Chapter 1

4K 324 39
                                        

Lebih baik belajar mengikhlaskan sebelum semuanya terlanjur terjadi hingga mengakibatkan luka.'

~Kekasih Pilihan Allah~
***

Kekhawatiran melanda seluruh keluarga. Tak ada hati yang bisa tenang untuk saat ini. Hari yang seharusnya menjadi hari bahagia bagi Zahra, karena hari ini adalah hari akad sekaligus resepsi pernikahannya. Ia malah meneteskan air mata karena calon suaminya yang telah menghilang sejak semalam.

Semua orang sibuk memikirkan cara untuk mengatakan pada para tamu undangan bahwa pernikahan ini telah batal.

Ibrahim yang merupakan kakak ketiganya melangkah cepat menemui Idris, kakak keduanya. "Mas Idris, bagaimana ini?" tanyanya khawatir.

Raut wajah Idris tak kalah khawatir. "Berhubung para tamu undangan memang sudah banyak yang datang. Suruh saja beberapa orang untuk tetap menjamu mereka." Jawab Idris pada adiknya.

Ibra mengusap wajahnya kasar lalu mengembuskan napas gusar. Dia langkahkan kakinya menuju pintu utama. Kembali berlagak bahagia meski nyatanya kepanikan tengah melandanya. Ibra menyalami beberapa tamu sembari terus mengulum senyumnya.

Di sisi lain, Zahra yang sejak 3 jam lalu telah selesai di rias hanya bisa bergeming dalam duduknya. Air mata tak henti membanjiri kedua pipi cantiknya. Riasan yang sudah di poles sempurna di wajahnya telah luntur. Parasnya yang cantik, kini tergantikan dengan raut wajah menyeramkan.

Sejak 3 jam lalu juga dia telah resmi mengunci pintu kamarnya. Tak satu pun orang dia biarkan masuk ke dalam. Sebab, kebencian pada semua pihak keluarga telah merasuki hatinya. Karena seharusnya sejak semalam mereka sudah memberitahukan hal penting ini pada Zahra. Tapi nyatanya tidak, mereka lebih memilih diam dan baru mengatakan saat akad nikah tinggal menunggu putaran jarum jam.

"Zahra, tolong buka pintunya sayang. Umi perlu tahu keadaan kamu. Sebesar apapun masalah yang saat ini menimpamu, percayalah, Kamu punya Allah yang senantiasa tetap bersamamu, sayang. Jangan mengunci diri seperti ini, umi tahu kamu marah. Tapi, jangan buat setan semakin tertawa dengan membiarkan dia menyelusupkan kebencian di hatimu." Ucapan Umi Zila bagai angin lalu di telinganya. Tak sedikit pun hatinya tergerak untuk membuka pintu.

Zahra tetap pada tempatnya, duduk di depan kaca sembari terus menatap pantulan tubuhnya. Cadar putih yang tadi menutupi wajahnya pun telah terlepas. Hanya saja gaun pengantin itu masih setia tersemat di tubuhnya yang ramping. Otaknya kosong, pikirannya tak terarah. Memikirkan kemungkinan apa yang menyebabkan calon suaminya memilih menghilang tanpa alasan.

Di luar kamar, Aisyah, istri Ibrahim yang kebetulan melihat mertuanya tengah membujuk Zahra melangkah mendekat. "Umi, Zahra belum juga membuka pintunya?" Umi Zila menoleh, dengan tatapan sendu menatap Aisyah lalu menggeleng.

Aisyah menghela napas sejenak. "Izinkan Ais yang ganti bujuk dia. Umi bisa ke kamar, istirahat. Untuk masalah tamu undangan, Insyaallah secepatnya akan di urus sama Mas Ibra dan Mas Idris. Umi jangan khawatir." Umi Zila tersenyum simpul lalu mengangguk.

"Coba kamu bujuk Zahra. Mungkin, kalau dengan kamu hatinya bisa terbuka." Sembari mengusap bahu Aisyah sebentar lalu melangkah menjauh dari posisinya.

Usai menatap kepergian mertuanya, Aisyah beralih ke pintu yang tertutup di depannya. Perlahan kakinya mendekat. Tangannya tergerak untuk mengetuknya pelan. "Zahra?"

"Kamu lupa sama prinsip kamu sendiri waktu itu? Mbak aja masih inget, masa kamu sudah lupa?" Ujar Aisyah.

"Mbak ingat saat waktu itu kamu bilang sejatuh apapun posisi kita saat ini, kita harus tetap yakin dalam hati, bahwasanya kuasa Allah lebih besar dari apapun. Jadi, kita bahagia, harus ingat Allah. Kita sedih, harus ingat Allah. Kita sakit, harus ingat Allah. Pun saat kita sedang berada di titik paling rendah sekalipun, itu adalah kehendak Allah. Itu adalah salah satu dari sekian panjang proses kita untuk menjadi hamba yang lebih baik." Aisyah mengembuskan napasnya sesaat. Berharap hati Zahra tergerak untuk mendengarkan ucapannya.

Kekasih Pilihan Allah | TERBIT Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang