"MIKEYYYYYY KENAPA KAMU BUNUH OREO, HAH?!"
Aku terbahak saat melihat Evel menatap layar TV dengan horror. Sebungkus oreo dengan rasa coklat yang sebelumnya berada ditangannya kini sudah jatuh dengan naas dikarpet rumahku, meninggalkan remah-remah hitam yang membuatnya kotor. Seharusnya aku kesal, namun aku malah meletakkan stick X-boxku dan tertawa lebar.
Ekspresi Evel saat ini benar-benar tidak bisa ditolerir!
"Argh, GORDON!!!" Bentaknya. Evel segera menjalankan stick milikknya sendiri sesudah mendaratkan pukulan ke lenganku yang masih tertawa. "Kenapa kau bunuh hewan lucu itu, hah?!"
"Bukan salahku, Lyn-Lyn!" Masih tertawa aku meraih stick-ku sendiri. Menjalankan lagi game yang hampir 2 jam ini sudah kami mainkan. "Salahkan Booty yang terlalu agresif!" Balasku, lalu tertawa lagi.
"Tapi kau yang menjalankannya, idiot!" Jawab Evel dengan mata yang masih terpaku pada layar TV dengan ekspresi yang serius. Dia menekan-nekan tombol di stick-nya, sebelum kembali mengumpat dengan kesal.
"Tuh kan, aku kan sudah bilang kalau Booty itu susah melahirkan dan sekarang kau malah membunuh Oreo! Bagus sekali pekerjaanmu, Gordon!"
"Sudah kubilang, salahkan saja Booty!"
Jawabku lalu tertawa lagi.Evel memutar bola matanya, "Terserah!" Jawabnya dan aku masih tertawa.
Okay, mungkin kalian bingung dengan pembicaraan kami dari tadi. Jadi, aku dan Evel hari ini memang berencana menghabiskan waktu untuk bersantai dan pilihan kami jatuh pada rumahku. Kami berencana melanjutkan game The Sims yang sudah kami buat lama sekali. Dan Booty yang kami bicarakan dari tadi adalah seekor anjing pug peliharan Sims kami yang sulit sekali memiliki anak, dan Oreo adalah anak anjing pertama dan terakhir Booty, yang baru saja aku bunuh dengan tragis.
Aku tau, aku tau. Kami memang sangat random.
Tetapi walaupun begitu, aku selalu suka dengan quality time-ku dengan Evel. Kami bisa melakukan hal apapum tanpa pernah merasa malu satu sama lain. Seperti halnya hari ini, mengingat aku harus kembali menjalankan tour dua hari lagi.
"Sudahlah, aku sudah tidak mood main!" Tiba- tiba Evel membanting stick Xboxnya -tetapi tidak sampai membuatnya pecah, tentu saja- lalu memakan dua potong oreo sekaligus sambil meraih bantal disamping dan merebahkan tubuhnya di karpet begitu saja. "Dan itu semua gara-gara kau, Michael Gordon!"
Melihat gerutuannya itu, aku jadi tersenyum sendiri. Kenapa Evel dilahirkan cantik sekali?
Beberapa menit aku masih memandanginya dalam diam. Namun tiba-tiba saja Evel melihatku menatapnya.
Dia menaikan alisnya, "Kenapa kau melihatku, hah?! Aku marah padamu, tau!"
"Oh ya?" Sekarang aku menaikkan alisku dan tersenyum jahil. Mematikan televisi lalu meletakkan stick. "Memangnya kau bisa marah padaku?"
"Ya tidak bisa sih, tapi- aku kan- ah!" Evel melempar remahan oreo dari tangannya dan memukulku pelan. "Sudahlah! Aku malas berdebat!" Lanjutnya.
Aku hanya tersenyum, lalu merebahkan kepalaku di perutnya yang tertutup hoodie. "Kau kan, memang malas dalam segala hal, Evel."
Evel berdecak kesal, "Tak usah menjelek-jelekanku begitu!"
"I'm not judging you," Jawabku sambil tertawa lagi. "Kau loh, yang mengatakannya."
"Ugh, cukup!"
Aku tertawa lagi.
Setelah itu, aku dan Evel tidak ada yang bersuara. Hanya sesekali terdengar suara remahan oreo yang masuk kedalam mulut Evel, dan kepalaku yang naik turun sesuai dengan perutnya karena bernafas.

KAMU SEDANG MEMBACA
Another World [oneshot]
Fanfiction"Take me to the place where you go, where nobody knows, if it's night or day.."