Truth : Liam Payne

211 9 2
                                    

I dedicated this story to AngelStylinsoner42. This challenge is quite hard because i've never made fantasy-romance before, but hope you like it ;D

(the main idea is about Liam a vampire, thanks for the challenge!)

---

Aku menyukainya.

Bukan-bukan, mencintainya

Bagaimana menjelaskannya ya? Rasanya selalu berbeda jika dia ada didekatku, bahkan senyumnya saja bisa membuatku merona. Sebenarnya sudah lama sekali sih, namun aku saja yang terlalu bodoh baru menyadarinya.

Dan itu berarti aku mecintainya kan? Bukan dari segi senyum saja, sebenarnya. Aku menyukai segala tentangnya. Entah dengan sikapnya yang berwibawa, cara dia menatap sesuatu, bahkan phobia-nya terhadap sendok! Aku benar-benar mencintai segala tentangnya but, there's one problem that i need to tell to you,

He's Liam James Payne, and he is my best friend. My Best-est friend in the whole world.

Kau sering mendengar tentang persahabatan hancur hanya karena salah satu dari mereka menyukai sahabatnya sendiri kan? Aku tak mau hal seperti itu terjadi padaku dan Liam. Membayangkannya saja sudah membuatku merinding setengah mati.

Dan satu hal yang paling sulit mengenainya. He's mysterious, and too hard to be known, sometimes.

Aku yang bahkan dibilangnya sahabat pun tak pernah bisa mengetahui apa rahasia-rahasia dibalik senyumannya itu, sikapnya yang berubah-ubah dan, ya segala tentangnya itu memang misterius.

Pernah sekali wajahnya memerah menahan marah dan menekan buku-buku jarinya hingga memutih. Saat aku bertanya 'ada apa li?' Dia hanya menggeleng kecil lalu pergi.

Aku bahkan benci mengatakan bahwa aku sahabatnya, namun aku tak tau apapun tentang dirinya.

Tapi, walau bagaimana pun, aku tetap saja tidak bisa membalikkan fakta bahwa aku,

mencintainya.

***

Malam ini hujan mengguyur kota Wolverhampton.

Aku suka hujan, entah apa alasanya, namun tetes-tetes air yang meluncur secara perlahan kebumi itu bisa membuatku tenang. Ya, meskipun aku benci jika harus ada petir yang menemaninya.

Aku menggosok-gosok kedua telapak tanganku. Walaupun sudah terpasang penghangat ruangan di cafe ini, tetap saja dingin serasa menusuk kulit.

Aku memandang gelas dihadapnku yang terdapat bercak-bercak berwarna kecoklatan di pinggirnya. Bahkan segelas coklat panas itu tak bisa membuatku hangat.

Sekilas aku meliat ke jendela beberapa meja dari arahku. Hanya gerimis kecil sekarang, batinku.

Aku buru-buru membereskan barang-barangku yang berserakan di meja, memakai jaket tebalku lalu beranjak dari cafe setelah membayar semua pesananku.

Namun sesaat aku baru menginjakkan kaki di aspal hitam ini sekelibat bayangan hitam melewatiku. Bayangan itu seperti,.. berlari?

Apa lagi ini?

Kau tahu, aku bukan perempuan pengecut yang buru-buru berlari pulang lalu menyembunyikan diri mereka dalam selimut jika melihat sesuatu yang menyeramkan. Untuk itu, aku mengejarnya.

Aku berusaha berlari ketika bayangan itu menghilang dibalik tikungan jalan.
Sesaat aku sampai, aku tak bisa menyebunyikan bahwa aku sebenarnya sedikit takut. Hanya saja, rasa penasaranku mengalahkannya.

Aku berlari lagi ketika bayangan itu menghilang dibalik sebuah tembok. Tak lama aku mendengar sura teriakkan seseorang,

dan suaranya berasal dari sana.

Another World [oneshot]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang