'Dari awal kan saya udah bilang. Saya belum ingin lihat wajah kamu. Biar jadi kejutan. Dan benar kan kata saya. Kamu benar-benar bikin saya terkejut.’
~Kekasih Pilihan Allah~
***
“Qobiltu nikaqaha wa tazwijaha Amtsilatu Ahmadia Zahra binti Alm. KH. Ahmad Jazuli Utsman bilmahril madzkur... Hallan.” Lafal ijab kabul di ucapkan Rendi dengan amat tegas. Meski tangannya bergetar, hal itu sama sekali tak memengaruhi pengucapannya.
“Sah?” Usai mendapat jawaban, Idris memimpin doa.
Umi Zila memberi isyarat pada Aisyah untuk ikut menjemput Zahra di kamarnya. Keduanya beranjak ke ruangan kedua setelah tangga naik. Kamar Zahra memang terletak di bawah, karena di atas sudah ada kamar ketiga kakaknya. Meskipun semuanya sudah berkeluarga, untuk jaga-jaga bila sewaktu-waktu salah satu dari mereka berkeinginan untuk tidur di kediaman Darussalam.
“Zahra?” panggilan Aisyah menginterupsi Zahra yang tengah diam dengan tatapan kosong. Sejenak dia mengusap sudut matanya yang berair sebelum berbalik. Di balik cadarnya dia tersenyum. Wajahnya sudah kembali di poles, terlihat cantik, nyaris sempurna.
Dia beranjak berdiri, kedua lengannya di tuntun oleh sang umi dan Aisyah. Seiring langkah kakinya semua orang menatapnya kagum. Zahra yang terkenal sebagai gadis cerdas dan cantik di kalangan putri Kiai membuat sosoknya kian istimewa.
Zahra duduk di samping Rendi, pria yang kini resmi menjadi suaminya. Dia mengulum senyum. Rendi tahu Zahra tersenyum dari lipatan mata yang tercipta di kedua matanya meski juga tak melihat bibirnya. Zahra bergerak untuk mencium tangan kanan Rendi. Yang di balas kecupan di ubun-ubun kepala sekaligus doa yang Rendi rapalkan.
“Assalamu’alaikum ya zaujati. Anti hubbi Alan wa Ilal abadan.” Bisiknya di dekat telinga Zahra. Membuatnya mendongak dan balas menatap manik mata Rendi. Sorot mata yang mampu memberikan rasa teduh bagi siapa pun yang menatapnya.
“Wa’alaikumussalam ya zauji. Anta hubbi alan wa Ilal abadan. Insyaallah...” Balasnya dengan kedua mata yang kembali berkaca-kaca.
Takdir Allah tidak ada yang menduga, bagaimana bisa? Dan kenapa dia? Itu sudah menjadi pertanyaan bagi mereka yang memang kurang percaya pada kehendak-Nya. Allah itu penuh kejutan. Seperti halnya kisah ini. Zahra yang tak pernah menyangka bahwa takdir Allah telah menyatukannya dengan Rendi. Pria asing yang tak pernah ia dengar sekalipun namanya. Bahkan nama, hidupnya saja dia tidak tahu. Maha suci Allah yang telah menyatukan keduanya dalam simpul halal pernikahan.
❤️
Beberapa menit hingga berjam-jam lamanya Rendi berbincang dengan beberapa pria yang mulai saat ini telah menjadi saudara iparnya. Dinginnya angin malam tak membuat mereka kehabisan pembahasan. Sejak para tamu pulang, Rendi dan Zahra sudah berpisah. Keduanya kembali dengan urusan masing-masing. Zahra yang entah ke mana, Rendi tidak tahu. Sebab, dia tak melihatnya lagi sejak mereka berpisah tadi.
Gelegar tawa pria menggema ke semua sudut ruangan. Dari sofa paling ujung kanan ada Kafa. Sebelahnya ada Idris, kakak kedua Zahra. Dan tepat di samping kanan Rendi, ada Ibrahim, kakak ketiga Zahra. “Lucu ya, kalau di buat film gitu. Hahaha...” Ujar Idris masih dengan sisa tawanya.
Dari sudut mata Kafa, terlihat Aisyah tengah berjalan ke arahnya dengan satu anak dalam gendongannya. “Sttt... Ada bidadari lagi cari alamat.” Kompak ketiganya menoleh begitu mendapat isyarat.
Ibra yang menyadari wanita yang dimaksud adalah istrinya, langsung menatap mereka tajam. Sontak semua kembali tertawa. Tawa mereka mereda begitu Aisyah sampai di dekat Ibrahim.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kekasih Pilihan Allah | TERBIT
EspiritualSemua berawal dari Rendi yang datang ke sebuah acara pernikahan. peristiwa itu membawanya ke sebuah takdir yang tak pernah dia bayangkan. Siapa sangka ketika dia datang sebagai tamu undangan, lalu pulang dengan membawa pengantin perempuan. Bukankah...
