Fall : Luke Hemmings

169 10 2
                                    

Sore menjelang malam ini seharusnya menyenangkan bagi Luke, seharusnya. Jika saja dia fokus mengendarai sepedanya dan tidak jatuh terjerembab disalah satu selokan sempit dan berbau di salah satu gang dekat rumahnya.

Jangan salahkan Luke! Apa kalian tidak senang jika band kecil-kecilan kalian dapat kesempatan manggung disuatu acara, dengan imbalan yang lumayan untuk uang sakunya selama 3 bulan. Setidaknya, usaha Luke dan teman-temannya selama ini tidak sia sia kan?

"Ah, shit! " Luke berusaha mengangkat kaki kanannya yang sukses masuk kedalam selokan berlumut itu. "Sekalian saja sepeda tua ini bengkok dan tidak bisa dipakai lagi!"

Luke akhirnya sukses berdiri dengan kaki kanannya -yang sepertinya terkilir- dan luka-luka baret disekujur kakinya, bahkan sampai tangannya.

Luke duduk di trotoar sambil meringis saat luka di lututnya-yang paling parah- mulai perih. Dan seakan menambah penderitaannya, sepeda Luke benar-benar bengkok pada bagian stangnya dan mengharuskan Luke untuk mengangkatnya sampai rumah!

Apalagi setelah ini?!

Baru saja Luke ingin mencoba berdiri, kalau saja sebuah tangan tidak menyentuh bahunya terlebih dahulu.

"Kau tidak apa-apa?"

Suara itu membuat Luke menengadahkan kepalanya keatas, dan saat itu matanya melihat seorang gadis dengan mata hitam dan rambut panjangnya yang diikat satu.

Berbeda dengan ekspresi Luke yang senang, wajah cewek yang tingginya hanya mencapai pundak Luke itu malah menatap horor kearahnya.

Gadis itu ingin buru-buru pergi dari situ, kalau saja rasa iba-nya yang besar itu tidak mengambil alih saat melihat lutut Luke yang sudah dipenuhi darah terduduk persis didepan rumahnya.

Suatu kebetulan yang membawa bencana.

"Sa..sakit?" Gadis itu berjongkok takut-takut, sambil memperhatikan darah yang mulai mengalir dari lutut Luke. "Kau jatuh ya?"

Pertanyaan itu justru sukses membuat pikiran melantur Luke dalam hal mengingat wajah gadis itu. Luke menatap lututnya. "Begitulah."

"Mau...kuobati?" Tawar gadis itu pada Luke terdengar ragu.

Luke yang tadinya ingin mengipas-ngipasi luka di lututnya kini mengangkat wajah. "Memangnya bisa?"

"Kau terjatuh persis didepan rumahku." Gadis itu terlihat kesal, namun Luke dapat melihat wajahnya langsung berubah menjadi datar. "Dan jangan meragukanku dalam hal seperti ini. Aku sering melakukannya kok." Kata gadis itu lalu berdiri sambil mengulurkan tangannya didepan Luke.

Gadis itu sempat terperangah sesaat. Sejak kapan dia seberani itu? Berbicara empat mata dengan cowok yang paling dihindarinya satu sekolahan pula! kurang buruk apa?!

Dia ingin menarik tangannya kalau saja Luke tidak keburu menerima uluran tangannya dan ikut berdiri.

Luke memandang gadis itu heran. "Kau serius ingin mengobatiku? Rumahku tidak jauh kok dari sini dan lagipula-"

Gadis itu menggelengkan kepalanya, walaupun ragu, dia tetap berusaha tersenyum.

"Aku mau kok."

*****

"Terima kasih!" Kata Luke setelah Aimee persis selesai mengangkat tangan berisi kapas dari lututnya.

Karena tawaran dari Aimee tadi -nama gadis itu yang baru Luke tau lima menit yang lalu- yang disetujuinya, Luke berakhir duduk disofa merah marun nyaman di rumah Aimee.

Aimee menengadah, namun menemukan mata Luke sudah memandangnya dengan cara yang intens membuat Aimee kembali menundukkan kepalanya.

"Tak masalah kok." jawab Aimee pelan. "Mengobati bukan suatu masalah besar."

Another World [oneshot]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang