurut Sinta, tempat kerjanya tidak peduli kalau dia berhubungan seks di luar jam kerja asal performanya tidak menurun, tidak tertular penyakit, dan tidak hamil.
Hari ini, saat makan siang setelah menonton bioskop, Hanum akhirnya mengajukan pertanyaan yang telah lama ia pikirkan.
Sinta tidak langsung menjawab. Ia mengerjap beberapa kali. "Coba ulangi," katanya.
Hanum menggigit bibir dengan gugup. Suaranya lebih pelan dari sebelumnya, tapi cukup jelas: "Mau tinggal bareng sama aku?"
Jeda sejenak.
"Coba ulangi?"
"Mau tinggal bareng?" Hanum menelan ludah, lalu malah merasa tenggorokannya makin kering. "Tinggal bareng? Tempatku cukup buat dua orang."
"Tinggal bareng?"
"Iya."
Selama beberapa bulan ini juga Hanum tidak pernah berhubungan badan dengan Sinta. Mereka benar-benar hanya pergi ke suatu tempat, lalu makan siang atau makan malam bersama setelahnya. Tidak ada obrolan romantis atau sejenisnya (setidaknya dalam penilaian Hanum). Pembicaraan mereka bahkan mungkin tergolong membosankan karena membahas tempat yang baru mereka kunjungi atau film yang baru mereka tonton dan diselingi politik atau ekonomi atau hal lain yang sedang naik daun.
Harusnya cukup jelas kalau Hanum tidak bermaksud aneh-aneh saat ia mengajak Sinta tinggal bersamanya.
Harusnya.
"Nggak usah bayar sewanya," gumam Hanum. "Setidaknya kalau tinggal bareng, nggak bakal diusir kayak kemarin kan?"
Baru-baru ini Sinta diusir dari tempat tinggalnya. Induk semangnya tidak suka penyewa kamarnya adalah seorang escort (atau, dalam bahasa awam, "pelacur") dan mengusir Sinta. Si induk semang tidak hanya mengembalikan sisa uang sewa yang dibayarkan di muka oleh Sinta, tapi sekaligus mengembalikan uang sewa yang dulu juga. Alasannya, dia tidak mau terima uang haram. Sangat menyakiti perasaan, tapi di sisi lain menguntungkan.
"Tapi ... masa nggak bayar?"
"Nggak masalah. Beneran."
Apa yang tidak diungkapkan Hanum adalah dia bahkan sudah menghitung apakah ia sanggup menanggung biaya hidup satu orang lagi. Entah persisnya kapan, Hanum memutuskan kalau dia ingin menghidupi Sinta. Memberinya tempat tinggal, memenuhi kebutuhan dasarnya ....
... Baru sekarang Hanum terpikir kalau dia bisa saja menawarkan untuk membayar uang sewa tempat tinggal Sinta alih-alih mengajaknya tinggal bersama. Kenapa dia bodoh sekali?
Sinta mengulurkan tangan, menyentuh punggung tangan Hanum dengan jarinya yang lentik. Ia tersenyum.
"Makasih."
"Eh ... jadi ...? Mau?"
"Apartemenmu masih sama kayak yang kamu sebut kemarin kan?"
"Iya." Hanum mengerutkan kening, mengingat-ingat rute dari apartemennya ke tempat kerja Sinta. "Terlalu jauh ya?"
"Nggak kok."
Jeda sesaat lagi. Hanum jadi merasa ia telah melakukan kesalahan besar.
"Apa nggak mendingan kamu tinggal bareng sama pacarmu aja?" tanya Sinta.
"Aku nggak punya pacar."
"Tapi bakal punya, kan?"
"Ngg ... iya. Mungkin?"
Hanum jadi merasa bersalah karena dia tidak terlalu aktif mencari pacar selama ini. Mungkin dia harus mencoba aplikasi perjodohan yang banyak diiklankan itu.
"Tapi kan sekarang belum punya." Hanum menambahkan cepat-cepat. "Jadi nggak bakal ada masalah, kan?"
"Harusnya sih nggak." Sinta kembali tersenyum. "Boleh kalo gitu."
"Oke." Rasa lega dan kegembiraan luar biasa membuncah dalam rusuk Hanum mendengar jawaban tersebut. "Aku ada mobil, jadi bisa bantuin bawa sebagian barang."

KAMU SEDANG MEMBACA
Hanum dan Sinta [R18] [GxG]
RomansaDi hari ulang tahunnya yang ke-25, Hanum mendapat hadiah tak terduga dari teman-teman kerjanya: semalam di Madame's Room, salah satu servis escort yang khusus melayani klien wanita. Yang lebih tak terduga lagi adalah Hanum bertemu seseorang yang per...