Chapter 6

2.3K 248 11
                                        

‘Karena setiap aktivitas yang kita lakukan ke depannya adalah bernilai pahala, manfaatkan setiap tingkah untuk menggapai rida-Nya.’

~Kekasih Pilihan Allah~
***


3 jam berada di mobil tanpa henti membuat seluruh tubuh rasanya keram. Rendi memarkir mobilnya di depan sebuah pelataran rumah yang luas nan rindang. Suasana sejuk seolah memenuhi setiap pandang mata. Rendi membuang napas, melemaskan otot-otot tangannya yang kaku. “Udah sampek ya?” suara itu membuat Rendi menoleh lalu mengangguk.

“Ayo turun, jangan malah merem di sini, nanti ketiduran.” Ujar Zahra ketika melihat Rendi malah memejamkan matanya.
Rendi kembali membuka matanya, menoleh menatap Zahra dengan pandangan letih. Membuat Zahra merasa kasihan. Sejenak gadis itu terdiam lalu melepas sealtbeatnya. Bergerak mendekat dan,

Cup!

Satu kecupan di pipi Rendi dapatkan dari istrinya. “Semoga lelahnya Mas, jadi lillah. Ayo turun,” ajaknya. Zahra sudah keluar dari mobil sambil menahan pintu dengan satu tangan.

Rendi masih diam, menatap Zahra tak berkedip. Gadis itu tersenyum kemudian berkata, “Ayo turun, nanti di dalam Zahra kasih lebih.” Dengan menaikkan satu alisnya. Berniat menggoda.

Seketika Rendi terenyak, sadar apa yang baru saja di lakukan istrinya. Dia pun mengulum senyum. Entah ekspektasinya benar atau salah tentang ucapan Zahra, tapi yang jelas. Apa yang baru saja gadis itu lakukan seketika menghapus seluruh rasa lelah yang tadi dia rasakan. Rendi bergerak untuk ikut turun. Lalu berputar untuk sampai di sisi istrinya.

“Saya harap kamu nggak ingkar janji.” Bisiknya di dekat telinga Zahra. Membuat gadis itu kembali menatap Rendi dengan senyuman yang masih tersemat di bibirnya. Lalu keduanya mulai melangkah masuk.

Sambutan binar bahagia begitu terlihat di raut wajah kedua orang tuanya. Mereka begitu antusias saat tahu Rendi sudah sampai rumah dengan istrinya.
“ayo, le, nduk. Duduk dulu. Pasti lelah ya?” Zahra terus mengulum senyum mendapati perlakuan itu.

“Kalian mau makan dulu atau langsung istirahat? Atau sekalian nunggu masuk waktu salat? Sebentar lagi duhur.” Ucap Mama Tyas, Mamanya Rendi terlihat begitu bahagia.

“udah, Ma. Nggak usah terlalu repot. Rendi sama Zahra mau duduk sebentar sambil nunggu waktu duhur. Makannya setelah salat aja.” Jawab Rendi.

“ya udah kalau gitu. Sini, barang-barangnya Mama taruh di kamar dulu.” Ujarnya seraya mengambil tas selempang di kursi dan satu tas jinjing yang berisi pakaian Rendi dan Zahra masing-masing 2 set baju.

“nggak perlu, Ma. Zahra bisa bawa sendiri kok. Mama tinggal kasih tahu aja kamarnya di mana.” Tolak gadis itu halus. Sembari mengambil alih dua tas itu dari tangan Mama Tyas.

“Masyaallah, kamu emang nggak salah pilihin menantu buat Mama. Meski datangnya agak telat, tapi hasilnya Insyaallah memuaskan.” Zahra dan Rendi sejenak saling pandang, mencoba memahami maksud ucapan itu, sebelum keduanya memilih untuk sama-sama tersenyum menanggapi.

“Ya udah, ayo, Mama kasih tahu kamarnya Rendi.” Wanita kisaran usia empat puluhan itu dengan akrabnya langsung mengait tangan Zahra untuk ikut dengannya. Membuat Zahra menatap Rendi penuh pertanyaan. Dan pria itu, hanya mengedikkan bahunya sembari mengulum senyum.

❤️


Usai azan duhur berkumandang, Zahra memilih berkutat di dapur. Membantu sang mertua menyiapkan makan siang.
“Asal kamu tahu, Nduk. Sewaktu Mama dapat kabar dari Rendi kalau dia sudah nikahin anak gadis orang, Mama terkejut sekali. Marah karena dia nggak kasih kabar sama sekali tentang pernikahannya. Padahal kan dari dulu itu Mama yang paling pengen dia cepetan nikah. Eh, pas udah nikah, malah nggak di kasih kabar, nggak di undang lagi. Nggak tahu apa, kalau Mamanya ini pengen banget lihat dia duduk di pelaminan.” Ungkapan penuh kekesalan itu begitu jelas tergambar dari raut wajahnya. Zahra terkekeh kecil mendengarnya.

Kekasih Pilihan Allah | TERBIT Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang