Perfect : Louis Tomlison

424 23 1
                                    

So, i dedicated this story to WildaYasin. Dan kata-kataku selalu sama, maaf kalo udh nunggu terlalu lama ya. Aku beneran amateur yang susah buat numpahin banyak kata sekaligus. Aku jadi malu sendiri open requestnya.

Makasih juga udh mau request ya..

By the way, enjoy the story!
xx

***

"Come on, Wilda! Kita tidak akan kebagian tempat di Cart-nya nanti!" Kataku setengah berteriak pada sahabatku ditengah tengah sesaknya festival musim panas yang diadakan setiap dua tahun sekali ini. Wilda -nama sahabatku sepanjang masa ini- menoleh, masih menekuk wajahnya saat melihatku tak sabar menunggunya di tengah antrian cotton candy yang bahkan didepannya masih terdapat 5 orang untuk bisa mencapai standnya!

"Sabar sedikit, Lou!" Wilda mulai tak sabaran juga melihat wanita paruh baya di barisan paling depan yang memakan waktu lebih dari lima menit hanya untuk memilih gulali itu, "aku benar-benar mau ini!" Rengek Wilda lagi.

"Iya, aku mengerti,Wil-wil. Tapi kita bisa membelinya setelah naik Cart!" bujukku mulai mendekat. Ugh, aku sih tidak mau yang disuruh berdesak-desakan di siang terik ini hanya untuk gulali. Sigh.

"Tapi bagaimana kalau kita kehabisan?" Tanya Wilda, mulai termakan juga dengan omonganku.
Aku berpikir sebentar, memutar otak agar bisa membuatnya keluar dari antrian dan langsung menaiki Cart edisi tahun ini.

"Oh! Aku punya ide!"

"Ide apa Lou?" Dia berteriak, berusaha mendengar ucapanku yang tertelan keramain.

"Begini saja!" Kataku sambil menyentil kepalaku dengan jari, terlihat sok pintar. "Kita-atau aku- akan bilang kepada penjualnya untuk satu gulali. Kita bilang saja dulu kita akan pergi sebentar lalu mengambilnya setelah naik cart!" Ucapku percaya diri dengan ideku yang cemerlang sekali kali ini, aku tersenyum sendiri.

"Jika kau mengikuti ideku, aku akan memberikannya bonus satu gulali lagi! Bagaimana?"

"Wah wah!" Wilda tanpa pikir panjang keluar dari antrian dan buru buru menggenggam tanganku yang terulur untuknya. "Harusnya dari tadi saja kau bilangnya!" Kata Wilda sambil melompat kesal yang membuat genggamannya diatas tanganku sedikit goyang.

Aku menunduk melihatnya yang bahkan ujung kepalanya hanya mencapai pundakku, lalu tersenyum lebih lebar melihat eratnya genggaman tangannya dibawah tangaku. Aku selalu suka cara kami bergandengan seperti ini. Her hand always fits in mine, seperti tangannya memang diciptakan-Nya hanya untukku.

Aku selalu suka itu.

"Kalau begitu ayo!" Tegasku, menariknya menuju penjaul gulali itu sebelum pergi menuju kerumunan orang memasuki Cart, yang barusan kulihat sudah sebagian penuh.

Aku mendekatkan wajahku ke Wilda. "Semoga kita masih dapat tempat!"

Wilda yang tadinya lesu langsung bersemangat "Kita pasti dapat!" Katanya sebelum tertawa kecil, yang membuat matanya sedikit menyipit dan timbul kerutan disekitar matanya. Dia selalu kesal jika kerutan itu muncul, namun bagiku itu indah, dan aku menyukainya juga.

God, why she always looks so perfect even when she doesn't even try it?

Gah.. Aku sudah tau apa yang kalian pikirkan, okay? Ya, aku benar-benar menyukainya, bahkan menyayanginya lebih dari sekedar rasa sayang seorang sahabat. Dan, itu dari dulu sekali, bahkan aku sampai lupa kapan rasa ini ada. Aku bukan orang munafik yang akan menyangkal perasaanku pada Wilda, berkata bahwa aku tidak menyukainya namun jika kau belum mengenalku-pun, kau akan langsung tau kalau aku menyayanginya. I don't talk bullshit, ini fakta.

Another World [oneshot]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang