Chapter 3

2.8K 272 10
                                        

“Istri mana yang mau menolak pahala berlipat yang di janjikan Allah, ketika dia taat pada suaminya?”

~Kekasih Pilihan Allah~
***

Suasana pagi yang cerah terasa menyambut pergantian hari. Zahra yang baru saja membuka jendela kamar menghirup kuat udara pagi ini. Matanya terpejam menikmati setiap oksigen yang masih Allah berikan untuknya sembari hati terus melafalkan syukur atas nikmat yang tak pernah Dia perhitungkan untuk makhluk-Nya. Meskipun pendosa sekali pun.

Usai melihat pantulan tubuh di kaca Zahra tersenyum, kemudian melangkah keluar. Saat orang lain menjadikan tempat makan adalah tujuan pertama, Zahra tidak. Seperti biasa, dia akan langsung ke taman belakang untuk melihat sejauh apa perkembangan tanaman dan hewan peliharaannya. Bibirnya menyunggingkan senyum melihat Aisyah lebih dulu menyirami bunganya. “Yah... Zahra keduluan Mbak lagi.” Ujarnya dengan nada menyesal. Aisyah hanya meliriknya lalu tersenyum.

“Iya, kebetulan ini tadi si kembar udah bangun terus ikut abinya. Jadi nggak ada tanggungan, hehehe...” Zahra hanya mengangguk paham.

“ya udah, aku kasih makan ikan aja.” Zahra bergerak mengambil makanan ikan yang memang sudah di sediakan di wadah tertutup dekat kolam.

“Emang kamu sudah sarapan?” Zahra menoleh lalu menggeleng.

“kebiasaan, mending sekarang kamu makan dulu. Kasih makan ikannya nanti aja, setelah kamu sarapan.” Ujar Aisyah menasihati.

“Nggak apa-apa Mbak, Zahra belum terlalu lapar juga.” Elaknya halus. Aisyah hanya menggelengkan kepalanya, diam. Tahu kalau Zahra adalah salah satu spesies orang keras kepala.

Di tengah kesibukannya melemparkan makanan, sudut matanya mendapati Rendi sedang berbicara dengan orang lain di ponsel. Sesekali dia tersenyum, lalu berbicara lagi. Melihat itu tiba-tiba Zahra terpikir kan sesuatu.

Apa Mas Rendi lagi teleponan sama cewek? Kok senyam-senyum dari tadi. Toh, aku kan belum kenal jauh tentang kehidupannya selama ini. Terlalu fokus hingga tak sadar seseorang telah berdiri di dekatnya.

“Tenang aja, Rendi itu pria baik-baik. Dia nggak akan selingkuh kok.” Ucap Aisyah sambil terkekeh pelan. Refleks Zahra menoleh lalu tersenyum kikuk pada kakaknya.

“Nggak kok, nggak kepikiran sampek sana.” Elaknya, berusaha menutupi dengan menunjukkan sikap apatis yang terlihat dari raut wajahnya.

“Ya udah kalau gitu, Mbak ke dalam dulu ya. Mau nyiapin makan buat si kembar.” Pamit Aisyah. Zahra mengangguk mengiyakan.

Setelah Aisyah pergi, Zahra beranjak duduk di kursi panjang yang menghadap langsung taman bunga. Mengembuskan napas perlahan. “Ada apa ya sama hatiku? Kok gini? Mau di bilang normal, tapi abnormal. Mau bilang kepo, tapi buat apa? Mau bilang cemburu, nggak mungkin!” Bagi Zahra cemburu suatu hal yang tidak mungkin dia rasakan saat ini. Terlalu cepat jatuh cinta itu hal yang salah. Karena dengan begitu, hatinya juga akan mudah terluka.

“Boleh nggak sih kalau Zahra bilang udah jatuh cinta?” Gumamnya tanpa sadar.

“Boleh aja, karena cinta itu fitrah. Yang memang sewajarnya untuk di rasakan setiap insan manusia.”

“Tapi ini terlalu cepat. Nggak mungkinlah sehari aja udah jatuh cinta. Ini dunia nyata, bukan drama Korea.” Balasnya masih berkutat dengan pikirannya sendiri.

“Nggak ada yang nggak mungkin buat Allah. Apalagi kalau cuma membolak-balikkan hati hamba-Nya.”

“Ya, tapi ini aneh aja. Masa iya aku udah suka aja sama orang asing yang baru kenal sehari. Apalagi dia-” Zahra berhenti, tunggu! dia baru saja tersadar. Sejak tadi dia berbicara, dan seseorang telah menjawabi setiap ucapannya. Allahu Akbar!

Kekasih Pilihan Allah | TERBIT Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang