Hey fella. I just read a novel which inspired me alot. Dan, aku jadi kepikiran buat bikin oneshot ini..
Hope you enjoy reading it :D
****
"Hey pendek." sapa laki-laki berambut pirang yang lewat dekat mejaku.
Ini bukan sapaan-sebetulnya- ini namanya sarapan pagiku. setiap hari.
Aku diam saja, pura-pura tidak mendengar dengan membaca buku novel roman yang baru kubeli kemarin. berhubung Valentine tinggal 7 hari dihitung mundur sekarang, suasanya pas kan?
"Stt! ndek! pendek!!" Si pirang itu malah terus melempar gulungan kertas yang sudah dikepalnya menjadi bola. dan itu sukses membuatku marah.
"STOP CALLING ME LIKE THAT!"
Teriakkanku yang menggema ke seluruh isi kelas sukses membutnya tertawa. Untungnya belum ada lagi murid yang berdiam di kelas selain aku- dan makluk penganggu itu dekat pintu.
Si pirang itu tetap tertawa, bahkan sampai memegangi perutnya. "Itu kan kenyataan, pendek. Terima saja!"
Aku menatapnya sebal, "apa sih maumu itu?" tanyaku saat tawanya setengah mereda.
"Mauku?" Dia mengangkat sebelah alisnya lalu berjalan menghampiri mejanya. Sekedar informasi, dia duduk disebelahku. Aku selalu sial, oke?
Untuk tahu lagi, nama bocah idiot ini adalah Niall Horan. Entah kerasukan apa jiwanya itu benar-benar sepeti setan yang dilahirkan dibumi untuk menganggu manusia. Dan manusianya itu aku, hanya aku. Sial lagi.
Niall mengaduk-aduk tas abu-abunya disebelahku, lalu mata birunya berbinar setelah mendapatkan apa yang dia cari. Astaga, memangnya jaman sekarang masih menggunakan surat, ya?
Aku pura-pura tidak peduli. Toh itu bukan urusanku juga!
Namun dugaanku sepertinya salah. Dia malah menarik novelku, menaruhnya, lalu tangannya terulur memberi surat itu dihadapanku, menungguku mengambilnya.
"Mauku adalah, kau memberikan jawaban untuk surat itu. Dan jika kau punya perasaan yang sama, aku menunggumu di taman pohon maple jam 5 sore, 7 hari dari sekarang. Get it?"
Jawaban? perasaan? 7 hari? apa lagi?!
Aku mengambil surat itu. Membacanya setelah melihat namaku ditulis dipojok kanan surat itu, memastikan kalau surat itu memang untukku.
Dan isi suratnya yang hanya bertuliskan beberapa baris kalimat itu sukses dadaku tertohok. dan pada saat aku menengadahkan kepalaku keatas, sosok Niall telah hilang ditengah murid yang berlalu lalang.
*****
Setelah insiden surat dua hari yang lalu, Niall seperti menghindariku.
Bukan-bukan, sepertinya, akulah yang menghindarinya..
Berkali-kali aku berusaha memandangnya yang duduk disebelahku. Namun dia biasa saja. mungkin menganggap itu hal yang tak perlu untuk diingat. Beda hal-nya denganku, surat itu benar-benar berefek besar!
Setiap aku melihatnya, aku semakin mengingat surat yang dia berikan dan tulisan didalamnya benar-benar tulisan laki-laki, tulisannya. Mengingat itu dengan sendirinya saja sudah membuat wajahku memanas.
Jika kalian bertanya apakah aku mulai memperhatikannya,
aku akan menjawab iya.
Entah bagaimana, setelah surat itu sampai ditangku, aku seperti merasakan hal lain dalam dadaku dan itu- menyenangkan..

KAMU SEDANG MEMBACA
Another World [oneshot]
Fanfiction"Take me to the place where you go, where nobody knows, if it's night or day.."