FFH || 07

9 4 0
                                    

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***

"Aku pernah menjadi selayaknya seoarang penjahat yang menyakiti banyak orang. Kini, aku ingin menjadi sebuah penawar untuk mengobati luka seseorang yang pernah kugores."

***

Terkadang hal yang ditakutkan tidak semudah yang kita lupakan, tidak semudah yang dibayangkan seperti yang kamu bayangkan. Mungkin kalian akan menganggap ini terlalu berlebih-lebihan. Sama halnya dengan Tita, ya Tita gadis cantik yang tidak pernah menginginkan ketraumaan itu terus muncul dalam bayangannya. Mengingat tentang masa kecil, membuat Tita merindukan sosok Dea.

Tita tersadar, ketika suara ketukan pintu memasuki pendengarannya. Tita menoleh menatap pintu yang tertutup itu.

Ada apa lagi ini, pikir Tita

Tita melangkahkan kakinya menuju pintu, sekali tarikan pintu itu terbuka walaupun hanya setengah. Tita melihat Bi Siti berdiri di sana dengan raut cemas. Lagi-lagi Tita kembali berpikir dalam hatinya, apa yang terjadi? kenapa Bi Siti berdiri di sana dengan raut tidak mengenakkan.

"Ada apa lagi Bi, aku 'kan sudah bilang kalau aku tidak mau makan malam bersama kalian. Lebih baik Bibi kembali ke bawah, aku tetap menolak," ucap Tita dengan raut menunjukkan ketidaksukaan.

"Tidak, Non, bukan itu tujuan Bibi kesini," jawaban itulah yang Bibi berikan selanjutnya. Tita mengerutkan keningnya bingung,  lalu Bi Siti datang kesini dengan tujuan apa kalau bukan untuk mengajaknya makan bersama.

"Mama dan Papa Nona sedang bertengkar di bawah. Bibi takut nantinya menyebabkan suatu masalah yang lebih parah," ucap Bibi Siti cemas.

Tita terkejut, ada apa lagi ini? Tita tidak suka dengan keributan, Tita benci seseorang bertengkar karena dirinya. Tita berjalan cepat meninggalkan Bibi yang kini ikut mengikutinya dari belakang. Tita melihat mamanya dan papa sedang beradu argumen. Suasana terasa mencekam, jika ini cerita fantasi pastilah ada asap-asap hitam menyelimuti sekitar.

"Ma ..., Pa ..., kalian kenapa?" Tita bertanya setelah berada di antara orangtuanya.

"Ini semua karena kamu Tita, harusnya kamu jangan seperti ini, dan harusnya kau tidak seperti orang bodoh seperti ini!" Papa menyemburkan kata-kata yang mungkin menusuk hati Tita. Tita menyadari makna kata itu, kaget. Papanya telah berubah, papa tidak pernah seperti ini sebelumnya. Papa adalah superhero yang selalu melindunginya, tetapi sekarang papa tidak seperti yang Tita bayangkan. Tita menutup mulutnya dengan kedua tangannya, Tita mencoba menahan suara tangisnya agar tidak terdengar.

Tita berlari menyusuri tangga, sesampai di kamar Tita menumpahkan bening-bening air mata yang menumpuk di kelopak matanya. Pikirannya kini tertuju pada orang tuanya. Jika dia kembali ke kamar, dia takut ayahnya bertindak kasar akan mamanya. Sekuat tenaga menahan isakan dan memantapkan hatinya untuk kembali menuju orang tuanya.

Fear For Hurting√Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang