10. Ah, hari yang mantap.

108 15 2
                                        

Bel sekolah berbunyi nyaring, seiring dengan para guru yang melangkah keluar kelas untuk beranjak ke ruangan mereka masing-masing. Jam istirahat kedua selalu paling berisik, paling ramai, namun paling menyenangkan disela kepadatan hari yang cukup menguras otak dan tenaga.

Kantin tumpah ruah oleh manusia-manusia kelaparan. Suara sepatu berdecit meyebalkan dari gesekan lantai bercampur dengan tawa dan teriakan. Ah, sekolah dan turbulensinya memang enggak akan pernah habis jika harus dideskripsikan.

Siang itu, seperti biasa, Delta sedang duduk di bangku paling belakang kelas, ditemani headset kabel - yang suara bassnya bocor - menempel satu sisi di telinganya. Buku catatan terbuka, hanya tergeletak dan dilirik sesekali, bukan benar-benar dibaca. Di meja juga ada dua lembar kertas kosong yang harusnya menjadi draft tugas persiapan ujian akhir. Belum tersentuh sama sekali semenjak kertas itu dibagikan sepuluh hari yang lalu.

Pintu belakang kelas tiba-tiba diketuk dua kali. Padahal pintu itu terbuka begitu lebarnya. Bukan ketukan minta izin. Lebih kayak... pengumuman kehadiran.

Tiga orang masuk. Harris, Bima, Marvin.
Orang-orang kasta atas di sekolah yang sering disebut "rich gang" - bukan cuma karena mereka kaya, tapi karena mereka juga anak-anak dari orang penting di negara ini. Alias anak pejabat.

Jam tangan mahal. Sepatu edisi terbatas. Wangi parfum yang terlalu mencolok buat ukuran anak sekolah. Belum lagi seragam yang nampak mewah - meskipun warna dan bentuknya sama dengan siswa kebanyakan, namun Delta menebak bahan baju yang mereka pakai sama sekali tidak seperti bahan seragamnya.

Kedatangan tiga anak ini mengundang atensi beberapa anak di kelas Delta. Namun Delta pura-pura enggak melihat. Sampai bayangan mereka berhenti tepat di depan mejanya.

"Del."

Delta melepas headset pelan. "Apa." Matanya masih enggan menatap ketiganya.

Harris duduk di kursi kosong depan mejanya tanpa izin. "Kita butuh bantuan."

Delta mendengus kecil. "Printer rusak?"

Bima ketawa pendek. "Lucu." Ejeknya sambil lengannya terlipat bersilang di depan dada.

"Printer rusak tinggal beli baru lah, ngapain kita minta lo benerin." tambahnya lagi dengan nada meremehkan.

Marvin yang sedari tadi hanya diam, tiba-tiba meletakkan map tebal di atas meja Delta.

Delta melirik dengan sudut matanya. Lembar-lembar soal latihan, draft esai, tugas analisis.

"Final exam project," kata Marvin santai. "Tenang, cuma tiga mapel utama."

Delta mengangkat alis. "Terus?"

"Ah pura-pura lo Del. Ya kita mau lo yang kerjain." tukas Bima enggak sabar. Langsung. Tanpa basa-basi.

Delta bersandar ke kursi sembari menghela nafas. "Deadline?"

"Ya besok lah, lo juga belom ngerjain kan?" tambah Bima sambil mengetuk-ngetukkan tangannya ke meja.

Delta hampir ketawa. "Lo bercanda?"

Lah dia aja tau gue belom ngerjain. Ucapnya dalam hati.

Harris menggeleng. "Nggak."

Delta menatap map itu lagi. Tebalnya bukan main. Padahal Harris, si ketua tiga serangkai ini bukan orang yang terbilang tolol, otaknya cukup encer, tapi entah apa yang membuat manusia di depan Delta ini malasnya setengah mampus.

"Gue aja belum kelarin punya gue," jawab Delta datar.

"Ya itu urusan lo." Lagi-lagi Bima menyolot.

"Dan lo pikir gue bisa kelarin tiga set tugas ujian akhir dalam semalem? Dikira gue Bandung Bondowoso apa?" ujar Delta tidak mau kalah. Kepalanya bisa pecah mengerjakan semua tugas-tugas jahannam itu dalam satu hari.

SkeletonsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang