11. That damn thing(s)

116 17 6
                                        

Alpha hanya duduk termenung di meja kerjanya. Berulang kali ia hanya scroll up-scroll down di laman yang sama. Matanya terpaku di layar, namun entah kemana isi pikirannya bertengger. Sesekali ia memijat keningnya, kepalanya penuh dan harus tebagi oleh fokus pada pekerjaan dan keadaan adik-adiknya.

Hari ini harusnya dia pergi keluar kota untuk client visit, tapi karena satu dan lain hal, dia ditugaskan untuk melakukam pekerjaan lain. Dipikir-pikir, minggu depan terhitung sudah tahun ke tiganya di kantor ini. Kantor yang terletak di tengah kota, yang bergerak dibidang periklanan. Kantor ini juga dulunya menjadi tempat Ayah mencari nafkah. Bahkan masih ada beberapa foto Ayah terpajang di beberapa ruangan.

Alpha mengangkat pandangannya dari layar. Di seberang ruangan, foto itu masih ada. Terpajang cukup besar di dinding menuju koridor lobby di lantai tiga ini. Di foto itu, terlihat Ayah berdiri dengan jas abu-abu, tersenyum tipis, berdampingan dengan tim kreatif angkatan lama. Senyum yang sama yang selalu Alpha ingat setiap kali pulang sekolah dulu. Senyum yang bilang semuanya baik-baik saja, bahkan ketika kenyataannya tidak pernah sesederhana itu.

Alpha menelan ludah. Tiga tahun. Ia amat sangat bersyukur, karena Ayahnya termasuk karyawan yang sangat berprestasi di kantor ini, dan banyak orang di kantor ini yang merasa berhutang budi pada Ayah. Itu juga menjadi salah satu golden ticket untuk Alpha masuk ke kantor ini. Walaupun ketika ia diterima di kantor ini, ia masih belum mendapat ijazahnya waktu itu. Namun, Alpha tidak pernah menyia-nyiakan golden ticket-nya dan membuktikan kemampuannya. 

Tiga tahun ia duduk di kursi yang hampir sama dengan kursi Ayah dulu. Meja yang berbeda, generasi yang berbeda, tapi tekanan yang entah kenapa terasa mirip. Target, deadline, client yang tidak pernah puas, proposal yang harus revisi berkali-kali, dan malam-malam lembur yang ia habiskan di kantor ini.

Dan di luar kantor — tagihan listrik, biaya sekolah dan kuliah, uang jajan Delta, kebutuhan Nayara, belanja bulanan yang semakin tidak masuk akal, belum lagi kondisi Gamma yang selalu membuat kepala Alpha pusing. 

That damn thing.

Uang.

Selalu uang.

Tiap kali ia dihadapkan dengan masalah finansial, berulang kali ia harus meyakinkan diri untuk tidak mencairkan asuransi jiwa Ayah. Padahal orang HRD di kantor ini menawarkan untukmembantu Alpha mengurusinya agar lebih mudah dan cepat dicairkan.

Ia kembali menatap layar. Melanjutkan lagi proposal campaign untuk brand skincare yang harus selesai besok pagi. Konsepnya sudah bagus, timnya sudah oke. Tapi pikirannya tidak bisa diam.

Gamma memang lebih sehat dibandingkan dua minggu lalu, ketika di rumah sakit. Namun karena cuaca yang tidak menentu, ditambah lagi Gamma yang menjadi super sensitif terhadap dingin, Alpha jadi sering mengecek adiknya yang satu itu setiap suara batuk terdengar di malam hari.

Belum lagi Delta makin sering pulang larut. Entah nugas, entah apa. Bahkan sering sekali Delta tertidur di meja ruang tamu dengan kertas-kertas yang berserakan.

Sierra mulai jarang cerita soal kuliahnya. Kesibukan Alpha juga membuat ia jarang untuk mendengar curhatan Sierra maupun Nayara.

Alpha menyandarkan punggungnya ke kursi. Menatap langit-langit kantor yang dingin dan terlalu putih. Kadang ia ingin berhenti. Bukan berhenti kerja dan resign. Tapi berhenti jadi yang paling kuat. Terasa sekali beratnya beban menjadi anak pertama sekaligus kepala keluarga.

Atensi Alpha teralihkan setelah tiba-tiba sebuah notifikasi masuk ke ponselnya. Tagihan otomatis yang terpotong dari rekeningnya. Ia langsung mengecek sisa saldonya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 23 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SkeletonsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang